Karena Penulis Tak Cukup Hanya Menulis (Review Pelatihan SBMB Hari Pertama)

Karena Penulis Tak Cukup Hanya Menulis (Review Pelatihan SBMB Hari Pertama)

Kamu suka menulis? Ingin menjadi penulis? Apa saja yang diperlukan untuk menjadi seorang penulis? Ternyata banyak sekali hal yang harus diketahui oleh seorang penulis. Apakah masih ada yang mengira bahwa tugas seorang penulis akan selesai setelah rampung menyelesaikan naskah? Ternyata itu salah besar!

Begitu banyak hal yang saya pelajari dari pelatihan SBMB (Sehari Bisa Menulis Buku). SBMB? Iya, pelatihan kece yang sebenarnya sudah rutin diselenggarakan oleh Rumedia. Pelatihan yang satu ini sangat tepat untuk diikuti semua yang berkeinginan menjadi penulis. Terdiri dari dua hari acara pelatihan diselenggarakan secara online. Pematerinya adalah duo founder Nubar yang keren abis, ada Pak Deejay dan Pak Ilham Alfafa. Biasanya SBMB diadakan offline dan ini merupakan pertama kalinya diadakan secara online.

Saya akan langsung menjabarkan kesan yang saya terima dari pelatihan keren satu ini, di hari pertama, tepatnya tadi malam, pada tanggal 24 Agustus 2020, dari jam 20.00 sampai dengan 22.00. Pada awal-awal, jujur saja, saya tidak bisa berkonsentrasi 100% dikarenakan masih bekerja. Baru satu jam setelah webinar diadakan dan saya bisa kembali ke rumah, akhirnya saya bisa menyimak sampai tuntas.

Tips Kepenulisan dari SBMB

Sebenarnya kalau untuk teori menulis, tidak muluk-muluk, ya. Bagaimana cara mendapatkan ide, bagaimana harus memulai, itu semua mungkin sama seperti yang sering dibagikan narasumber. Hampir semua teori kepenulisan, intinya ya sama. Kamu harus mulai praktik menulis dengan menyingkirkan segala keraguan.

Namun, selalu ada hal baru yang saya dapatkan, termasuk dari pelatihan satu ini. Semangat yang tidak bisa dibagi hanya melalui tulisan semata. Karena saya bisa hadir, mendengarkan suara dan penjelasan runut dari kedua narasumber.

Satu hal yang melekat di pikiran, karena ini penjelasan dari pertanyaan yang saya ajukan. Bagaimana cara mempromosikan buku yang kita tuliskan? Ternyata jawaban dari Pak Deejay cukup membuat saya tercengang.

Seorang penulis tak cukup hanya menjadi penulis, tapi juga harus menjadi marketer bukunya. Banyak sekali kita temukan fakta bahwa seseorang setelah menulis, lalu tak lama tenggelam, nggak ketahuan lagi di mana rimbanya. Pastinya juga, buku yang dia tuliskan pun ikut tenggelam. Salah satu contohnya, kontributor Nubar sendiri. Pak Deejay mengatakan bahwa beliau pernah bertanya pada salah satu kontributornya, kenapa menghilang dan tidak menulis lagi.

Jawabannya? “Malas, ah. Udah nulis, disuruh beli bukunya.”

Seperti kita tahu, pada Nubar, kita menulis satu buku, bersama-sama dengan penulis lainnya. Setelah menulis, ada kewajiban bagi kita untuk ikut memesan buku tersebut, sebanyak minimal tiga eksemplar. Apakah syarat pembelian 3 eksemplar adalah berat? Bisa ya, bisa juga tidak.

Coba perhatikan, dari sekian banyak penulis yang ikut berkontribusi dalam satu event Nubar, seberapa banyak sih yang ikut mempromosikan hasil karyanya sendiri? Kenapa ada kontributor yang segera kehabisan stok 3 eksemplar buku yang dimilikinya bahkan lanjut melakukan order lanjutan, berulang kali?

Sebenarnya pembelian 3 eks buku ini justru bisa menguntungkan bagi kontributor sendiri, lho. Bukankah kita selaku penulis mendapatkan harga penulis, bila buku terjual, berarti akan langsung mendapatkan keuntungan. Sayangnya, kebanyakan mengira, promosi buku adalah kewajiban penerbit. Padahal salah besar!

Penulis tidak cukup hanya menulis, dia juga harus berperan sebagai marketer bagi bukunya sendiri. Termasuk ketika buku kita sudah mejeng di toko buku, sekalipun. Toko buku hanya menyediakan display, siapa yang wajib mempromosikan? Ya, penulisnya sendiri.

Pak Deejay berbagi mengenai pengalamannya saat pertama kali meluncurkan sebuah buku dan hadir di toko buku Gramedia. Apakah setelah peluncuran beliau hanya diam? Tidak. Pak Deejay berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya, untuk mengadakan acara bedah buku. Sebelum mempromosikan buku, kita perlu mengedukasi masyarakat, kenapa harus membeli buku kita. Itulah mengapa beliau mengadakan acara bedah buku, kebetulan buku yang ditulisnya merupakan karya non fiksi yang ditujukan untuk mengedukasi remaja.

Luar biasa, bukan. Bahkan seorang Pak Deejay pun mempromosikan bukunya dengan usaha. “Siapalah seorang Deejay, meskipun saya sudah menulis puluhan karya sebelumnya, namun saya bukanlah seorang Bambang Trim, seorang Kang Abik, seorang Andrea Hirata. Masih banyak orang di luar sana yang belum mengenal saya.”

Sampai sini, saya merasa tertohok. Berapa banyak sih, orang yang sudah mengenal Emmy Herlina? Berapa banyak sih yang sudah pernah membaca karya saya? Bagaimana mungkin saya mengharapkan buku saya akan laris terjual bila hanya nulis status sekadarnya saja di sosial media. Belum juga sampai keliling dan mengadakan bedah buku untuk karya saya sendiri.

Maka benarlah seperti yang diucapkan Pak Deejay, penulis tak selesai tugasnya setelah menulis. Penulis harus belajar cara mempromosikan bukunya. Penulis harus ikut serta berfungsi sebagai marketer. Bagaimana kita menginfokan kepada masyarakat bahwa buku yang kita tawarkan bagus untuk dibaca, bermanfaat untuk sesama.

Pak Deejay dan buku soloku “Teruntuk Putriku, Sophia

Wah, terbakar sudah semangat di dalam diri. Jadi tak sabar ingin mengikuti bagian kedua pelatihan SBMB yang akan diadakan malam ini.

Bandar Lampung, 25 Agustus 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan