Senja

Kata Hati (Part 1) oleh athena Hulya

Kata Hati (Part 1)

Sebelumnya di I Liked You Before I Met You (Part 2 – Finish) Oleh Athena Hulya

            “Terus gimana?” tanya Rei yang sedari tadi mendengarkan ceritaku.

            “Enggak tahu, bingung!”

            “Bukannya lo juga suka sama dia? Ya terima saja, apa susahnya,”

            “Masalahnya keluarga gue enggak menyetujui hubunganku dan Kanu, Rei. Mama menyuruh menjodohkan Kanu pada kakak.”

            “Kak Neina? Ya, dia suruh cari sendirilah, memangnya Siti Nurbaya, dijodoh-jodohkan?”

            “Sebagai adik aku harus mengalah, bukan?”

            “Kak Neina suka juga?”

            “Iya,” jawabku lesu.

          “Hatimu gimana? Lo kebiasaan, Na. Mengalah untuk kebahagiaan orang lain, tapi orang lain tak memedulikanmu.”

            “Kebahagiaan orang lain lebih penting buatku. Hatiku? Ya, bisa diatur!” 

            “Salah, Na. Kebahagiaan lo jauh lebih penting! Setelah lo bahagia baru lo bisa  membahagiakan orang lain. Mementingkan diri sendiri terlebih dulu, Na!”

            “Bahagia? Bahagia macam apa yang saat kita bahgia, kebahagiaan itu malah menyakiti hati orang lain? Gue enggak bisa, Rei, bahagia di atas penderitaan orang,”

            “ATHENA!” bentak Rei. Tiap kali kucerita soal apapun, terlebih membahas cinta pasti berujung bentakkan dari Rei.

            Sebenarnya memang benar kata Rei, kuharus membahagiakan diriku sendiri baru membahagiakan orang lain. Tapi apa yang harus kulakukan, saat semalam curhat pada mama tentang Kanu aku disuruh menjauhinya dan memintaku untuk mendekatkan Kanu pada kakakku, Neina. Memang Kak Neina sudah berusia matang, ia sedang mencari jodoh dan iapun sebaya dengan Kanu. Tidak sepertiku yang terpaut 5 tahun dengan Kanu. Sampai pagi sebelum aku bertemu Rei-pun, mama masih membahas Kanu.

            ~Nada Dering, River Flows In You~

“Assalamualaikum. Kamu baik-baik saja, Na?” ucap Kanu di seberang.

“Ya, tentu,” jawabku singkat, sebenarnya aku tidak ingin mengangkat telepon atau membals pesan darinya karena teringat ucapan mama. Namun Kanu sudah menelepon dan mengirim pesan belasan kali, tak enak hati jika aku mengabaikannya.

            “Aku khawatir! Kamu benaran enggak kenapa-napa, kan? Barusan saya sampai telepon Reihan pengin tanya kabarmu, tapi di-reject terus olehnya,”

            “Heee? I’m okay, Nu!” ucapku sambil melirik ke Rei yang sedang duduk di hadapanku.

Bersambung…

9 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan