kue ulang tahun

Hadiah Ultah oleh Ade Tauhid

Hadiah Ultah
(Sekarang sudah no 32)
By Ade Tauhid

Cerita lalu: https://parapecintaliterasi.com/ulangtahun-kak-ais-oleh-ade-tauhid/

Maktri sedang merapikan meja, menata makanan makanan kecil, puding dan buah sedemikian rupa.

Tak lupa Maktri meletakkan kue ulangtahun berbentuk love yang dibeli Maktri dan paksu di toko kue tadi.
Sengaja Maktri meletakkan kuenya agak di tepi meja.
Biar nanti kak Ais enggak terlalu jauh meniup lilinnya.

Kuenya cantik ya, secantik kak Ais-begitu puji Paksu tadi.

Coba tadi kalau Mami yang bikin, bisa bisa hancur semua, kata Paksu dalam hati. Pssttt .. Paksu enggak berani keras keras ngomongnya entar Maktri ngambeg. Hihihi

Sudah jam empat sore, anak anak Maktri belum sampai juga. Maktri jadi enggak sabar.

“Halo Sayang, sudah sampai mana?” tulis Maktri ke wasap nya kak Ais

“Sabar Mi, ini juga baru mau otewe, lagi nunggu Radit dulu pulang kuliah,” jawab kak Ais.

“Hati hati ya, Mami tunggu.”

“Ok.”

Maktri memang enggak sabar menunggu. Enggak apa apa deh, Maktri doain aja anak anak di rumah, semoga anak anak sehat dan selamat sampai di rumah. Amiiin.

Sejak masa Pandemi hampir setahun lalu, membuat jadwal kuliah dek Radit jadi morat marit. Kadang sebulan masuk, eh bulan depannya libur. Kasihan lihatnya, di rumah melulu, kadang pergi melulu.

Nah, sekarang jadwalnya seminggu kuliah online, minggu depan kuliah tatap muka. Bingung Maktri.

Ada ada aja deh. Maktri juga enggak ngerti soalnya anak kuliahan jaman sekarang beda banget sama jaman Maktri kuliah dulu.

Maktri dulu mah kalau kuliah, kuliahnya tiap hari, malah kalau Maktri sehari aja enggak masuk kuliah, dosen Maktri langsung ke rumah Maktri.

Emangnya ngapain Mak dosen ke rumah? Ngasih catetan yang ketinggalan ya? Dosennya bawa coklat enggak, Mak? Ha ha ha, rahasia dong kata Maktri sambil kedip kedip.

“Assalamualaikum Mami Papi.” Terdengar suara anak anak Maktri dari luar.

Wah kak Ais dan dik Radit sudah dateng nih.

“Waalaikumsalam Sayang.”

“Waalaikumsalam.”

Anak-anak langsung berhamburan memeluk Maktri dan Paksu secara bergantian. Maklumlah sudah seminggu enggak ketemu.

Anak anak Maktri khan tinggalnya di luar kota, karena kesibukan kuliah mereka.

Jadi mereka kadang seminggu sekali kadang sebulan sekali pulang.

“Yuk kita masuk, kita mulai acaranya,” kata Paksu.

Lalu Maktri, Paksu, kak Ais, dan dek Radit masuk dan duduk mengelilingi meja makan bundar di ruang makan.

“Wahhh kuenya keren …”

Happy birthday, Kak Ais,” kata Dik Radit

“Selamat ulang tahun, Sayang.”

“Cup”

“Makasih Mi, Pi dan Dek Radit.”

Setelah make a wish kak Ais meniup lilin ulangtahunnya. Terasa syahdu sekali ulang tahun kak Ais kali ini. Hanya dirayakan berempat.

Meski demikian hal itu tidak mengurangi rasa bahagia di hati kak Ais. Karena orang orang kesayangan kak Ais semua ada di sini. Kak Ais menitikkan air mata bahagia.

“Makasih ya, Mi-Pi buat ulang tahun ini,” kata Kak Ais sambil cium pipi Maktri dan paksu.

“Kakak punya hadiah buat Mami dan Papi,” kata kak Ais lagi.

“Lo, kok Kakak yang kasih kado? Khan Mustinya Mami Papi dong yang kasih,” kata Maktri.

“Khan Kakak sudah bilang dari kemarin, Mami dan Papi enggak usah kasih kado tahun ini. Kakak yang bawa kado,” kata kak Ais mengingatkan Maktri, waktu kemarin Maktri tanya kak Ais mau minta kado apa?

“Gausah Mi, nanti Kakak yang kasih surprise.” Begitu kata kak Ais lewat telpon kemarin.

“Wah iya. Apa nih surprise nya?” tanya Paksu dan Maktri hampir berbarengan.

“Bawa sini, Dek,” kata Kak Ais meminta bungkusan kado yang dibawanya tadi.

“Ini dia. Taraaa …,” kata Kak Ais. Lalu memberikan satu bungkusan kado buat Maktri dan satu bungkusan buat Paksu.

“Terimakasih Sayang. Apa isinya Kak?” tanya Maktri dan Paksu berbarengan lagi. Ih, kompak niye!

“Buka deh!”

Sementara Paksu dan Maktri buka kado, dek Radit sibuk jepret sana jepret sini mengabadikan momen bahagia ini.

“Khan Kakak baru dapet kerja khan, makanya Kakak kasih kado buat Papi dan Mami. Biar Mami dan Papi doain kerjaan Kakak sukses, lancar dan penuh berkah,” kata kak Ais di sela suasana rasa haru di hari ultah ini.

“Buka dunk,” kata kak Ais.
Kemudian Paksu membuka kadonya, dan mendapatkan sebuah kemeja garis garis berwarna soft.

“Muat Pi?”
“Muat dunk, makasih ya ….”

“Mami?”
Maktri membuka kadonya, isinya sebuah celana panjang kekinian.

“Aih lucu,” kata Maktri senang.

“Muat Mi?”

“Tapi kayaknya kekecilan deh.”

“Oia, Mami kayaknya nambah ndut ya?” kata kak Ais sambil memegang lengan Maktri yang empuk.

“Enggak juga.”

“Bukan nambah gemuk, tapi nambah bohay Maminya,” kata Paksu sambil tertawa.

“Tapi tambah cantik, lo!” timpal Radit.

“Memang Mami sekarang celananya pakai nomor berapa, Mi? Kak Ais belinya no 30 lo,” tanya kak Ais.

“Mami cuma naik lima kilo dowang kok Sayang. Cuma naik dua nomor. Sekarang celananya sudah no 32,” kata Maktri malu malu.

“Aduh Mami maap. Kakak tuker nanti ya nanti celananya,” kata kak Ais.

“Enggak usah, biar nanti Mami diet aja,” kata Paksu menimpali.

Maktri nyengir.

“Diet pertama dimulai hari ini ya, Mami enggak boleh makan kue kue ini terlalu banyak,” kata Paksu lagi. “Kita takar!”

Ha-ha-ha.
Tega Paksu.
Kasian Maktri.

Bandar Lampung, Minggu 06 Des 2020

0Shares

Tinggalkan Balasan