Hujan di RS

Ibadahnya Seorang Petugas Rumah Sakit oleh Emmy Herlina

Beribadah Memang Sebaiknya di Rumah, Kan? (Apalagi Bagi Petugas Rumah Sakit Sepertiku)

Alhamdulillah, senang sekali bertemu Ramadan. Ups, bukankah Ramadan akan berakhir sebentar lagi? Iya, betul sekali. Saat ini sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Saatnya kita memperkencang ibadah, terutama akan tiba saatnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Masih teringat, pada awal sebelum memasuki Ramadan. Hatiku sedikit merasa tidak tenang. Bagaimana tidak? Sejak adanya Pandemi Global Covid-19, saatnya aku rutin memperbanyak asupan. Iya, kusingkirkan niatan diet, yang terpenting mengkonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan.

Sementara di bulan Ramadan, waktu makan kita menjadi terbatas, akhirnya aku benar-benar cemas. Terlebih pekerjaan di kantor justru biasanya semakin banyak di bulan Ramadan. Seiring dengan banyaknya pasien yang akan memerlukan tambahan transfusi darah, seperti yang menjadi rutinan di rumah sakit, pasien thalassemia akan banyak berdatangan di bulan puasa.

Oke, saat itu aku tidak berpikir panjang. Aku melupakan hal yang terpenting bahwa puasa justru hadir untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Tapi bukan hanya hal itu yang kucemaskan.

“Ini ada daftar kegiatan yang harus dilakukan di bulan Ramadan. Tolong diprint kemudian diisi, ya.” Aku menghela napas saat melihat pengumuman di grup whatsapp sekolah anakku. Benar juga, Ramadan kali ini, pertama kalinya bagi Sophia, duduk di bangku SD. Berbeda waktu di TK dulu, di mana berpuasa hanyalah sebuah anjuran, tidak dipaksakan. Yang penting tidak bawa makan dan minum ke sekolah, namun yang pasti tidak ada juga jadwal kegiatan yang harus diisi.

Kali ini, Sophia sudah mempunyai daftar kegiatan. Lagi-lagi tentu dengan pemantauanku sebagai orang tua. (maklum saja, kondisi LDR dengan suami, jadi akulah yang harus memantaunya).

Baiklah. Meski setelah memasuki usia ketujuh, Sophia belum rajin salat lima waktu, tapi inilah kesempatanku untuk mewajibkannya salat. Iya, selama ini, aku hanya menganjurkan, tidak memaksa. Aku tipe orang tua yang malu menyuruh-nyuruh anak, padahal aku sendiri tidak melakukan. Aku sendiri kadang khilaf, salatnya bolong-bolong. Astaghfirullah.

Kecemasan apa lagi berikutnya? Peraturan pemerintah menganjurkan kami beribadah di rumah saja. Artinya tidak ada lagi pelaksanaan tarawih di Masjid. Ini yang sangat kusayangkan. Bukankah dengan berjamaah, salat jadi tambah semangat. Membiasakan anak-anak ke masjid juga akan lebih mudah dengan adanya pelaksanaan tarawih berjamaah, yang kini sudah ditiadakan.

Jadi, harus bagaimana ini? Dengan kesulitan ini, apakah aku bisa melatih kebiasaan anakku untuk rajin beribadah (termasuk mamanya). Aku lantas menggaruk kepala yang tidak gatal, lalu terbersit sebuah ide yang kurasa sempurna. Aha! Kenapa tidak menumpang saja salat tarawih di rumah mertua?

Iya, dengan kondisi LDR, aku tidak bisa mengharapkan akan bisa beribadah tarawih berjamaah dengan suami, kan. Ya, karena satu kondisi itu, dan ada alasan lainnya juga, sih. Ehem.

Maka, malam itu, mumpung aku sedang tidak bekerja, aku memboyong kedua anakku ke rumah mertua yang memang tak jauh dari rumahku. Kusampaikan ingin beribadah bersama di sana.

Alhamdulillah, meski Sophia sempat mengeluh salatnya terlalu panjang, tapi kami menjalani ibadah dengan khusyuk. Bahkan adiknya, Farris, juga mengikuti dengan seksama. Usai berjamaah, saat bersalam-salaman, kuterima tatapan ragu saat aku hendak mencium tangan mertuaku. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

Kududuk sejenak sebelum beranjak pulang. Apa lagi, karena kedua anakku ditawari es buah di sana, dan mereka senang hati memakannya.

“Gimana kondisi di sana, Em? Kau aman, enggak?”

Deg. Aku berusaha mencerna pertanyaan dari mertua. Aku lantas menjelaskan bahwa posisiku hanya sebagai tenaga administrasi yang tidak berhubungan dengan pasien. Tapi, kadang memang harus berhubungan dengan keluarga pasien, artinya tetap harus berhati-hati.

Itu memang benar. Teringat beberapa saat sebelumnya, ada seorang pasien yang meminta transfusi darah karena persiapan operasi, lalu beberapa hari setelahnya baru ketahuan bahwa ybs ternyata positif mengidap penyakit itu. Astaghfirullah. Teman-teman yang sudah telanjur memeriksa sampel darahnya pun merasa cemas. Kutenangkan mereka dengan menyampaikan, terlebih petugas di ruang operasi dan di ruangan, karena semuanya juga tidak ada yang mengetahui sebelumnya perihal pasien tersebut.

Ehem. Tapi cerita itu tidak kusampaikan pada mertua. Aku hanya ceritakan pada suami dan ibuku yang tinggal bersamaku.

Selama ini aku selalu menjalankan prosedur setiap kali tiba di rumah pulang bekerja. Kubersihkan diri, melepas pakaian dan langsung merendamnya, menyemprot desinfektan untuk semua yang tidak bisa kurendam, seperti tas, ponsel, sepatu, kunci mobil, bahkan bros jilbab.

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/seandainya-para-pekerja-wfh-work-from-hospital-kelelahan-oleh-emmy-herlina/

Tak urung, terbersit juga pertanyaan dalam hati, “kamu yakin 100 % kamu tidak akan menjadi carrier, Em?”

Seandainya saat itu aku sedang bercermin, pasti bayangan di hadapanku akan berkata jujur, “memangnya aku bisa menjamin 100%, bahwa aku aman? Bahwa aku tidak akan menjadi carrier? Bahwa aku yang tidak berhubungan langsung dengan pasien ini berarti pasti terbebas dari virus?”

Wahai, aku tak akan lupa ada yang namanya infeksi nosokomial, yaitu infeksi yang bisa didapatkan dari rumah sakit, infeksi yang mudah tertularkan dari satu orang ke orang lainnya, karena kelalaian manusia.

Siapa yang bisa menjamin 100%? Manusia itu tugasnya hanya berusaha. Aku sudah berhati-hati dan berusaha sebisaku, tapi tetap saja kembali lagi kepada takdir. Bismillah.

Tak kupungkiri aku bukannya tak ada perasaan takut, sewaktu-waktu bisa menjadi carrier. Di saat anakku batuk-batuk seperti sekarang ini, aku pun sempat suuzan, waduh, jangan-jangan anakku batuk gara-gara aku. Lalu cepat-cepat kutepis pikiran itu.

Yang pasti kalau memang benar itu terjadi, aku mungkin tak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Ampuni aku, ya Allah.

Kembali soalan beribadah, bagaimana jadinya, Em? Sudahlah.

“Sophi, kita salat di rumah saja, ya. Ummi yang jadi imamnya. Enggak apa-apa, kan?”

Sophi mengangguk dan menuruti perkataanku tanpa banyak bertanya. Kusampaikan saja, alasanku supaya tidak terlalu lelah. Padahal alasan sebenarnya, tampaknya aku memang harus memberlakukan social distancing, pada keluargaku sendiri.

Sudahlah, Em. Bukannya bagi perempuan, beribadah memang sebaiknya di rumah, kan? Apalagi bagi petugas rumah sakit sepertiku.

P.S. Alasan yang sama aku harus meniadakan silaturahmi di bulan Syawal nanti. Bukankah aku tetap harus bekerja di hari lebaran? Be strong, Em!

Bandar Lampung, 16 Mei 2020

Nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

14 comments

  1. Mama saya juga nakes, dulu saya sebal banget, setiap lebaran mama masih juga sibuk layanin pasien, btw beliau tugas di puskesmas di pelosok, jadinya pasien datang ya kudu mama saya yang layani, tapi sekarang udah pensiun sih, kakak saya yang masih kerja jadi nakes, kasian mereka tiap hari ngantor pakai peralatan lengkap

  2. Subhanllah mbak Emmy, be strong.. dan semoga pandemi segera berlalu. Kita semua sehat² dan selamat amiiin..

  3. Antara kagum, haru, sedih juga namun yang pasti mba nya hebat sekali. Tugas sudah menjadi tugas dari pekerjaan pilihan profesi yang harus dijalani. Allah tidak tidur, Dia mengetahui apa yang diperbuat umatnya. Pun masalah ibadah, pekerjaan merupakan ibadah. Semoga semuanya berkah. Semangat mba, yang turut berjuang menghadapi pandemi virus secara langsung. Semoga sehat selalu buat mba nya.

  4. Be strong mbak em, ya♥️🙏. Meskipun keluarga tidak ada yang menjadi nakes, tapi saya ikut sedih kalau melihat pengorbanan mereka😭😭. Yang dirumah sakit berjuang yang dirumah kadang masih keluyuran berkerumun😭😭. Untuk sophia sabar ya, nak. Semoga pandemi covid ini segera berlalu♥️

  5. Semoga selalu dalam lindungan Allah ya Mbak. Sekarang ini, semua berpotensi menjadi penyebar. Makanya emang ya harus sabar dan banyak menahan diri. Semoga pandemi ini segera berlalu

  6. MasyaAllah, Kak Emmy. Setiap orang dipertemukan dengan ujiannya masing-masing, ya. Semoga senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT, sehat terus, bisa membaktikan diri. InsyaAllah beribadah dari rumah juga nggak berkurang ya Kak, nilai ibadah kita.

  7. Masya Allah Mba. Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan buat Mba Emmy dan Keluarga ya. Keluarga besar saya juga di lampung. sedih sekali tahun ini tidak bisa silaturahmi dg keluarga. Semoga wabah ini lekas berlalu dan semuanya bisa kembali normal.

  8. Mbak Emmy, saya pernah ada di posisi Mbak dulu semasa kerja di Lab RS dan swasta. Semoga lelahnya jadi berkah. Insyaallah jadi pahala kebaikan di hari akhir kelak. Salut buat para nakes yang sudah bekerja sepenuh hati. Doa Kami menyertaimu

Tinggalkan Balasan