Aplikasi Tiktok

Generasi Tiktok VS Generasi Pelempar Peruncing Kaca di Bawah Rok Perempuan

Ada yang kenal dengan aplikasi tiktok? Rasanya di zaman sekarang tidak ada yang tidak kenal tiktok. Aplikasi yang viral karena dikatakan sangat pantas sebagai hiburan. Banyak fitur yang menarik ditawarkan pada aplikasi ini, seperti pilihan musik, efek khusus, rekaman klip musik lainnya. Sejatinya penggunaan aplikasi tiktok sama saja halnya dengan penggunaan sosial media lainnya. Seperti facebook, instagram, youtuber, dan lain-lain, semua bertujuan untuk ekspresi diri supaya dinilai eksis. Semuanya bisa menjadi ajang penyaluran bakat dan kreativitas anak muda, bisa menjadi positif juga bisa menjadi negatif. Mengapa? Karena hal ini kembali lagi pada etika penggunanya. Generasi tiktok adalah sebutan bagi pengguna aplikasi ini. Kita lihat potret generasi pemain tiktok.

Sebenarnya dengan pilihan musik dan sarana pembuatan video wajarlah tiktok jadi digemari sebagai sarana hiburan. Lagi suntuk, jenuh dengan tugas-tugas sekolah, maen tiktok-an apalagi bareng temen-temen, jadi seru lagi. Yang membuat jadi negatif hingga aplikasi tiktok pun sempat diblokir penggunaanya di Indonesia pada tahun 2018 lalu, adalah kelakuan penggunanya sendiri. Ada yang pamer aurat sembari tiktokan. Ada yang dengan sengaja mempermainkan ibadah dengan menggunakan aplikasi tiktok. Alih-alih menjadi lucu, bukankah hal itu justru menjadi penghinaan buat agamanya sendiri? Belum lagi star syndrome yang terjadi pada tiktoker yang berhasil menggaet banyak followers sehingga dengan instannya menjadi bintang. Tanpa perlu bersusah payah ikut audisi semacam Indonesian Idol saja, sudah bisa layaknya artis. Tahu, nggak, contohnya siapa?

Pernah ada sosok anak muda yang konon kabarnya sangat terkenal dikarenakan aplikasi ini. Saking terkenalnya, sampai dibuatlah semacam grup fansnya, dibilang bikin agama barulah, dengan dia sebagai Tuhannya. Bahkan ada saking bodohnya pingin pecah perawan sama dia. Nauzubillahmindzalik. Kalau sudah begini, salahnya siapa? Salah aplikasinyakah? Apa bedanya dengan penggunaan Facebook, Instagram, Youtube, Smule, rasanya di semua aplikasi ada saja pengguna yang menyalahgunakan dengan pemakaian berunsur negatif. Di Youtube misalnya, konten berbau pornografi bisa dengan mudah ditemukan. Atau Smule, ada juga yang memanfaatkannya bernyanyi sambil praktik exhibisionisme. Tahu, kan, kelainan psikologis yang menemukan kepuasan seksual hanya dengan mempertontonkan alat kelaminnya. Yup. Kalau ada seseorang yang merasa puas dengan pamer aurat, ada baiknya langsung dibawa ke psikolog, siapa tahu memang menderita exhibisionisme ini, deh.  

Saya ingin mengajak teman-teman kembali ke masa lalu, kembali ke zaman ketika belum ada media sosial. Apakah dulu dikarenakan tidak adanya gadget, maka tidak ada generasi yang melakukan hal negatif? Kita lihat faktanya.

Saya teringat ketika SD dulu, saya pernah memarahi teman lelaki yang punya hobi melempar peruncing kaca ke bawah kaki anak perempuan. Bukan hanya satu orang, ada beberapa teman lelaki yang mempunyai hobi seperti ini. Mungkin dilandasi keisengan awalnya. Dulu kan, zamannya rautan atau peruncing pensil yang berbentuk bulat dengan cermin di salah satu sisinya. Nah rautan itulah yang seringkali dilempar diam-diam di bawah kaki anak perempuan yang sedang berdiri, tepat di bawah roknya. Tujuannya? Apalagi kalau bukan untuk melihat celana dalam anak perempuan itu berwarna apa. Saya ingat, waktu itu saya pernah marah besar hingga berkata, “heh, mau lihat celana dalam aja segitunya, di pasar kan, banyak.”

Waktu itu, saya belum tahu hal semacam itu termasuk pelecehan yang tentu saja tidak dibenarkan. Kalau saya tahu, pastinya saya sudah melaporkan kepada guru. Walau saya juga tidak yakin sih, guru akan bertindak. Secara, saya punya banyak pengalaman buruk dengan guru SD saya yang suka men-judge siswanya.

Jadi, apa bedanya generasi tiktok dengan anak lelaki pelempar peruncing kaca di bawah kaki anak perempuan ini? Benarkah kelakuan negatif generasi zaman now dikarenakan adanya gadget dengan beragam aplikasinya? Kenyataannya dari dulu kelakuan negatif itu tetap ada. Dari dulu pendidikan etika perlu ditanamkan. Sejak dulu, PR orang tua sangat banyak dalam hal mendidik putra-putrinya. Diperlukan peranan orang tua maksimal dalam mempraktikkan asah, asih, asuh. Bahwa orang tualah yang menyediakan pondasi terpenting bagi anak-anaknya, generasi penerus bangsa ini.

Bandar Lampung, 14 Agustus 2020

nulisbareng/Emmy Herlina

0Shares

Tinggalkan Balasan