Gerandong

Hantu Di Stasiun (Athena Hulya)

Hantu Di Stasiun

           

Setelah sebelumnya perjalanan dinas ke proyek Jogjakarta dibatalkan sebab Cellin kesurupan, hari ini aku memutuskan untuk pergi ke sana lagi dengan menggunakan Kereta Api. Perjalananku kali ini ditemani oleh pak Ahmad, seorang project leader. Pak Ahmad berperawakan tinggi dengan badan agak berisi dan berambut cepak. Karena satu dan lain hal kami memutuskan berangkat malam hari menggunakan kereta terakhir pukul 20:45, sampai di stasiun X empat puluh lima menit sebelum kereta datang.

            “Bu, saya izin ke toilet. Tolong titip tas, ya!”

            Aku mengangguk sambil sibuk menyelesaikan pekerjaan di laptop. Baru saja bia pergi, tidak ada satu menit, pak Ahmad kembali duduk di sampingku.

            “Cepat banget? Katanya mau ke toilet?” tanyaku. Pak Ahmad hanya terdiam, pandangannya terfokus ke arah depan.

            “Pak, Bapak enggak kenapa-napa?” tanyaku lagi, tidak ada respon darinya. Aku celingak-celinguk melihat sekeliling. Hanya ada beberapa orang di stasiun itu, sepasang suami istri yang sedang menunggu kereta dan dua satpam di pintu masuk dan keluar. Aku tak berpikiran aneh pada pak Ahmad yang terdiam itu, dan kembali menatap layar laptop. Pikirku, ia segan mengobrol denganku karena kami berbeda divisi dan jarang sekali bertemu. Ia duduk terpaku sekitar lima belas menit, kemudian pergi meninggalkanku lagi.

Sesaat berlalu, seorang menepuk pundakku, “Maaf ya, Bu,  agak lama!”

Terkaget aku dibuatnya, ternyata yang menepuk pundakku adalah pak Ahmad. Mencoba berpikir siapakah yang baru saja pergi dan datang ini, karena hanya selang beberapa detik pak Ahmad muncul lagi. Kini aku yang terdiam, mencerna kejadian yang dialami. Pak Ahmad yang di sampingku sekarang lebih sumringah ketimbang yang tadi hanya memasang ekspresi datar, aku melihat dua pak Ahmad yang berbeda.

“Bu, tadi kenapa enggak barengan saja ke toiletnya! Malah diam saja pas ditegur.”

“Apa? Saya enggak ke toilet!” jawabku.

“Yakin? Tadi kan kita ketemu di depan toilet, Bu. Pas saya mau masuk toilet pria, Ibu ke toilet wanita! Ibu ditegur diam saja.”

Aku yang masih menerka kejadian tadi, semakin dibikin pusing dengan ucapan pak Ahmad. Ia meyakinkanku atas apa yang dilihatnya di toilet dan aku hanya terdiam dengan pikiran yang bingung.

Tuuutt Tuuutt

Kereta jurusan Jakarta – Yogyakarta sudah datang, kamipun memasukinya dan duduk berhadapan. Pak Ahmad masih saja membahas kejadian di toilet, meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah aku. Aku yang juga penasaran, menceritakan yang kualami. Kami sama-sama bingung. Kejadian yang baru saja dialami merupakan kejadian pertama bagi kami, bisa-bisanya ada hantu yang menyerupai kami berdua.

15 Agustus 2020

Nulisbareng/ Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan