Air

Glukoma oleh Villia Rangkoto

Glukoma

Penyakit mata ini seringnya hadir tanpa diikuti gejala yang mencurigakan pada seseorang. Glukoma mayoritas diderita oleh mereka berusia lanjut akibat penyakit bawaan sebeumnya seperti diabetes dan darah tinggi. Secara ilmiah penelitian belum berhasil menemukan penyebab pasti penyakit yang sangat mematikan jika tidak segera ditindaklanjuti begitu telah mendapat diagnosa pasti.


Glukoma dianggap sebagai salah satu penyakit hantu yang datangnya tiba-tiba mengejutkan penderita seketika. Tak jarang disebut juga sebagai si pencuri penglihatan. Penderita tidak menyadari gejala glukoma sebab saraf mata diserang secara perlahan. Ketika saraf mata mendapat gangguan maka kemungkinan penyembuhan kecil. Berbeda dengan kondisi di mana yang mengalami sakit adalah bukan saraf. Jika telah mendapat diagnosa jelas maka tindakan berikutnya adalah operasi. Kondisi positif glukoma sudah tak dapat disembuhkan hanya dapat diminimalisir penyebarannya pada mata sebelahnya.

Operasi pada mata yang mengalami glukoma dimaksudkan untuk membuat sayatan pada mata untuk membuka saluran air mata. Sebelumnya terjadi penyumbatan sehingga bola mata mendapat tekanan yang intens hingga akhirnya terdeteksi glukoma. Setelah dibuatkan saluran untuk aliran air mata diharapkan tekanan pada bola mata berkurang, namun penggunaan obat tetes pada mata non-glukoma harus dilakukan sepanjang hidup guna mencegah terkan penyakit yang sama. Maka, seorang penderita glukoma sangat bergantung hidupnya pada pengobatan harian untuk menjaga tekanan normal mata.

Sebelum menjalani operasi ada serangkaian tes yang harus dijalani pasien segera. Mulai dari membaca huruf dari jarak yang bervariasi, diikuti tes ketajaman mata pada benda bergerak. Hal ini dilakukan untuk memastikan tingkat keseriusan glukoma pada seorang pasien. Pada saat menemani suami masuk ruang pemeriksaan yang sengaja digelapkan hadir perasaan sedih sekaligus harapan tinggi agar beliau segera mendapatkan pertolongan dokter, mengingat rasa tidak nyaman yang dirasakan hanya dalam waktu dua hari saja. Glukoma menurut saya benarlah mengejutkan seperti bom yang tiba-tiba meledak di depan langkah. Untungnya di kota domisili kami dekat dengan pusat pengobatan mata sehingga kami segera mendatangi ahli. 

Selama menunggu waktu datangnya operasi suami harus memakaikan tetes mata pada kedua matanya dengan resep obat yang berbeda. Setidaknya tekanan pada mata yang selama ini mengganggu berhasil diketahui meski telah positif bersarang di mata kanan beliau. Maka tugasnya sebagai penderita adalah menjaga tekanan normal pada kedua mata salah satunya saat itu mengurangi asupan kafein pada minuman kopi kesukaan beliau dan mengurangi penggunaan handphone di rumah dalam posisi tidur (istirahat). Dalam berbagai sumber kafein juga dianggap sebagai pemicu.

Tiga hari sebelum tindakan pun dipastikan kondisi pasien stabil. Kekhawatiran timbulnya hal negatif setelah operasi hadir. Namun, sebagai istri saya hanya mampu menyemangati untuk tetap berpikir optimis. Menekankan bahwa sebagai manusia kita perlu mengupayakan pengobatan mata dengan operasi ini. Anggaplah ini teguran untuk cara hidup sebelumnya yang belum disiplin dalam penggunaan handphone atau pekerjaan yang menuntut waktu banyak di depan komputer. Perlu ada sentilan dalam hidup sehingga kita mencapai keihlasan menjalani skenario hidup yang tak terduga sepanjang masa. Tak sampai satu jam operasi selesai. Selama dua minggu penuh kala itu, suami harus menghindarkan air dari muka beliau hingga jahitan pada mata benar-benar mengering.

Bagaimana menghadapi kondisi setelah operasi glukoma? Tetaplah bertindak dan berpikir positif. Bahwa masih ada kesempatan meningkatkan kulaitas hidup meskipun salah satu mata telah mengalami cacat diikuti ketergantungan obat untuk mata sebelahnya sepanjang hayat. Banyak pasien yang lalu lalang menemui dokter mata dengan kondisi yang seringnya tak terselamatkan lagi karena terlambat memeriksakan diri. Ada juga pasien yang bersikeras menjalani terapi herbal ketika telah mendapat diagnosa positif dari dokter. Sangat disayangkan pada masa ini jika masih ada yang berpikiran tradisional sedangkan kondisi mata sangat mempengaruhi kegiatan sehari-hari. Dalam hal ini ilmu dan wawasan pasien perlu diperbaharui agar pasien positif glukoma dapat segera tertangani.

Walau penyebab jelas penyakit glukoma belum diketahui, berikut adalah faktor-faktor yang diduga berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit glukoma:
• Berusia di atas 40 tahun.
• Pernah mengalami cidera pada mata atau menjalani operasi mata.
• Pernah terdiagnosis mengalami tekanan mata tinggi atau hipertensi okular.
• Menderita penyakit mata yang lain seperti rabun jauh, rabun dekat, peradangan pada mata, dan gangguan pada retina, lensa atau pembuluh darah mata.
• Memiliki anggota keluarga yang juga menderita glaukoma.
• Menggunakan obat kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama.
• Menderita penyakit seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung atau kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
• Glaukoma dapat menyerang kedua mata dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Jadi, selamat menjaga kesehatan mata dan waspada pada faktor-faktor penyebabnya. Jangan ragu untuk memeriksakan diri lebih awal secara rutin pada ahlinya. Mata adalah modal utama dalam berkarya.

Sumber:

http://obat-glaukoma.com/glukoma-dan-penyebabnya/

http://omedicine.info/id/glaukoma-operatsiya-po-lecheniyu-glaukomy.html

JTEC Pasar Rebo, Jaktim

Nulisbareng/VilliaRangkoto

0Shares

Tinggalkan Balasan