Arti Kata Mudik

Karena Mudik Tak Terpengaruhi Corona oleh Emmy Herlina

Karena Mudik Tak Terpengaruhi Corona (Bila Kita Kembalikan pada Esensinya)

Pengertian mudik berdasarkan KBBI.kemendikbud.go.id adalah berlayar, pergi ke udik (udik bisa berarti hulu sungai atau pedalaman) atau bisa juga berarti pulang ke kampung halaman.

Aktivitas mudik banyak terjadi menjelang hari raya Idul Fitri. Pada tahun 2019 lalu terjadi peningkatan arus mudik pada H-5 lebaran, sementara proses mudik berjalan lebih lancar dibandingkan tahun sebelumnya. (Sumber: Kompas)

Seperti kita tahu, setelah sebulan lamanya berpuasa, berjuang meningkatkan takwa dengan mengencangkan hablumminallah (hubungan vertikal manusia kepada Allah), setelahnya pada momen lebaran saatnya kita mengencangkan hablumminannas (hubungan muamalah kita kepada sesama manusia).

Namun, ada yang berbeda di tahun ini. Adanya pandemi wabah global Covid-19 menyebabkan pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa kawasan di Indonesia. Penyebaran virus yang menyerupai Corona matahari ini bukan main-main. Per 6 Mei 2020, virus ini sudah menjangkit sejumlah 12.438 pasien, meningkat sebanyak 367 kasus baru dari sebelumnya. Sehingga beberapa provinsi di Indonesia sudah dinyatakan zona merah, termasuk kota kelahiran saya, Bandar Lampung. Larangan mudik telah dicanangkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka pencegahan penyebaran virus Corona. (Sumber: Detik)

Banyak yang menyayangkan adanya aturan ini. Terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh terpisah dari orang tua dan hanya memiliki kesempatan bertemu sekali dalam setahun, pada momen lebaran. Adanya aturan ini menjadikan banyak orang kehilangan kesempatan bertemu keluarganya masing-masing.

Benarkah larangan mudik mengurangi kebahagiaan kita karena tak dapat bertemu keluarga? Yakinkah kita siap untuk mudik dalam arti sebenarnya?

Banyak yang tak tahu esensi mudik yang sebenarnya. Mudik adalah menjalin ukhuwah dalam ikatan keluarga. Dalam aktivitas mudik, kita tak hanya bertemu untuk merayakan lebaran bersama, namun juga menjalin silaturahmi yang artinya saling memaafkan. Tak dapat dipungkiri, terkadang momen silaturahmi bisa menjadi ajang ketidaknyamanan bagi beberapa pihak.

Dimulai dari kaum jomlo yang selalu mendapatkan pertanyaan, “kapan nikah?” tiap kali kumpul keluarga besar. Atau bagi pasangan yang lama tidak diberikan keturunan, selalu mendapatkan pertanyaan, “kapan ngisi?”, “sudah coba terapi, belum?”, bisa jadi ada anjuran “butuh bantuan?” dan “nikah lagi sajalah,” yang dilontarkan sambil bercanda, tanpa sadar hal itu dapat menyakiti hati.

Bermaaf-maafan kemudian tak lama saling menyakiti lagi. Siapa yang pernah mengalami ini ketika saat semestinya manusia kembali fitri? (Saya pun pernah mengalaminya.)

Seorang pakar praktisi kesehatan mental yang sekaligus terapis saya dulu, Bapak Supri Yatno, pernah mengatakan bahwa bagi beberapa orang, momen berkumpul bisa menjadi faktor pemicu bangkitnya trauma masa lalu. Apalagi tidak semua beruntung mendapatkan keluarga yang sehat secara fisik maupun mental, beberapa ada yang tak sadar dibesarkan dalam lingkungan toksik, justru bersumber dari keluarga sendiri.

Tipe orang tua toksik di antaranya yang selalu menjelekkan anak sendiri, mengatakan anak tidak berguna, sering mengkritik, dan lain sebagainya. Tak hanya orang tua yang dapat berlaku toksik, kadang sikap ini timbul dari saudara kandung kita, saudara sepupu atau bahkan tetangga di sekitar rumah.

Apakah nyaman mudik dan bersilaturahmi untuk kemudian mendengar perkataan menyakitkan lagi? Yakinkah hati dan mental kita sudah siap sepenuhnya? Yakinkah mudik akhirnya bisa memperbaiki hablumminannas seperti yang selayaknya?

Pada akhirnya ternyata bukan corona yang menyebabkan kita tidak bisa mudik, melainkan faktor internal manusianya sendiri. Bukan corona yang menghalangi hablumminannas, melainkan hati kita sendiri.

Sudahkah kita memahami makna mudik yang sebenarnya? Sudahkah kita menyiapkan hati untuk bersilaturahmi? Sudahkah kita melapangkan dada membebaskan diri dari trauma? Sudahkah kita siap untuk kembali dari fitri, suci seperti bayi baru lahir? Sudahkah jiwa siap untuk terlahir kembali?

Esensi dari memaafkan itu sendiri pun harus kita pahami. Memaafkan berarti kita tulus mengikhlaskan segala pengalaman buruk, berarti kita siap bertemu dengan sang pemberi luka dan meskipun teringat kembali luka lama namun kita takkan terpicu. Bila maaf kita telah sampai pada esensi yang sebenarnya, inilah salah satu yang membantu kita untuk kembali suci, kembali pada fitrah manusia.

Ternyata, bukanlah perjalanan pulang ke kampung halaman yang terpenting dalam mudik, namun bagaimana kita benar-benar tulus memaafkan satu sama lain, yang menjadikan mudik benar-benar menjalin ukhuwah dalam ikatan keluarga. Karena mudik sejatinya tak terpengaruhi oleh corona.

Bandar Lampung, 7 Mei 2020

P.S. Sebuah pemikiran dari seorang yang sedang berjuang untuk memaafkan.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

40 comments

  1. Setuju sekali. Kita bersiap diri dan menerima apapun keadaan saat bertemu saudara, kerabat. Bahkan saat dengan tidak sengaja bahkan sengaja, seseorang mengenang suka duka masa kecil, sungguh kita membutuhkan kesiapan hati yang lapang:)

  2. Saya yang termasuk baru tahu kalau mudik itu merupakan singkatan dari menjalin ukhuwah dalam ikatan keluarga.
    Semoga pandemi ini bisa segera berakhir ya, dan kita bisa benar-benar mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga

  3. Mudik, menjalin ukhuwah dalam ikatan keluarga, berlaku di keluargaku Mbak Emmy. Tapi sayangnya tidak di keluarga suamiku. Ada konflik internal di keluarga besar yang sampai sekarang belum terselesaikan. Maka, mudik bagiku dan bagi suamiku punya arti berbeda

  4. Memang menyedihkan nggk bisa mudik. Apalagi yuni cuma bisa mudik setahun sekali.

    Tapi memaksa mudik pun bukan pilihan mudah.

    Hanya berharap semua segera membaik. Pun hati bisa menerima dengan ikhlas setiap penyebab sakit hati.

    Juga dengan tulus meminta maaf jika diri ini secara tak sengaja menjadi penyebab sakit hati orang lain.

  5. Menjalin ukhuwwah dalam ikatan keluarga, biasanya dilakukan pas libur panjang supaya ukhuwwah lebih solid dan pertemuan bisa lebih berkesan. makanya MUDIK serring dilakukan ketika libur lebaran, gitu ya mbak awal mulanya tradisi mudik itu. bagi yang masih punya orang tua, saatnya bertemu dan memuliakan keduanya.

  6. Aku baru tau mbak singkatan mudik ini. Setuju mbak kadang malah keluarga sendiri yng jadi toksik pikiran dan jiwa, jangan smp kita sepeti itu ke keluarga sendiri ya. Basa basi yang basi. Bedakan obrolan yang bs dikendalikan lawan bicara dan tidak, kaya kapan nikah, punya anak apalagi kapan lulus eh

  7. Mudik setiap lebaran memang jadi mengaburkan esensi idul fitri. Maaf-maafan sendiri lebih ke budaya kita ya, memang suka seperti ‘dipaksa’ memaafkan. Memang benar ketidaknyamanan itu ada. Semoga pandemi ini lebih memurnikan niat kita dalam beribadah di bulan Ramadan

  8. Tulisan yang bagus menurut saya mbak, banyak yang melupakan esensi mudik itu sendiri. Dikala disitu habluminanas yang memang benar² ditancapkan tapi sebagian orang lupa untuk itu. Terima kasih mbak atas tulisannya♥️

  9. Kalau saya, mudik tetap harus pulang kampung. Karena momen berkumpul klop 7 saudara plus buntut-buntutnya ya cuma bisa saat mudik id biasanya. Saat yang langka. Dan bersyukurnya, tak ada toksik. Malah semacam charger buat semangat lagi setelah berpisah.

  10. Masya Allah. Tulisannya bikin saya merenung Mba. Betul sekali esensi mudik ternyata ga hanya sekedar pulang ke kampung halaman saja ya, tapi juga bagaimana kita menjali silaturahmi dg keluarga.

  11. Baru tau setelah membaca tulisan ini tentang makna mudik. Yang penting keikhlasan dalam memaafkam ya. Walau jauh di mata tetap dekat di hati. Bisa tetap berkomunikasi dengan media telekomunikasi yang sangat mudah di jaman sekarang.

  12. sy termasuk segelintir org yg terjebak d jkt n tdk bs mudik. Sedih krn kami sekeluarga adalah kluarga perantau dan beda2 kota, ada yg d jkt, mks, palopo, dan tanjung pandan. momen lebaran adalah masa d mana kami sekeluarga kumpul full team. Syng tahun ini kami hrs merayakan lebaran d kota masing2

  13. Baru tahu kalau mudik itu ada maksud lain. Tahun ini saya nggak mudik, karena sudah pulang kampung sejak akhir tahun kemarin hehehe. Jadi bersyukur bisa kumpul keluarga di masa pandemi.

Tinggalkan Balasan