Illona oleh Ade Tauhid

Illona
By Ade Tauhid

Kutepikan mobilku, Kutatap lekat spanduk yang terpampang di jalan itu ingin memastikan apa benar itu Nindy teman SMP ku dulu? Yang ke sekolah selalu menggunakan kursi roda?

“Launching dan bedah novel “KETERBATASAN TANPA BATAS” karya Illlona Fransisca.

Nindy temanku, kami sangat akrab. Nindy memiliki kaki polio sejak kecil. Satu kakinya mengecil. Makanya saat berjalan dan beraktivitas Nindy harus dibantu dengan kursi roda.

Setiap hari aku selalu menunggunya dipintu gerbang sekolah, membantunya turun dari mobilnya dan mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kelas.

Begitu juga ketika pulang sekolah, selalu kuantar Nindy sampai ke dalam mobil jemputannya.

Kami bersahabat baik, semua teman sekolah tau itu. Nindy murid pintar dan selalu ranking satu di sekolah, meski dia punya keterbatasan, sedang aku cukup puas masuk ke peringkat dua atau tiga.

Setiap pulang sekolah Nindy tak pernah bermain, melainkan langsung pulang ke rumah dan mengurung diri, aku yang sering mengunjunginya. Kami belajar bersama.

Kutatap lekat spanduk besar itu, potonya memang Nindy sahabatku, aku yakin tapi namanya tidak.

Dispanduk besar itu tertera namanya Illona Fransisca, sedang sahabatku dulu itu namanya Nindy feronica.

Tapi wajahnya yang terpampang dispanduk itu sungguh Nindy. Aku tak mungkin lupa wajahnya, meski sejak delapan tahun lalu kami berpisah, sejak kami tamat SMP.

Kabar terakhir Nindy sekolah di Singapura sambil berobat. Sejak saat itu aku dan Nindy tidak pernah bertemu lagi.

Tapi aku jadi penasaran, aku yakin Nindy dan Illona adalah orang yang sama, sahabat lamaku.

Aku enggak heran kalau sekarang Nindy menjadi seorang novelis terkenal karena memang Nindy itu dulunya kutu buku banget, dan hobinya membaca dan menulis cerita dan puisi. Dia sering mengisi Mading sekolah.

Tiba tiba handphone ku berdering.

“Iya, halo, Ma.”

Mama yang nelepon. “Elsa, kamu di mana? Ada teman yang menunggumu di rumah,” kata mama di seberang.

“Oia Ma, kebetulan aku otewe pulang, Ma. Tunggu sebentar. Bye, Ma,” kataku sambil menutup telpon.

Kustarter mobil, dan lajukan mobil berlahan.
Hanya sepuluh menit aku sudah sampai di rumah.

“Assalamualaikum,” salamku.
Aku sungguh terkejut ketika tau siapa teman yang menungguku di rumah.

“Waalaikumsalam,” katanya sambil merentangkan tangannya di kursi rodanya.

“Nindy!” kataku menyambut uluran tangannya dengan memeluknya erat. Kami berdua berpelukan dan menangis terharu.

“Apa kabar, Sa? Aku kangen,” katanya sambil menatapku.

“Aku juga,” kataku takjub. Baru saja tadi di jalan aku melihat spanduknya dan berpikir.

“Kamu tambah cantik, dan hebat,” kataku lagi.

Kamipun terlibat percakapan yang asik dan seru. Ternyata betul dugaanku, Nindy adalah Illona, dan Illona adalah Nindy.

“Hadir di launching bukuku besok yaa. Aku jemput,” katanya.

Aku tersenyum, bangganya aku padamu Nin..

Dua sahabat lama bertemu, tentu banyak yang diceritakan.

Bandar Lampung, 03 Des 2020

0Shares

Tinggalkan Balasan