Anak autis

HITAM oleh Ade Tauhid

HITAM
By Ade Tauhid

Aku punya ponakan yang lucu, namanya Citra Faradinna Moeis. Biasa dipanggil DENTRA.

Dentra baru berusia dua tahun. Anaknya lucu, cantik, kulitnya putih bersih pipinya gembul, cerewet dan menggemaskan.

Siapapun yang lihat Dentra pasti pingin cium dan cubit cubit. Lucu sih.

Nah, Dentra ini kalau menemukan benda apapun itu di lantai yang warnanya hitam pasti dibilangnya aik.

Dentra pun akan menendangnya atau lari terbirit birit menghindari benda hitam itu.

Kenapa begitu?
Pasalnya Dentra tuh suka mungut kue atau makanan yang jatuh di lantai, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Namanya juga bocah usia dua tahun wajar kalau sang mama kuatir, lalu menakuti nakuti sang anak dan bilang benda hitam yang jatuh di lantai itu enggak boleh diambil. Enggak boleh dipegang. Itu aik -kata mamanya. Jijay.

Maksud sang mama sih baik, Khan benda yang sudah jatuh ke lantai khan kotor banyak kumannya. Takutnya mama, kalau enggak dibilangin begitu nanti tanpa sepengetahuan mama, Dentra masukin benda benda asing kedalam mulutnya.
Mama khan worry.
Nanti Dentra atit lagi.

Alhasil Dentra selalu berasumsi benda apapun yang warnanya hitam itu adalah aik. Enggak boleh diambil.
Enggak boleh dipegang.
Enggak boleh dimamam
Jijay ….
Enggak salah deh dong mama .

Suatu hari Dentra diajak sang mama main ke rumah nenek, ada aku di situ. Enggak usah heran gitu. Khan aku anak neneknya, dan neneknya khan ibuku.

Jadi kalau Dentra diajak ke rumah nenek berarti ke rumahku juga, Khan aku tinggal sama neneknya.
Jangan binun gitu dong pemirsah!

Itu baru silsilah antara aku dan ibu dowang belum kalau aku cerita silsilah bapakku, nenek dari bapakku. Bisa panjang nih cerita. Hihi

Di rumah Dentra kuajak bermain, kugendong gendong. Kebetulan sang mama dan papanya Dentra sedang asik ngobrol sama sang nenek.
Entah apa yang diobrolkan.
Enggak penting buat aku kayaknya, makanya mending aku main aja sama Dentra. Lebih asik.

Tapi mungkin karena bosan bermain, lelah atau apalah tau tau Dentra nangis. Waduh!
Kukembalikan ke mamanya dia enggak mau, kukasih papanya Dentra meronta tinta, digendong nenek ogah.

Pokoknya Dentra nangis dan maunya sama aku. Tapi walaupun sudah aku gendong Dentra masih nangis juga.
Iiih maunya apa sih Dentra nii.

Tapi sebagai Tante yang baik hati, cakep dan imut imut aku enggak boleh kesal.
Aku harus tetap menunjukkan rasa sayangku sama Dentra, aku harus bisa merayu dan buat Dentra diam dan tidak nangis lagi.

Alhasil setelah aku rayu rayu Dentra pun berhenti menangis.
Alhamdulillah, napa enggak dari tadi diemnya, bikin repot aja. Hihi

Lalu Dentra duduk manis di pangkuanku. Sebagai tanda sayang kuberi Dentra sebuah kue onde onde. Lalu kubelah dua. Kuberikan Dentra separuh.

“Ini mamam ya, Sayang,” kataku sambil memberikan sebelah potongan kue onde onde.

Tapi Dentra menolak, ditampolnya tanganku hingga kuenya terjatuh.

“Enggak mau Tante. Itu aik ya?” katanya polos sambil nunjuk isi kue onde onde yang isi kacang ijonya warnanya hitam dengan perasaan jijay. Dentra pun nangis lagi.

Olalaaa!!!!

Bandar Lampung, Minggu 13 Des 2020

Ade Tauhid/Nubar Rumedia

0Shares

Tinggalkan Balasan