Senja

Kata Hati (Part 3 – Finish) oleh Athena Hulya

Kata Hati (Part 3 – Finish)

Sebelumnya di Kata Hati (Part 2) oleh Athena Hulya

Waktu berlalu, aku dan Kanu masih bersama. Hubungan kami layaknya pasangan LDR pada umumnya yang terkadang dibumbui pertengkaran disebabkan komunikasi. Ia yang kerap kesal karena aku yang selalu mementingkan pekerjaan daripada dirinya sampai aku mengabarinya beberapa hari sekali kalau ingat. Begitulah aku, workaholic. Lebih mengutamakan pekerjaan daripada apapun. Iapun menyebutku berubah, aku menjadi sosok berbeda yang tidak sama seperti dulu.

            Aku paham jika aku belakangan menjadi orang yang berbeda, seperti yang Kanu rasakan. Itu semua kulakukan karena kebimbangan yang menghantuiku setiap saat. Harus sampai kapan menjalani hubungan seperti ini, tidak diketahui keluarga. Aku menyayangi Kanu sebesar aku menyayangi keluargaku. Tindakan yang kulakukan akan menjadi bom waktu, cepat atau lambat akan meledak dan menyakiti di antaranya termasuk aku.

            Paksaan dari mama dan keseriusan Kanu atas hubungan kami membuatku kewalahan. Mama yang selalu memaksa inginnya dan Kanu yang berusaha keras meyakinkanku bahwa dialah orang yang tepat untukku, aku tak memungkirinya bahwa aku merasakan hal yang sama. Namun aku harus secepatnya mengambil keputusan, setiap keputusan yang diambil pasti ada  risiko yang mengikuti, bukan? Aku harus siap dengan segala konsekuensinya.

            Hal yang harus dilakukan antara menuruti kemauan mama dengan memutuskan Kanu lalu mendekatkannya pada Kak Neina, kutahu jika ia tahu penyebabnya ia akan marah besar padaku atau mengikuti hati yang meminta berkata sejujurnya tentang hubungan kami pada mama dengan resiko kemarahan mama dan tidak direstui olehnya karena mama amat sangat menyayangi Kak Neina, tak ada orang yang boleh menyakiti anak kesayangannya.

Apapun keputusan yang kuambil nanti semoga tidak ada yang tersakiti, jikapun ada cukup aku saja yang menanggungnya jangan orang-orang yang kusayangi itu. Melepas dan mengikhlaskan Abi saja aku mampu, cuma patah hati, masa iya tidak bisa menahan rasa sakitnya. Kata hatiku benar mengucap ‘jalani saja’, namun seharusnya kata itu tidaklah terucap. Biar saja sembunyi di balik hati dan terpatri di sana. Aku salah, seharusnya aku lebih bisa menahan rasa.

Bersambung .…

22 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan