Introspeksi Diri oleh Nopiranti

Introspeksi Diri

(Nopiranti)

Sore kemarin saya menyimak tausiyah dari seorang ustazah di sebuah TV swasta. Saya mendengarkannya hanya beberapa menit saja karena keburu terpotong ada kegiatan lain yang harus dilakukan di luar rumah. Bagian tausiyah yang saya dengar yaitu saat ustazah mengatakan, “Jadi orang itu jangan JNiPer alias Julid, Nyinyir, baPer.”

Sepenggal saja kalimat sersan (serius tapi santai) yang disampaikan ustazah, tapi meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Saya jadi auto ngaca diri. Apakah 3 sifat yang ustazah sebutkan tadi ada pada diri saya?

Biasa deh kalau bicara tentang hal-hal jelek, diri ini suka langsung menyanggahnya. Berargumen kalau semua itu tidak mungkinlah bersemayam dalam jiwa dan raga yang syantik ini. (Halah, narsis). Naluri selalu bilang rasanya selama ini saya sudah berusaha menjadi pribadi indah dan menyenangkan. Sombong amat! (Mohon kalimat ini dibaca dengan intonasi ala para juri Indonesian Idol 2020 ya. Hahay).

Oke lah Dear Me , kita coba telusuri yuk ada atau tidak ketiga sifat itu dalam dirimu. Introspeksi diri dulu ya supaya bisa lebih meningkatkan kualitas diri.

  1. Julid

Menurut KBBI kata Julid itu termasuk kata sifat. Berasal dari kata dasar dengki.

Ada dua arti julid yang disebutkan di KBBI, yaitu:
a. Menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Di KBBI dijelaskan kalau julid biasanya diungkapkan secara tidak langsung seperti melalui media sosial.
b. Iri dan dengki terhadap hal baik yang diperoleh orang lain.

Melihat arti kata julid berdasarkan KBBI di atas, saya harus jujur mengakui kalau saya pernah memiliki perasaan tersebut. Saya pernah marah, benci, tidak suka pada keberuntungan atau hal baik yang dialami orang lain.

Namun perasaan itu jarang saya ungkapkan langsung pada orang yang saya benci. Kalau tidak saya pendam sendiri, paling cerita pada keluarga/teman dekat, atau saya tulis di buku harian dan sosial media. Tapi, untuk tulisan di media sosial saya tetap jaga adab ya dengan tidak menyebutkan jelas nama orang tersebut.

Jadi, fix dong kalau saya punya sifat julid? Ya iyalah kalau merujuk pada pengertian kata menurut KBBI di atas.
Idih merasa julid kok bangga? Ya enggak lah. Saya justru malu setelah membandingkan arti kata julid dan kenyataan sesungguhnya yang saya alami.

Selama ini saya merasa tidak pernah julid pada orang lain. Tapi, nyatanya ya memang saya pernah julid. Duh, malu rasanya. Maafkan ya untuk siapapun yang saya pernah saya julidi selama ini. Maaf.

  1. Nyinyir

Menurut KBBI, arti kata nyinyir adalah mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet.

Jika dilihat dari arti yang dikeluarkan KBBI ini mungkin jauh beda dengan persepsi kita tentang nyinyir selama ini. Saya, atau mungkin juga anda, pasti menganggap jika nyinyir itu hampir sama dengan dengki atau julid. Namun ternyata bukan itu artinya ya.

Jika merujuk pada arti kata nyinyir berdasar KBBI, saya jadi teringat pada satu kisah yang pernah dialami saat masih berseragam putih abu. Ceritanya saat itu sedang ada bimbingan dari guru BK. Materinya tentang mengenal sifat diri dan sifat teman. Bu guru minta saya dan teman-teman menyebutkan satu atau beberapa yang menurut kita dominan ada dalam diri kami.

Saya dengan yakinnya menulis jawaban kalau saya itu pemalu dan pendiam. Namun ada yang menarik saat mendengar pendapat teman-teman tentang saya. Kebanyak teman menjawab kalau saya itu cerewet dan rame.

Halo, kok bisa sih kalian berpendapat begitu tentang saya? Kan saya yang paling kenal dengan diri saya sendiri. Mikir lama dong saya setelah mendengar jawaban yang menurut saya aneh itu. Kenapa perasaan sendiri bisa beda dengan pendapat orang ya?

Dari kejadian ini saya akhirnya mendapat pencerahan. Jangan terlalu mengikuti perasaan saat menilai diri sendiri. Mau itu penilaiannya positif atau pun negatif. Kita butuh untuk mendengarkan juga pendapat sekitar.

Siapa tahu saat kita menilai diri kita bagus dengan segala sifat positif yang kita punya, eh ternyata enggak begitu menurut orang lain. Atau sebaliknya. Saat kita merasa terpuruk karena merasa diri hanya dipenuhi sifat negatif, bisa jadi orang lain justru punya sudut pandang yang berbeda.
Begitu, lho.

  1. Baper

Baper itu singkatan dari Bawa Perasaan. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi atau kejadian yang membuat perasaan kamu terbawa (today.line.me).

Memang apa yang salah jika kita mudah terbawa perasaan? Menurut saya sih bisa positif dan bisa juga negatif akibatnya.

Baper itu bisa positif jika dilakukan saat menghadapi suatu hal yang memang menuntut kita untuk mencurahkan perasaan secara penuh. Misalnya saat ada teman sedang ditimpa kesulitan atau kemalangan. Bawalah perasaan kita untuk bisa merasakan apa yang sedang teman kita rasakan saat itu. Dengan begitu kita bisa menyesuaikan sikap dan perlakuan apa yang tepat saat menghadapi teman tersebut. Tidak salah berucap, berkomentar, atau bersikap. Kata lainnya sih baper yang positif itu berempati kali ya.

Terus negatifnya sifat baper apa? Dari yang pernah saya alami sih baper itu membuat perasaan sangat tidak nyaman. Saat baper pikiran kita cenderung suka melebih-lebihkan penilaian atas sesuatu. Kebanyakan sih yang mampir itu pikiran jelek atau negatif. Hal yang sebetulnya sederhana pun bisa jadi rumit dan menyulitkan. Membuat kita jadi merasa serba salah untuk bersikap.

Tak jarang berakhir dengan timbulnya prasangka buruk, datangnya perasaan tidak suka, atau lahirnya keputusan terburu-buru yang merugikan.

Saya pernah baper tidak ya? Pernah banget. Sering malah. Enggak enak banget. Enggak nyaman. Enggak mau lagi baper. Tapi, kok ngalamin terus ya, enggak kapok-kapok? Terutama baper sama kamu. Iya, kamu…(hadeuh, malu aku).

Minggu, 6 November 2020.

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

2 comments

  1. Mantap… Saya jg gitu ternyata… Semoga bisa menghempaskan dengan perlahan namun pasti… Aamiin…

Tinggalkan Balasan