Kuburan

Kakek Yang Tersenyum (Athena Hulya)

Kakek Yang Tersenyum

            “Badanku capek banget, nih!” keluhku pada Fenny teman sebangkuku.

            “Yaudah, nanti pulang sekolah kita langsung pulang saja! Nggak usah les hari ini.”

            “Oke!”

Teng Teng Teng, bel sekolah berbunyi. Aku dan Fenny setiap hari berjalan kaki saat berangkat maupun pulang sekolah. Namun berbeda dengan hari ini rasanya malas sekali untuk berjalan, mungkin karena capek. Semalaman begadang unuk menyelesaikan artikel dan juga puisi yang harus di publish pagi tadi di mading sekolah. Di tengah jalan menuju rumah, terdapat bendera kuning tertanda ada orang meninggal di daerah tersebut.

Semakin berjalan ke depan melewati bendera kuning itu, Fenny menceletuk  “Oh,  di sini orang yang meninggal itu!”

Aku yang sepanjang jalan menunduk seketika menoleh ke arah yang Fenny maksud. Terdapat banyak orang yang sedang lesehan membaca ayat-ayat al-qur’an di depan rumah. Namun ada seorang kakek berdiri terdiam di pinggir pintu masuk. Kakek itu memakai baju koko beserta sarung dan kopiah. Ia tersenyum padaku, akupun membalas senyumnya

“Woy, Na, lo senyam-senyum sama siapa?” tanya Fenny.

“Itu kakek yang di depan pintu!”

Fenny celingak-celinguk kebingungan mencari kakek-kakek yang kumaksud. “Kakek yang mana?”

“Itu di rumah yang ada bendera kuning!”

“Mana, sih, Na! Enggak ada kakek-kakek di sana!”

“Ada, itu siapa?” Aku menunjuk ke arah kakek yang kini menengok ke arah orang-orang yang sedang melayat.

“Mana! Enggak ada!” ucap Fenny kesal karena ia tidak melihat apa yang kulihat.

Fenny membeli minuman dingin di warung yang letaknya beberapa rumah dari rumah tersebut. Kamipun mendengar percakapan antara pemilik toko dengan seseorang lainnya kalau yang meninggal di rumah tersebut adalah seorang Pak Haji yang meninggal saat sedang salat duha.

“Apa mungkin kakek yang kulihat adalah roh dari Pak Haji yang penjual itu maksudkan?” tanyaku dalam hati. Akupun menoleh lagi ke arah kakek itu, ia masih berdiri dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.

“Fen, lo yakin nggak lihat kakek yang gue lihat?”

“Enggak, Na!” jawab Fenny, akupun berjalan cepat mendahului Fenny dengan pikiran yang masih bingung dengan sosok kakek itu.

25 July 2020

Nulisbareng / Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan