Info Covid19 Periode 23 Mei 2020

Jangan Katakan Indonesia Terserah, Bila Ingin Memberantas Wabah oleh Emmy Herlina

Jangan Katakan Indonesia Terserah, Bila Ingin Memberantas Wabah (Emmy Herlina)

Indonesia terkena wabah! Sekolah ditutup. Sejumlah kantor ikut ditutup, atau minimal dibatasi jumlah karyawannya. Ada yang WFH (work from home), sementara kami, para petugas RS kudu lanjut melakukan pelayanan dengan jumlah pasien meningkat setara dengan meningkatkan pemakaian APD (Alat Pelindung Diri). Katanya sih, semua ini terjadi karena adanya virus Corona.

Waduh, sampai separah itu? Yup. Karena hingga saat ini di beberapa daerah masih dinyatakan zona merah. Semua masyarakat dianjurkan untuk tetap di rumah sekalipun untuk beribadah tak boleh keluar. Kalaupun terpaksa keluar, harus menggunakan masker.

Kapan, dong, bisa bebas dari wabah? Kapan, dong, wabah berlalu dan Indonesia kembali seperti sedia kala?

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/seandainya-para-pekerja-wfh-work-from-hospital-kelelahan-oleh-emmy-herlina/

Jika ingin mencari solusi kapan wabah segera berlalu, baiknya kita pahami terlebih dahulu, apa itu Corona, dan segala sesuatu mengenainya.

Teman-teman sekalian sudah pernah dengar, kan apa itu Covid-19? Atau pastinya pernah dengar namanya virus Corona, kan? Atau ada yang belum pernah dengar? Rasanya tidak mungkin, ya, kalau ada yang belum pernah mendengar virus yang sudah menggegerkan dunia. Namun, mungkin masih ada yang belum memahami secara detil bagaimana bahayanya virus ini hingga sudah menyebar ke beberapa negara, hingga sudah sampai di Indonesia.

Bagaimana sih, awal mulanya terjadinya penyebaran virus Corona ini?

  1. Pada 31 Desember 2019, berawal di kota Wuhan, Cina, dilaporkan 59 kasus dengan gangguan pernapasan (pneumonia) dan dirawat di RS. Kejadian ini menimbulkan 7 orang dalam kondisi kritis.
  2.  Pada 9 Januari 2020 diketahui penyebab dari penyakit yang melanda di Wuhan, Cina tersebut adalah Coronavirus, yaitu jenis virus baru yang masih satu family dengan virus penyebab SARS dan MERS. Kenapa dinamakan coronavirus? Sebab bentuk virus ini menyerupai corona matahari.
  3. Pada 27 Januari 2020, WHO melaporkan bahwa sudah terjadi penularan terbatas dari manusia ke manusia (kontak keluarga) dikonfirmasi di sebagian besar kota Wuhan, Cina dan negara lain. Jadi saat ini, virus sudah mulai tersebar ke negara lainnya, nih.
  4. Pada 30 Januari 2020, WHO menetapkan 2019-nCoV sebagai PHEIC/KKMMD. PHEIC adalah Public Health Emergency of International Concern yang artinya kedaruratan kesehatan yang menjadi perhatian internasional.
  5. Akhirnya pada 12 Februari 2020, WHO sebagai badan kesehatan dunia menetapkan 2019-nCoV menjadi Covid-19 yang merupakan singkatan dari Coronavirus Disease 2019.

Lalu, bagaimana cara mendeteksi adanya penyakit ini?

Gejalanya antara lain: timbul demam, batuk, sesak napas. Virus akan lebih mudah menginfeksi orang tua dan orang dengan imunitas rendah.

Bagaimana dengan cara penularannya? Yaitu melalui percikan saat batuk atau bersin (droplet). Droplet ini bisa menjangkau hingga 3 meter. Sementara airborne (partikel yang lebih kecil dan menyebar di udara), bisa menjangkau hingga 6 meter. Perpindahan droplet ini juga bisa menyebar dari tangan ke lingkungan sekitarnya (semua yang dipegangnya) dan menginfeksi orang di sekitar.

Untuk masa inkubasinya sendiri mulai dari 1 hari dan yang terpanjang 14 hari. Bagaimana menegakkan diagnosa penyakit ini adalah melalui pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa pemeriksaan darah, swab dahak.

Ada dua istilah yang sangat terkenal pada masa wabah pandemi COVID-19 ini. Yang pertama PDP kepanjangannya Pasien dalam Pengawasan. Yang kedua adalah ODP atau Orang dalam Pemantauan.

Lantas apa yang membedakan antara kedua hal ini:

Pasien dalam pengawasan adalah seseorang yang mengalami gejala berupa demam atau ada riwayat demam, batuk/pilek/nyeri tenggorokan, pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis atau gambaran radiologis. Juga pastinya memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara terjangkit pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala.

Nah, lalu apa yang dimaksud dengan Orang dalam Pemantauan? Yaitu seseorang yang mengalami gejala demam atau ada riwayat demam, atau ISPA tanpa pneumonia dan memiliki riwayat perjalanan.  Jadi hal yang menjadi pembeda antara keduanya adalah ada atau tidaknya pneumonia.

PDP seperti kita ketahui, dia sudah berstatus sebagai pasien. Dengan adanya gejalanya pneumonia, maka PDP harus menjalankan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut serta dirawat di ruang isolasi RS dengan fasilitas yang memadai.

Saat mengetahui ada pasien dalam pengawasan, petugas kesehatan akan bertugas menginvestigasi keluarga maupun petugas kesehatan yang sudah melakukan kontak erat dengan beliau. Kontak erat yang dimaksudkan berlangsung selama 14 hari dari kontak terakhir.

Definisi dari kontak erat ini adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam ruangan (bercakap-cakap dalam radius 1 meter dengan pasien dalam pengawasan, probabel atau konfirmasi).

Termasuk kontak erat ini adalah:

  1. Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di tempat perawatan khusus.
  2. Orang yang merawat/menunggu pasien di ruangan.
  3. Orang yang tinggal serumah dengan pasien.
  4. Tamu yang satu ruangan dengan pasien.
  5. Orang yang bepergian dalam satu alat angkut.
  6. Orang yang bekerja bersama pasien.

Wah, kebayang, kan, makanya virus ini bisa dengan mudahnya tersebar.

Mereka yang pernah melakukan kontak dengan PDP juga sudah termasuk ODP yang harus melakukan isolasi mandiri di rumah.

Untuk orang dalam pemantauan (ODP), akan dievaluasi secara berkala apakah ada pneumonia/perburukan gejala selama 14 hari. Apabila gejala berlanjut maka ODP harus segera dirujuk ke RS rujukan. Namun bila tidak, ODP meneruskan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Alhamdulillah sudah diberlakukan social distancing oleh pemerintah sejak Maret 2020, dengan kebijakan Working from Home atau WFH bagi beberapa pekerja, serta sekolah daring bagi pelajar Indonesia, yang kini diperpanjang hingga 30 Mei 2020 mendatang. (Bisa jadi akan diperpanjang, tergantung situasi dan kondisi). Di tempat kerja saya sendiri, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek yang merupakan rumah sakit pusat rujukan se-provinsi Lampung sudah meniadakan jam besuk yang berlaku sejak 17 Maret 2020 dan membatasi penunggu pasien hanya maksimal 2 orang per pasiennya.

Stop Corona
Sumber: Kompas

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat agar wabah di Indonesia segera berlalu?

Patuhilah peraturan pemerintah. Bila memang kondisi memaksakan kita untuk keluar rumah, jangan lupakan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi. Di antaranya; rajin mencuci tangan dengan sabun, jaga kondisi diri dengan mengkonsumsi makanan gizi seimbang, rajin berolahraga, berjemur di bawah sinar matahari, perbanyak konsumsi air putih, selalu gunakan masker dan menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter (lebih bagus lagi 3 meter, ingat aturan penularan melalui droplet yang bisa menjangkau 3 meter, bahkan airborne bisa menjangkau sampai 6 meter).

Baca juga CERDIK pangkal Sehat di sini https://parapecintaliterasi.com/cerdik-pangkal-sehat-oleh-emmy-herlina/

Tidak lupa selalu mengganti pakaian setiap baru tiba dari luar rumah. Jangan duduk/bersandar di rumah, sebelum kita mengganti pakaian dan membersihkan diri. Langsunglah merendam pakaian yang kita gunakan saat ke luar rumah.

Tapi ingat, jangan juga kita menjadi paranoid berlebihan yang akan menurunkan imun. Ingat selalu tahapan CERDIK (seperti pada link artikel yang saya share di atas), untuk menjaga kesehatan kita semua. Cek kesehatan, enyahkan rokok, rajin berolahraga, diit sehat, istirahat cukup dan kelola stres.

Ingat juga, bahwa tidak semua yang positif terkena penyakit ini, mengalami gejala yang sudah saya sebutkan di atas. Beberapa penderita tidak mengalami gejala (biasa disebut juga dengan OTG atau Orang Tanpa Gejala). Namun saya bocorkan bahwa ada pemeriksaan yang bisa kita lakukan sendiri, yaitu: di pagi hari, tarik napas dan tahan selama 10 detik. Bila tidak ada batuk atau tidak merasa tidak enak, berarti tidak ada infeksi. Teman-teman bisa lakukan ini di setiap pagi dan pada saat udara bersih.

Begitu berbahayanya virus ini hingga sudah dinyatakan sebagai bencana melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-Alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid19) Sebagai Bencana Nasional pada tanggal 13 April 2020 (Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB).

Di provinsi Lampung sendiri, per periode 23 Mei 2020, sudah terdapat 105 penderita positif Covid19, dengan rincian 36 orang sudah dinyatakan sembuh dan 62 orang lainnya masih dalam perawatan, sementara sudah 7 orang meninggal dunia. Sedangkan PDP berjumlah 98 orang, 18 orang sudah meninggal dunia dan 14 orang lainnya masih dalam perawatan. Untuk ODP sendiri sudah mencapai angka 3139 orang, dengan rincian 3055 sudah dipantau selama 14 hari, 79 orang masih dalam pantauan, dan 7 orang meninggal dunia. Untuk penderita nomor 102 hingga 105 merupakan OTG (Orang Tanpa Gejala) namun sudah didiagnosis positif Covid19. (Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Lampung)

Nah, sudahkah teman-teman mendapatkan jawaban setelah membaca artikel ini? Ataukah masih merasa jenuh, bosan, merasa tak adil dan tak suka dengan aturan Social Distancing? Apakah memilih bersikap masa bodoh, seperti tagar yang sedang viral saat ini: #IndonesiaTerserah. Lantas, wabah di Indonesia sampai kapan? Kapan Covid19 berlalu dari negara kita? Jawabannya kembali ke masyarakat, kembali ke diri kita sendiri.

Mau merasa diri punya imunitas bagus, jangan lupa, ketika Anda terinfeksi, bisa jadi Anda tidak mengalami gejala-gejalanya, lalu tanpa disadari menularkannya pada orang lain yang kondisi imunnya lebih rendah dari Anda. Saya rasa dengan menjadi carrier bukan hanya penyakit yang Anda sebarkan, namun juga akan menjadi dosa jariyah bagi Anda. Anda masih sehat walafiat, dengan virus yang berada dalam tubuh namun tidak Anda ketahui, namun ternyata sudah menularkannya kepada orang tua renta yang menjadi tulang punggung di keluarganya, atau seorang ibu yang kebetulan sedang mengandung bayi di rahimnya. (Teringat berita seorang perawat yang sudah menjadi almarhumah beserta janin yang dalam kandungannya. Sumber: Tribunnews).

Meskipun begitu, saya salut dengan perjuangan tenaga kesehatan, terutama mereka yang berada di garda terdepan. Mulai dari dokter, perawat, bahkan sampai ke tenaga lainnya yang turut berjuang dengan bidangnya masing-masing, seperti tenaga laboratorium, cleaning servis, bagian pendaftaran, bagian adminstrasi, jangan lupa mereka juga punya resiko dengan adanya kontak, baik kontak langsung maupun tidak langsung (melalui keluarga pasien).

Kami, para tenaga kesehatan tidak bisa bilang #IndonesiaTerserah. Kami punya tanggungjawab untuk meneruskan perjuangan kami melayani masyarakat demi terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Mungkin dengan melihat video ini, teman-teman bisa lebih memahami seandainya berada di posisi kami:

“Jangan Menyerah Perawat Indonesia” dari Channel YouTube Eka Iriyanto, salah seorang perawat RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung

Bandar Lampung, 24 Mei 2020

Sumber:

  1. Seminar kesehatan nasional “Trend dan Issue Bahaya Corona Virus terhadap Kesehatan” oleh Bpk. Ismen Mukhtar, SKM., M. Epid. dan Ns. Ibu Meni Kurniasih, S. Kep. pada tanggal 29 Februari 2020.
  2. Webinar “Kepemimpinan Daerah dalam Tanggap Covid19” oleh Dr. Atikah Adyas, SKM., MDM.AAK.CHIP, CHIA., Dr. dr. Endang Budiati, M. Kes., dan Dr. dr. Aila Karyus, M. Kes., pada tanggal 20 Mei 2020.
  3. Yusuf, Mohamad. 2020. Wartakota: Kisah Suster Ari, Positif  Covid19 yang Akhirnya Meninggal Dunia Bersama Bayi dalam Kandungannya. https://wartakota.tribunnews.com/2020/05/18/kisah-suster-ari-positif-covid-19-yang-akhirnya-meninggal-dunia-bersama-bayi-dalam-kandungannya. Diakses tanggal 24 Mei 2020.

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

14 comments

  1. Yang sadar pentingnya jaga diri selama wabah juga banyak, Mbak. Tapi sejumlah orang yang tidak peduli itu yang memang bisa mencelakakan masyarakat. Belum lagi provokator sosmed yang suka heboh. Dilarang mudik protes, dilarang kumpul protes, PSBB mau dilonggarkan dengan catatan juga protes. Padahal, kalau semua mau bekerja sama, mungkin cepat reda wabahnya.

  2. Kata Indonesia terserah mungkin ada karena perasaan lelah dari orang orang yang taat pada aturan yang di kemudian hari banyak orang orang yang tidak lagi menganggap ada aturan.

    Dengan adanya wabah ini aku lebih memilih safety dulu pada diri sendiri dan keluarga.

    Dengan harapan semoga lekas berlalu dan kembali hidup normal

  3. Dilemanya pemerintah krn warganya juga ssh diatur dan mrk sendiri gak bs jadi panutan. Ngerasain betul suami mau balik pas emak wafat pakai prosedur yg bener ribet bgt walau akhirnya bisa. Sementara mereka yg dekat dg pejabat n bawa surat sakti juga enak melenggang pulang tanpa beban. Jadi siapa yg salah? Tinggal jaga kesehatan msg2 heu heu. Semoga terhindar dari wabah. Aamiin

  4. Idealnya, pemerintah jelas dan konsisten dengan kebijakan serta memberikan edukasi terus menerus kepada masyakat dan masyarakat saling mengingatkan, mendukung dan lebih mementingkan keselamatan bersama.

    Satu hal yang sedang saya tunggu, adanya data jelas tentang pasien covid-19 dengan status positif dan meninggal: usianya, profesi, status sosial, lingkungannya dan penyakit yang menyertainya. Dengan data ini, masyarakat akan lebih paham, waspada tanpa paranoid, karena bagaimanapun kehidupan harus tetap berjalan, bukan?

    Semoga Mbak Emmy selalu sehat dan semangat, mengingat tugas di lingkiungan yang sangat dekat dengan kasus. Semoga Allah selalu melindungi

Tinggalkan Balasan