Sumber: News.berdakwah

Jalan Kebaikan oleh Nopiranti

Jalan Kebaikan
(Nopiranti)

Siang menjelang sore. Anita nampak asyik bermain gawai di teras depan rumahnya. Dia sendirian saja di rumah. Bapak belum pulang kerja. Kakak masih belajar kelompok di rumah temannya. Ibu sedang ada acara di pengajian.

Sering Anita ditinggal sendirian di rumah seperti itu. Anita sudah terbiasa. Gadis berparas ayu siswa kelas 7 SMP ini tidak merasa takut atau khawatir karena sebelum pergi, Ibu biasanya sudah menyediakan kebutuhan makan siang untuk dia dan Kakaknya.

Saat fokus Anita tertuju pada layar gawai, terdengar suara seseorang menyapa. Ternyata Ibu Siska, tetangga depan rumah yang mempunyai warung kelontong. Beliau orang yang ramah dan baik hati.

Setiap kali melihat Anita sendirian di rumah, Ibu Siska suka datang untuk menanyakan kondisinya. Selain memang karena beliau orangnya perhatian, Ibu Siska juga suka dimintai tolong oleh Ibu untuk mengawasi Anita jika Ibu harus pergi sampai sore. Seperti hari ini.

“Anita sendirian saja?” tanya Bu Siska ramah.

“Iya, Ibu. Semua orang belum pulang,” jawab Anita sambil mempersilakan Ibu Siska untuk duduk di sampingnya.

“Sudah makan?” Ibu Siska bertanya lagi. Anita mengangguk sambil tersenyum.

“Alhamdulillah.” Ibu Siska tersenyum lega. “Sudah salat Zuhur?” lembut Bu Siska bertanya. Tapi, entah kenapa Anita merasa terkejut mendengarnya.

Tidak ada jawaban keluar dari bibir Anita. Dia hanya diam menunduk sambil membolak-balikkan gawainya.

“Maaf ya, Sayang kalau Ibu lancang bertanya. Anita sudah dapat haid belum?”

Malu-malu Anita mengangguk perlahan. Sikapnya terlihat canggung. Langsung terbayang di benaknya jika selama ini salatnya masih bolong-bolong. Dari lima waktu yang wajib, selalu ada saja satu atau dua waktu yang tidak dikerjakan. Dengan berbagai macam alasan yang melatarbelakanginya. Entah itu bangun kesiangan, malas, cape, tanggung, atau ketiduran.

“Kalau sudah dapat haid, berarti sudah harus penuh melaksanakan kewajiban salat lima waktunya. Tidak boleh ada yang bolong ya, Sayang,” Ibu Siska melanjutkan pembicaraan.

“Mumpung masih ada waktu Zuhur, sebaiknya Anita salat dulu ya. Nanti bisa dilanjutkan lagi main gawainya. Atau kalau Anita mau, nanti boleh main ke rumah Ibu. Temani Ibu jaga warung,” tutur Ibu Siska dengan penuh kelembutan.

Hati Anita pun tersentuh. Tanpa merasa kesal, tanpa terpaksa, dan tanpa menggerutu, seperti yang biasanya Anita rasakan jika disuruh salat oleh Bapak atau Ibu, Anita kemudian bergegas masuk ke rumah. Dia menuju kamar mandi untuk mengambil wudu. Setelah itu Anita salat dengan perasaan senang.

Sejak hari itu, sejak Ibu Siska datang menyapa dan mengingatkannya untuk bersegera salat, Anita merasakan berkah hidayah.

Bukan dia tidak pernah menganggap didikan orang tuanya yang selama ini tidak pernah lelah mengajari dan menuntunnya mengerjakan salat dengan baik. Namun kali ini rasanya berbeda. Pintu hati Anita telah dibuka dengan kunci yang tepat oleh sikap dan perkataan Ibu Siska. Sejak hari itu, Anita tidak pernah lagi meninggalkan salat lima waktu di luar jadwal haidnya.

Ibu Siska telah menjadi perantara terbukanya jalan kebaikan bagi Anita. Menjadi jalan datangnya hidayah Allah pada gadis yang baru menapaki kedewasaannya itu.

Masyaallah. Sungguh suatu keberkahan jika lisan atau perbuatan kita bisa menjadi jalan datangnya kebaikan untuk orang lain. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab sahih-nya, hadis dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR Muslim no. 1893).

Kisah Anita di atas mengingatkan kita untuk senantiasa berbuat baik, dalam ucapan lisan maupun perbuatan. Kapan saja, di mana saja, pada siapa saja. Karena kita tidak pernah tahu pada hati yang manakah kebaikan itu akan hinggap, meresap, menetap, mengakar, tumbuh menjadi benih, dan mekar indah mewangi menjadi bunga-bunga hidayah yang mengantarkan seseorang pada rida Allah.

Selalu semangat menebar kebaikan, ya, Teman. Lewat lisan, perbuatan, tulisan, maupun hanya sekadar lintasan hati dan pikiran kita. Karena sejatinya perbuatan baik yang kita lakukan pada orang lain adalah tabungan yang kelak akan kembali berkahnya pada diri kita sendiri.

Sabtu, 7 November 2020.

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan