Gradasi Cinta Aura (Bagian 1) oleh Nopiranti

Gradasi Cinta Aura (Bagian 1)

(Nopiranti)

Aura itu cahaya. Nama cantik yang dengan segenap cinta Ibu Sofi berikan pada bayi ketiganya. Nama yang terlintas begitu saja di benak perempuan lembut penuh kasih sayang itu.

Saat sakit mengedan mendera tak tertahan. Seiring takbir yang lantang terlontar dari bibir kering Bu Sofi subuh itu, bayi itu terlahir selamat dan sempurna.

Tangis yang menyeruak, seketika menghangatkan pagi yang menggigil. Disambut semburat mentari yang lembut menerobos jendela ruang bersalin, Bu Sofi tersenyum lega menatap bayi mungil di tangan bidan. Lisannya seketika menyebut nama indah itu, “Aura…,”

Kegembiraan Bu Sofi berbanding terbalik dengan wajah muram suaminya, Pak Karta. Bukan muram yang tiba-tiba sebetulnya. Sudah sejak empat bulan yang lalu kerutan semakin rapat di dahi suami Bu Sofi yang berpostur tinggi besar itu. Senyum pun jarang nampak terukir di wajahnya. Semua bermula sejak dia menerima hasil USG kandungan istrinya yang menyatakan jika calon bayinya kemungkinan akan berjenis kelamin perempuan lagi.

Sudah bertahun-tahun Pak Karta menahan gejolak di hatinya. Dia begitu berharap bisa memiliki anak laki-laki. Saat anak perempuan pertama lahir, Pak Karta masih diliputi bahagia. Dia bersyukur anak pertamanya lahir sehat dan sempurna. Meski bukan anak laki-laki.

Saat Bu Sofi dinyatakan hamil anak kedua, kembali mimpi Pak Karta menyeruak. Harapannya untuk bisa menimang anak laki-laki kembali membuncah. Meski akhirnya dia kembali harus kecewa saat anak kedua juga ditakdirkan seorang perempuan. Namun kecewanya terobati saat melihat raga putri keduanya yang begitu mirip dirinya. Pak Karta tetap melimpahkan cinta dan kasih sayang pada kedua putrinya.

Tahun berlalu. Mimpi Pak Karya belum juga pudar. Dia tetap berharap bisa memiliki pewaris seorang anak laki-laki. Yang bisa bebas dia ajak mancing, berburu burung di hutan, atau diajari keterampilan membuat aneka mebelair. Maka, ketika istrinya positif hamil lagi, Pak Karta kembali sumringah.

Bayangan keseruan hari-hari bersama anak laki-laki begitu kuat mencengkeram hati dan pikiran Pak Karta. Namun semua mimpinya hancur seketika saat hasil pemeriksaan itu menunjukkan calon bayinya akan mewujud putri cantik lagi.
Sulit bagi Pak Karta menyembunyikan rasa kecewanya. Apalagi saat dia melihat anak ketiganya itu tak ada sedikitpun mirip dirinya. Dari ujung rambut sampai ujung laki semuanya mengikut penampakan fisik Bu Sofi, istrinya.

Melihat sikap suaminya yang begitu sulit menerima kenyataan, Bu Sofi tak begitu terpengaruh. Dia terlalu diliputi rasa bahagia. Sejak awal melihat putri ketiganya itu rasa sayang telah begitu kuat memeluk jiwa raga Bu Sofi. Segenap doa kebaikan dia haturkan untuk putri kecilnya itu. Semua harapan indah itu dia wakilkan pada nama indah yang dia sematkan padanya, Aura. Satu saja harapan Bu Sofi, putrinya itu akan menjadi pribadi indah, cantik, memesona, menjadi cahaya penerang yang menuntut pada jalan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.

Bagaimanakah lukisan hari yang akan tergores dalam kanvas kehidupan Aura selanjutnya? Ikut terus kisahnya, ya 🤗

Nulisbareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan