Guru Kehidupan oleh Nopiranti

Guru Kehidupan

(Nopiranti)

Buat saya guru itu tidak terbatas pada seseorang yang mengajar di sekolah formal saja. Siapapun yang hadirnya memberi manfaat untuk orang lain di sekitarnya, dialah guru. Sosok yang patut digugu dan ditiru segala kebaikan lisan dan perbuatannya. Dialah guru kehidupan.

Banyak saya temui pribadi mengagumkan yang layak disandangkan gelar guru kehidupan pada mereka. Salah satunya seseorang yang saya sebut Putri Senyum. Saya sebut demikian karena saya tidak tahu siapa nama beliau.

Jangankan tahu nama, bertemu muka pun hanya sekali yang berlangsung dalam hitungan detik saja. Setelah itu tak pernah lagi kami bersua.
Namun, perjumpaan beberapa detik itu telah membawa perubahan dahsyat dalam pola pikir dan tingkah laku saya.

Saya yang tadinya judes, sulit senyum, tertutup, dan kesulitan bersosialisasi, bisa berubah sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang lebih baik. Jalannya karena pertemuan singkat dengan Putri Senyum itu di satu pagi menjelang siang di pusat perbelanjaan kota Sukabumi.

Sekitar tahun 1997 saat saya masih berseragam putih abu. Pagi hari yang cerah di hari Minggu, saya pergi berjalan-jalan sendiri menyusuri pusat kota Sukabumi. Ketika sedang asyik berjalan, dari arah depan nampak sesosok perempuan muda berjalan perlahan ke arah saya. Perawakannya proporsional. Rok model payungnya mengembang indah seiring langkahnya yang ringan terayun. Kerudung warna langit yang dikenakannya senada dengan kaos lengan panjang yang dipakainya.

Semakin dekat dia berjalan ke arah saya. Pikir saya dia akan lewat saja. Seperti semua orang yang lalu lalang di samping kiri dan kanan saya. Tak ada sapa. Tak ada perbincangan. Toh, kami memang tak saling kenal.

Namun pengecualian terjadi saat itu. Saat jarak antara perempuan cantik itu hanya sejengkal saja dengan wajah saya, dia tersenyum. Lengkungan sempurna di bibir tipisnya laksana rekahan kelopak bunga mawar yang indah. Menyapa lembut kemuramahan hati dan kekusutan wajah saya. Wajah yang selama ini sangat jarang berhias senyuman.

“Assalamualaikum.” Setelah senyumnya yang mendadak menghentikan putaran dunia sesaat, suara salamnya yang lembut semakin membuat saya terpaku di tempat.

Saya menatap perempuan itu. Benak tetiba penuh tanya. Saya tidak mengenalnya. Ada perlu apa ya dia kok senyum dan menyapa saya? Saya kira dia akan berhenti juga dan mengatakan maksud dan tujuannya dengan senyum dan salamnya itu. Namun ternyata tidak, sodara-sodara! Dia berlalu begitu saja meneruskan lagi langkahnya yang terayun enerjik.

Tinggallah saya yang bengong sendiri di tengah hilir mudik pejalan kaki yang bertambah banyak seiring mentari yang semakin menghangat. Saya bingung dan merasa heran dengan perempuan tadi. Saya selama ini sama orang yang dikenal saja jarang senyum dan menyapa. Kok, dia yang bukan siapa-siapa, tidak kenal, dan baru juga bertemu, bersikap sedemikian ramahnya ya? Itu rasanya menyenangkan sekali buat saya yang terkena perlakuan istimewanya barusan.

Dalam diam saya merasakan kehangatan menyelinap perlahan memenuhi relung hati. Sebuah kesadaran membelai lembut pikiran saya. Tersenyum dan bersikap ramah pada orang lain itu ternyata indah dan menyenangkan ya. Halo, apa yang telah merasuki saya selama ini ya? Kok sulit sekali tersenyum dan susah bersikap ramah pada sekeliling? Padahal melakukan dua hal sederhana itu efeknya sungguh luar biasa. Membuat hati senang dan bahagia.

Mentari yang semakin meninggi siang itu mencairkan kebekuan yang selama ini menyelimuti jiwa saya. Berkat kehadiran singkat seorang Putri Senyum, saya mendapatkan sebuah pelajaran yang begitu berharga. Hidup sesungguhnya adalah tentang seberapa besar manfaat kita untuk sekeliling. Jika harta dan ilmu belum mampu kita bagi, sekadar seulas senyum dan seucap sapaan tulus pun ternyata bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain.

Sejak saat itu saya tak lagi merasa sulit untuk tersenyum dan bersikap ramah pada orang lain. Seperti saya yang merasa bahagia saat diberi senyum dan disapa dengan hangat, maka saya pun berharap orang lain akan merasakan hal yang sama jika saya bersikap begitu juga pada mereka. Terima kasih Putri Senyum, untuk sebuah pelajaran yang luar biasa indah.

Jumat, 27 November 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan