Kamu Menulis untuk Apa? (Emmy Herlina)

Kamu Menulis untuk Apa?

Pagi ini, kuwarnai hari dengan memberikan semangat pada salah satu grup yang sedang diselenggarakan event menulis antologi oleh salah satu PJ-ku.

“Gimana ya, bisa nulis sampai dua halaman? Belum ada bayangan.”

Well, selalu ada satu pengalaman pertama bagimu saat memulai menulis untuk pertama kalinya. Pertama kalinya menunjukkan tulisanmu pada orang lain, pertama kalinya tulisanmu dikoreksi, pertama kalinya tulisanmu akhirnya masuk ke dalam sebuah buku. Walaupun mungkin masih bersama-sama orang lain.

Seperti bayi, tidak ada yang lahir langsung bisa bicara, berjalan, atau memegang pensil/pena. Semua pasti berproses. Semua pasti menempuh suatu pembelajaran, yang mungkin berbeda tahapannya antara satu sama lainnya.

Begitu juga dalam menjadi penulis. Kamu ingin menjadi penulis, ya nulis! Segera tuangkan apa yang ada dalam pikiranmu. Mau kamu dilatih penulis profesional sekalipun, mau kamu ikut pelatihan nulis bertarif juta-juta sekalipun, kalau enggak mulai praktik dari sekarang juga, kamu enggak akan pernah jadi penulis.

Masih merasa buntu, ya bacalah. Sesuai dengan perintah Allah yang pertama kali diturunkan dalam Alquran, “Iqro,” yang berarti, “bacalah!” Pembaca memang belum tentu menjadi seorang penulis, tapi penulis mau enggak mau harus menjadi seorang pembaca. Menulis tanpa hobi membaca hanya akan menghasilkan naskah yang kering kerontang. Sesuaikan bacaan dengan naskah yang ingin kau buat.

Ingin menghasilkan kisah inspirasi, maka perbanyak membaca tentang true story, biografi, memoar dan sebagainya.

Ingin menghasilkan novel, enggak mungkin kamu enggak gemar membaca novel, kan?

Masih mager juga? Sok atuh, tanya pada diri sendiri. Kamu menulis untuk apa?

Cuma buat namatin challenge abis itu udah?

Cuma buat ngalahin tetangga kamu yang kebetulan bukunya sudah terbit, terus jadi bahan omongan pas arisan, terus kamu iri, pingin ikutan nulis juga biar dipuji-puji tetangga juga?

Atau sekadar coba-coba, karena selama ini kamu tipe pembaca gratisan yang meremehkan penulis yang ngamuk setelah diplagiat dan menganggap, “lah, anggap aja bagi-bagi ilmu, lho, jadi amal jariyah. Kayak nulis itu sulit aja, loh.” Lantas setelah kamu coba sendiri, ternyata sebuah kata pun tak muncul. Haha.

Ya kali, ibarat kamu jual gorengan, rela gitu, gorengannya dibagi-bagi trus kamu enggak dapat duit sepeser pun. Kalaupun niat untuk memberi, bukannya hambur-hambur tiap hari, kan. Emang bikin gorengan enggak perlu modal? Nah, gitu juga dengan menulis. Perlu riset, perlu kuota HP, perlu listrik buat nyolok laptop, itu semua modal. Belum lagi cemilan wajib indomi plus kopi, yang sering disantap waktu ngetik, eh, itu mah gue, ya. Haha.

Makanya juga, hal yang sama aku pernah menuliskan sebuah artikel, berjudul: “Tujuh Hal yang Akan Membuat Anda Berpikir Ulang Saat Ingin Menjadi Penulis.”

Artikel ini pernah saya muat dalam satu web, yang semestinya berbayar, namun fee saya lama tidak dibayar-bayar sampai akhirnya webnya sendiri bangkrut. Akhirnya saya putuskan untuk memasukkannya dalam sebuah buku antologi bersama dengan Manajer Area lainnya, dan PJ pilihan Pak Ilham Alfafa. Ceritanya profil kami bahkan sudah dimuat lebih dulu di buku sebelum tulisannya kelar, haha. Intinya, kami ditodong bapak founder. Wkwk.

Cover Buku aksara dan keabadian
Sumber: dokumen penerbit rumedia

Baiklah, akhir kata, temukan tujuan dan your biggest why, kenapa menulis? Jujurlah pada diri sendiri dalam menjawabnya. Jika alasan itu sudah kau temukan, maka penghalang macam apapun akan bisa kau lewati dengan baik.

Bandar Lampung, 21 Juni 2020

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

3 comments

  1. Saya jg udah bikin tulisan kenapa menulis versi saya di blog haha. Bener sih namanya mau jadi penulis pasti harus tau ya kenapa akhirnya menulis. Makasih mba sharingnya

    1. Mba Emmy. Duh saya merasa dicubit cubit saat baca tulisan ini. Padahal gak perlu banyak alasan untuk bisa konsisten. Temukan the biggest why mu dan itu akan jadi alasan satu2nya untuk bisa terus menulis.

      Thanks mba Emmy for remind me

  2. Hihihi mak jleb banget pas bagian bagi-bagi gorengan. Ya kalik tulisan hasil mikir berhari-hari trus dinikmatin orang sedunia kitanya cuma gigit jempol bocah. Kan nyesek!

    Tulisannya nampol banget mba Emmy.. thanks for tranfering this positive vibe! Sukses selalu ya..

Tinggalkan Balasan