Izinkan Aku Diam Sejenak oleh Nopiranti

Izinkan Aku Diam Sejenak
(Nopiranti)

Sejak pertama menstruasi saat SMP dulu, keluhan yang sering saya rasakan biasanya berkisar seputar volume darah. Hari kedua sampai hari keempat merupakan puncak banyaknya darah yang keluar. Saya jadi harus sering berganti pembalut. Saya juga harus selektif memilih pembalut yang cocok, baik ketebalan, panjang dan lebarnya, maupun tekstur permukaannya. Kehati-hatian memilih pembalut sangat mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan diri.

Namun, sejak menikah dan melahirkan tiga anak, ada kondisi baru yang sering saya alami setiap akan menstruasi. Yang paling terasa adalah perubahan kondisi fisik dan emosional.

Beberapa hari menjelang menstruasi saya sering mengalami sakit pinggang, perut kembung, kepala pusing, sakit persendian, mual dan suhu badan meningkat. Saya juga jadi lebih sensitif, mudah marah, mudah lelah, dan malas beraktifitas.

Saya baru mengetahui akhir-akhir ini jika kondisi yang saya alami itu dinamakan PMS atau Pre Menstrual Syndrom / Gejala Awal Menjelang Menstruasi. Meskipun belum diketahui secara pasti penyebab PMS ini, namun ada dua kondisi umum yang biasanya menjadi pencetus PMS.

Pertama adanya perubahan kadar hormon. Kedua yaitu perubahan zat kimia di otak saat kadar serotonin yang berperan mengatur suasana hati seseorang menjadi rendah selama periode menstruasi. Saat suasana hati sedang kurang baik, tubuh akan rentan melemah dan sulit tidur dengan nyenyak. Akibatnya jadi lebih mudah lelah dan sulit berkonsentrasi (https://www.sehatq.com/penyakit/premenstrual-syndrome-pms).

Inilah yang sering saya alami selama beberapa tahun belakangan ini. Faktor usia yang tak lagi muda, kesibukan yang meningkat, beban pikiran yang semakin bertambah, jarang berolahraga, serta asupan makanan dan minuman yang kurang terjaga kualitasnya, di antara sekian banyak pencetus hadirnya PMS.

Satu tahun terakhir bahkan saya merasakan kadar keluhan yang saya alami semakin parah. Jika PMS datang dilanjutkan beberapa hari kemudian saat mentruasi keluar, bukan hanya saya yang mengeluh. Tapi seisi rumah juga kena dampaknya.

Saat badan saya terasa sakit, otomatis suami dan anak-anak yang saya jadikan pelarian untuk membantu memijat badan agar rasa sakit itu berkurang. Walaupun kadang mereka malas-malasan, tapi mau tidak mau pada akhirnya mereka menuruti juga permintaan saya. Daripada kena lemparan bom melotot atau petasan cabe rawit dari mulut saya yang kalau sudah meledak bisa menyebabkan kekacauan domestik yang parah. Hehe…

Belum lagi dengan urusan emosi yang perubahannya sangat tidak bisa diprediksi. Sesaat saya senang. Sekejap saya kesal. Berikutnya saya sedih. Lalu berakhir dengan marah-marah tak jelas pasal. Apalagi saat sedang banyak-banyaknya, terkadang saya malas sekali bergerak. Maunya hanya duduk atau rebahan saja. Tidak ada semangat untuk beres-beres rumah, masak, nyuci, atau berangkat kerja (saya mengajar di SMP).

Saat seperti ini saya sering bilang pada suami dan anak-anak, “tolong, izinkan Umi diam sejenak saja. Boleh, kan?”

Saya merasa permintaan saya untuk diam sebentar atau istilah saya cuti sejenak dari pekerjaan domestik selama PMS atau menstruasi ini merupakan hal yang wajar. Di sinilah komunikasi dan kerjasama yang baik antar semua penghuni rumah sangat diperlukan.

Pada suami, saya jelaskan bahwa seiring bertambahnya usia yang justru semakin mengurangi kebugaran badan, maka saya memohon dengan sangat pengertiannya untuk memahami kondisi fisik dan psikologis saya.

Alhamdulillah, sudah beberapa bulan ini jika saya mulai mengeluh sakit, suami langsung tahu jika itu gejala awal saya akan menstruasi. Dia bantu memijat badan saya sampai keluhan terasa berkurang.

Pada anak-anak juga saya jelaskan kondisi saya. Saya beri pengertian tentang menstruasi dengan bahasa yang bisa mereka mengerti. Dibantu suami, anak-anak belajar bekerja sama mengerjakan urusan rumah selama saya izin diam atau cuti sejenak di saat menstruasi.

Pengertian dan dukungan anggota keluarga selama PMS atau menstruasi merupakan suplemen hebat yang bisa membantu memperbaiki kualitas perasaan dan meningkatkan semangat saya.

Saya jadi punya waktu mengembalikan kebugaran badan dan menenangkan emosi. Setelah semua berangsur stabil, saya pun akan siap dan kuat lagi menjalani aktifitas dan kewajiban saya dengan baik, penuh rasa syukur dan bahagia. Karena itulah kunci keharmonisan dan keberkahan rumah tangga. Dimulai dari ibu yang sehat dan bahagia, insyaallah seluruh penghuni rumah akan sehat dan bahagia juga.

Terima kasih dan rasa syukur tak terhingga untuk suami dan anak-anak atas semua pengertian dan bantuan kalian menjaga diri ini tetap waras selama PMS dan menstruasi. I love you all. Muuaah…

Jumat, 9 Oktober 2020.
NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan