Gerandong

Hotel di Balikpapan oleh Athena Hulya

Hotel Di Balikpapan

            Beberapa bulan lalu, aku ditugaskan untuk ke salah satu proyek perusahaan yang ada di kota Balikpapan. Biasanya kalau diminta untuk dinas ke luar kota pasti aku ditemani oleh kepala tim atau rekan setimku, namun tidak untuk kali ini, aku hanya sendirian. Dari awal diminta untuk ke Balikpapan aku ragu karena belum pernah ke daerah tersebut dan juga ada selentingan kabar kalau hotel yang akan aku tempati selama beberapa hari ke depan terkenal angker.

            Sesampainya di Balikpapan, karena masih sore aku tidak langsung ke hotel melainkan memilih memantau proyek terlebih dahulu.

            “Bu, nanti Ibu menginap di hotel mana?” tanya Bu Revi, seorang kepala proyek saatku sedang mengecek pekerja di proyek tersebut.

Saat aku menyebutkan nama hotelnya Bu Revi kaget dan menyuruhku segera menelepon kantor dan meminta mbak Azka (GA Department) untuk membatalkan pemesanan hotel dan mengganti ke hotel lainnya. melihat ekspresi yang berbeda dari Bu Revi, akupun segera menelepon kantor dan membicarakan seperti yang Bu Revi bilang. Sayangnya, hotel-hotel di sekitar proyek sudah penuh booking hanya tersisa hotel X saja yang masih tersedi kamar.

            Mendengarkan penjelasan dari mbak Azka, Bu Revi menawarkanku untuk menginap di rumahnya, namun kutolak dengan alasan takut merepotkan. Padahal ada alasan lain di baliknya yaitu karena aku baru kali pertama mengenal Bu Revi, tidak mungkin juga aku menginap di rumah orang yang baru kukenal. Seangker apa, sih, hotel itu sampai-sampai orang takut untuk menginap di sana, paling juga akan bertemu kuntilanak atau pocong, batinku.

***

            Hawa tidak enak terasa saat baru saja check in di resepsionis. Bau seperti bunga kamboja, banyaknya lukisan dan patung-patung hewan menghiasi sudut-sudut hotel X. Hotel nampak sepi, aku langsung memasuki kamar yang letaknya di lantai dua yang ujung lorong. Tidak ada hal yang aneh saat kumemasuki kamar. Hal aneh itu terasa ketika kusedang membuat project inspection report, saat itu waktu menunjukan pukul 01.30 WITA.

Wangi singkong bakar sangat menusuk hidung dan hawa panas membuatku kegerahan, padahal AC masih menyala. Merasa ada yang janggal, aku langsung mendengarkan murotal di youtube, saat murotal itu dinyalakan hawa mendadak seperti semula, namun saat murotal itu selesai hawa kamar menjadi panas kembali.

Dddrrrtt ddddrrrtt, whatsapp masuk tertera nama Bu Revi.

“Bu, kamu sudah tidur?”

“Belum, masih bikin report untuk kantor pusat. Kenapa, Bu?”

“Saya khawatir, takut Ibu kenapa-napa! Kalau butuh bantuan telepon saya saja ya, Bu.”

“Siap, terima kasih.”

Selesai kumembalas pesan dari Bu Revi, dari dalam kamar mandi terdengar beberapa kali bunyi gedoran pintu. Awalnya kudiamkan saja, namun lama-kelamaan gedoran itu makin kencang sehingga mengganggu aku yang sedang menyelesaikan pekerjaan. Karena kesal dan sering diganggu dengan suara-suara seperti itu, aku langsung menuju kamar mandi dan menggedor balik pintu kamar mandi itu. “Jangan berisik, bisa enggak?” ucapku membentak.

Wangi singkong bakar kembali menyengat hidung, padahal murotal masih dibunyikan. Di sudut kamar dekat jendela muncul sosok hitam besar, berkuku panjang seperti gorila dengan tinggi yang menembus plafon kamar sehingga kutidak melihat wajahnya. Sontak kuterkaget dan memperbesar volume suara murotalnya, sosok itu tidak kunjung pergi. Dari kamar mandi terdengar bunyi gedoran lagi, penasaran kubukalah pintu kamar mandi. Ternyata ada sosok hitam besar bermata merah juga bertaring di balik pintu, kami saling bertatapan.

Tanpa pikir panjang kuturun ke bawah berniat meminta bantuan pada satpam yang berjaga di lobi, namun lobi sepi tidak ada siapapun. Berjalan ke arah gerbang, bukan satpam yang kutemui malah kutemukan lagi sosok lain. Pocong yang terbang dari pinggir pos satpam menuju pohon besar yang berada tepat di atasku.

Ponselku berbunyi, tertera nama Bu Revi.

“Halo, Bu. Kamu di baik-baik saja?” tanyanya di seberang.

Merasa terselamatkan, aku meminta tolong pada Bu Revi untuk menjemputku di hotel. Beberapa menit kemudian muncul mobil Bu Revi, akupun diajak untuk ke rumahnya. Di sepanjang jalan aku menceritakan yang kulihat selama di hotel X.

“Untung kamu enggak kesurupan, Bu. Biasanya orang-orang yang menginap di sana kesurupan. Makanya hotel itu tidak laku, Bu!” ucap Bu Revi. Siang harinya aku dibantu oleh Bu Revi dan suaminya membereskan barang-barangku di kamar hotel X, dan aku menginap di mess karyawan proyek kantorku untuk beberapa hari ke depan.

20 Juni 2020

Nulisbareng / Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan