Ibu Penjual Mainan oleh Putri Zaza

IBU PENJUAL MAINAN

Saat perjalanan pulang tiba-tiba terlintas ingatanku tentang ibu penjual mainan yang setiap seminggu sekali pasti ke kantor tempatku bekerja. Oh, ya, aku bekerja di salah satu ekspedisi di Indonesia. Jadi, orang bisa dengan bebas keluar masuk.
“Bu, lima ribu ajah, Bu, buat beli beras, tiga sepuluh ribu, Bu.” Sambil menyodorkan mainan buatannya sendiri dengan paksa ke arahku.
“Maaf ya, Bu, ” ujarku menolak dan mengembalikan barang miliknya.
“Lima ribu ajah, Bu, buat beli beras,” ujarnya memelas.
Setelah kutolak berkali-kali. Aku menyerah dan kuambil uang lima ribu di dalam dompet, kuberikan kepadanya dengan rasa kesal ‘jualan, kok, maka, sih, Bu!’. Ia pun meninggalkan mainannya dan pergi.
Setelah emosiku mereda dan jadi kepikiran dengan si ibu. Jika tidak memaksa bagaimana cara ia bisa beli beras sedangkan, anak kecil zaman sekarang lebih tertarik dengan gadget dibandingkan mainan tradisional seperti buatan si Ibu ini.
Kutarik napas dalam-dalam. ‘Aku ikhlas, kok’. Semoga menjadi ladang pahala. Di saat banyak yang mengemis ibu ini memilih untuk berjualan, bukankah itu lebih mulia. Walau, caranya salah.
Padahal ibu penjual mainan itu datang atas izin Allah. Mungkin, dengan cara ini Allah nyuruh untuk bersedekah dan lebih berempati terhadap sesama.
Ibu penjual mainan kuibaratkan seperti kucing yang mendatangi orang yang sedang makan. Padahal aku saja bisa sangat ikhlas memberikan potongan ayam untuk kucing yang menyenggol-nyenggol dan mengeong di kakiku, masa iya, sulit sekali untuk membeli mainan yang ditawarkannya kepadaku.
Ketika Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, “apakah berbuat baik kepada binatang bagi kami ada pahalanya?” Maka beliau menjawab dengan sabdanya, “di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ya, Allah semoga hatiku bisa lebih lembut dan empatiku lebih tinggi terhadap yang membutuhkan. Aamiin.

Cibitung, 26 Juni 2020
Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan