Senja

Kata Hati (Part 2) oleh Athena Hulya

Kata Hati (Part 2)

Sebelumnya di Kata Hati (Part 1) oleh athena Hulya

Aku tidak tahu persis mengapa Rei tidak mengangkat telepon Kanu, mungkin karena ia merasa terganggu dengan Kanu yang sering menanyakanku padanya atau ada hal lain. Reipun nampak tidak senang dan menggertu saat tahu Kanu akan mengajakku gigs bersamanya. Begitulah Rei, ia tak pernah benar-benar menyenangi pria yang sedang dekat denganku. Seperti halnya Abi dulu, ia harus berusaha keras mengambil hati sahabatku yang terkenal menyebalkan.

***

            Hari ini, hari di mana aku dan Kanu bertemu. Kami akan gigs di salah satu balai resital di Jakarta, sebenarnya aku sangat takut bertemu karena belum menemukan jawaban yang pas untuk menjawab jika ditanya tentang pernyataannya beberapa waktu lalu. Aku benci ada di posisi seperti ini, harus mendengarkan kata hati atau kata mama. Jika aku mengikuti hatiku pasti akan ada hati yang kecewa dan terhalang restu mama. Jika mengikuti mama, aku harus membuang perasaan seriusku pada Kanu.

            Benar saja, setelah gigs berakhir ia menanyakan hal yang kutakutkan, lagi-lagi dengan tatapan mendalam ia menanyakannya. Tatapan teduh itu membuatku semakin dibuat kebingungan, Kanu memaksaku menjawab peryataan perasaannya. Apa yang harus kukatakan? Ah, rasanya ingin sekali kabur ke antartika atau berlagak lupa ingatan agar terlepas dari ini semua. Mama dan Kanu sama saja, mereka membuat otak dan hatiku harus bekerja lebih keras memikirkan jawaban yang tepat.

            Entah kenapa, “jalani saja” spontan keluar dari mulutku, itu adalah jawaban teraman menurutku. Terserah Kanu menanggapinya, jalani sebagai teman atau sebagai sepasang kekasih tergantung ia merepresentasikannya. Namun jika ia menanggapinya sebagai sepasang kekasih maka kuberharap tidak ada yang tahu hubungan ini, terlebih mama. Kutahu mengatakan kalimat itu adalah sebuah kesalahan, dan kutahu pasti sesuatu yang berawal dari salah akan berbuah ketidakbenaran.           

            “Terima kasih, kita berpacaran mulai sekarang!” Kanu menjawab dengan girang.

            Seperti dugaanku, ia merepresentasikannya sebagai Jalani saja sebagai kekasih. Jalani saja kini terngiang di otakku, membuat lega juga takut secara bersamaan. Takut dengan amarah mama, jika nanti ia tahu kalau aku bersama Kanu. Tapi biarkanlah, toh aku memang terkadang mengesampingkan kata mama dan tidak menurutinya. Aku lebih memilih kata hati sebagai jawabannya. Jika bersama Kanu memang sebuah kesalahan, kuharap kelak perpisahan kami berakhir pertemanan.

Bersambung…

15 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan