Senja

Kedatangan Fajar oleh Athena Hulya

Kedatangan Fajar

Baca cerita sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/perjalanan-setelah-senja-part-4-finish-oleh-athena-hulya/

Jakarta sedang macet-macetnya, perjalanan dari kantor menuju Maxx Coffee Pejaten Village yang biasa ditempuh selama 15 menit kali ini sepertinya akan lebih dari satu jam. Macet dan harus mendengar sambatan-sambatan Rei dan July untuk kemacetan Jakarta yang semakin hari semakin parah membuatku pening dan lebih memilih untuk mendengarkan musik instrumental yang ada di playlist ponselku. Kalau saja bukan karena mas Rian yang mengajakku bertemu, aku tak sudi bermacet-macetan seperti ini. Untung saja sudah berbuka puasa, kalau tidak tambah peninglah kepalaku.

Mas Rian ternyata sudah datang lebih dulu, membuat kami tak enak hati.

“Maaf, ya, Mas! Tadi macet parah,” ucapku pada mas Rian yang tersenyum menyambut kedatangan kami bertiga

It’s okay. Eh, tunggu seorang lagi, ya, temanku sedang menuju ke sini. Enggak apa-apa, kan, gabung?”

“Enggak apa-apa, kok.”

Mas Rian, July dan Rei asyik mengobrol. Sedangkan aku malah asyik membaca novel kesukaanku, My Name Is Red Khirmizi – Orhan Pamuk, novel yang sudah berulang-ulang kali kubaca.

“Hei, Nu! Sini,” panggil mas Rian sambil melambaikan tangan.

“Assalamualaikum, Rian,” ucap seseorang itu dengan logat medhok. Orang itu juga  menyalami kedua sahabatku, Rei dan July. July yang duduk di sampingku, menyenggol lenganku yang masih asyik membaca. 

“Na, itu.” July menunjuk tangan seseorang yang akan meminta bersalaman denganku.

“Oh, ya, saya Athena Mayla,” sahutku sambil berjabat tangan dengannya tanpa melihat wajahnya. Tak seperti biasanya kalau bertemu dengan seseorang yang baru kutemui dan berjabat tangan, aku selalu menatap mata. Tapi tidak untuk kali ini, aku hanya melihat bagian dadanya yang kulihat dia memakai kaus merah berlapis jaket jeans warna hijau dan mengenakan ransel senada dengan warna jaketnya. Entah kenapa saat kami berjabat tangan jantungku berdebar, merasakan sesuatu yang aneh, yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

“Hai, saya Kanu Arestian.”

Aku yang masih bingung dengan perasaanku, jadinya tidak begitu mendengarkan siapa nama orang itu. Mas Rian, July, dan Rei. Mereka bertiga melihatku dengan tatapan tajam. July kembali menyenggol lenganku lagi. “Na, dia itu violinist favorit lo bukan, sih?”

Aku yang bingung akan pertanyaan yang dilontarkan July hanya merespon dengan mengernyitkan alis.

“Na, tiap tahun, kan, lo selalu nonton orkestra di Taman Budaya Yogyakarta. Lo tahu, kan, violinist yang selalu main solo itu? Yang setiap ngebiola cuma terlihat tangannya, yang mukanya enggak pernah jelas terlihat karena redupnya lampu studio.”

“IYAAA, ORANG ITU ADALAH DIA. KANU ARESTIAN,” teriak Rei dan July sampai terdengar oleh seluruh pengunjung coffee shop.

Aku melirik ke orang yang kini duduk tepat di hadapanku. Ia tersenyum dan menatapku, menyebut namanya sekali lagi Kanu Arestian. Aku membalas senyumnya dengan wajah memerah yang dijadikan bahan ledekan kedua sahabatku. Mas Rian yang duduk di samping Kanu hanya tertawa kecil melihatku yang salah tingkah.

Bersambung …

20 Juni 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan