Gerandong

Jenglot oleh Athena Hulya

Jenglot

            Malam itu hanya tersisa lima orang saja di pabrik, aku dan empat karyawan di gudang. Pabrik itu adalah pabrik vulkanisir ban tempatku bekerja yang telah berdiri sejak puluhan tahun lalu di daerah pingir kota. Menurut orang-orang yang bekerja di sana banyak sekali penunggunya, aku sering kali mendengar benda-benda yang bergeser dan suara tangisan seorang wanita dari arah gudang penyimpanan ban.

            “Mbak Neina lembur, ya?” tanya seorang karyawan penjaga gudang.

            “Iya, masih ngerekap data ban-ban yang harus diserahkan besok.”

            “Mbak, kamu merasa ada yang beda nggak, sih, malam ini? Kayak dingin gitu, ya!”

            “Enggak, biasa saja,” tegasku, padahal memang aku merasakan hal yang sama.

            Saat kami sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, terdengar bunyi bruk bruk bruk seperti suara orang berjalan terburu-buru. Aku yang sudah terbiasa mendengar suara seperti itu, masih fokus dengan pekerjaan. Namun empat orang lainnya merasa terganggu, mereka berempat pun melihat sekeliling namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

            Bruk bruk bruk, suara itu terdengar lagi. Kali ini membuatku kesal. Karena sebelumnya di sekeliling gudang sudah dicek oleh empat orang tadi. Aku memutuskan untuk mengecek di area luar pabrik, di bagian depan tidak terdapat keanehan apapun hanya ada pak satpam yang sedang asyik nonton TV dan juga truk-truk yang terparkir.

            Menuju ke area belakang, suara itu semakin keras terdengar. Ternyata sumber suara tersebut dari sebuah pohon jati besar yang letaknya persis di samping gudang, area pabrik bagian belakang. Pohon bergoyang-goyang kencang, padahal angin tidaklah kencang terlihat dari pohon-pohon yang lain di sekitar pabrik yang hanya terkena semiliran angin saja.

            “Kupikir ada yang sedang berlari-lari ternyata hanya suara pohon terkena angin,” batinku.

            “Mbak, itu apa, ya?” tanya seorang karyawan yang ternyata sedari tadi mengikutiku.

            “Mana?”

            “Itu, Mbak! Kayaknya berjalan ke arah sini, deh!” tegasnya sambil menyorotkan lampu senter ke arah bawah pohon jati itu, akupun melihatnya. Pertama kali terlihat sosok itu terlihat hitam dengan mata merah menyala yang tingginya kurang lebih satu jengkal. Semakin lama disorot sosok itu semakin tinggi menjulang, yang sebelumnya sejengkal kini tingginya melebihi bangunan pabrik.

            Kami terdiam, ingin berdoa namun bibir terasa kelu. Sosok itu semakin mendekat ke arah kami. berbadan hitam legam, mata terbelalak berwarna merah menyala serta mulut yang terbuka lebar dengan taring yang panjang. Kalau dapat dideskripsikan, sosok itu terlihat seperti Barong Bali yang biasa dilihat di pertunjukan seni.

            Praaakk, bunyi ban jatuh. Aku kaget dan beristigfar, sedangkan penjaga gudang yang mengikutiku ia seketika pingsan. Setelah kejadian itu kami berdua sakit, orang-orang di pabrikpun dibuat heboh dengan sosok yang kami lihat.

18 Juli 2020

Nulisbareng/Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan