Anak perempuan

Gadis Kecil dan Mawar Merah oleh Siti Rachmawati M.

Gadis Kecil dan Mawar Merah (Siti Rachmawati M.)

“Mah, aku berangkat.”

“Tumben? Jam segini sudah mau jalan?” tanya Mamah sambil melirik benda bulat yang menempel di dinding.

“Ada kuliah jam pertama, Mah.” Kucomot roti tawar di atas piring, “ya dah, aku berangkat dulu ya, Mah.” Kucium pipi Mamah yang halus dan licin bak porselen.

“Ardi, kamu ndak sarapan dulu, Nak?”

“Ndak usah, Mah. Nanti di kantin saja!” seruku sambil berlari menuju si Black Sweet, mobil hitamku.

Kupacu roda empatku dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan ibu kota Jawa Tengah, kusibak macetnya kendaraan yang merayap. Namun Semarang tetaplah kota dengan segala kemacetan, polusi, bising juga panas.

“Pa-raahh …!” kugebrak kemudi dengan keras. “Kenapa jam segini udah macet!”

Saat di perempatan, “Tin … tiiinn … tiiiiinn …!” Bunyi klaksonku memekakkan telinga. Orang-orang menoleh ke arahku dengan mata melotot, bahkan ada yang mengumpat. Tak kuhiraukan mereka. “Kenapa ndak buruan jalan sih! Nah kan … sudah merah lagi. Huh …!”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela kanan, “Kak, beli mawar ndak?” tanya gadis kecil berpakaian lusuh dengan mata sayu.

Aku tetap bergeming, kemudian dia berusaha menawarkan lagi. “Murah Kak. Cuma sepuluh ribu.”

“Oke, yang merah ya, Dik. Satu saja!” Kuserahkan uang dua puluh ribuan.

“Belum ada uang kembalian, Kak.” Tangannya sibuk merogoh saku.

“Ya, sudah. Kembaliannya buat kamu saja.”

“Terima kasih, Kak.” Gadis kecil itu tersenyum riang, tampak dari binar matanya yang bersinar cerah. Dia mencium uang dariku penuh suka. Kemudian berlalu pergi.

Lampu hijau menyala, segera kupercepat laju kendaraan menuju kampus. Mr. Albert terkenal sebagai dosen killer. Aku ndak mau kena semprot, gara-gara terlambat.

Kuparkir mobil di tempat biasanya. Tak lupa mawar merah kuambil.

“Hai, Ar. Tumben bawa mawar?”

“He-eh, iya.”

“Buat aku saja ya?” pinta Nita, gadis yang selama ini menaruh hati padaku.

“Nih!” segera kulempar mawarnya, buru-buru dia tangkap dan diciumi.

=====

Pada suatu sore, pulang kuliah. Sekelebat kulihat gadis kecil penjual bunga sedang berjalan cepat. Kuikuti ke mana dia pergi. Terperangah aku dibuatnya. Dia menuju ke pemakaman umum. “Mau ngapain dia?” tanyaku dalam hati.

Agar dia tidak tahu kalau ada yang sedang membuntuti, aku mengendap-endap dan berjalan berjingkat.  Beberapa saat kemudian, dia duduk bersimpuh di sebuah pusara dengan kayu nisan sederhana di atasnya. Terlihat dia berdoa dengan khusyuk. Selesai berdoa, dia pegang ujung nisan. Dia mengusap lembut penuh kasih sayang. Seolah-olah dia sedang berbincang dengan seseorang.

Dari kejauhan, kudengar sekilas suaranya. “Bun, tadi pagi Ifah ketemu kakak ganteng yang baik hati. Dia beli mawar satu. Nah, Ifah kan belum dapat uang nih. Eh, uang kembaliannya dikasih ke Ifah, Bun. Ifah se-neeggg … banget!”

“Oh ya, Bun. Hari sudah sore. Ifah pulang dulu ya? Besok Ifah ke sini lagi. Bunda tidur yang nyenyak ya? Dadag Bun ….” Dia melambai kepada nisan di depannya.

Saat dia beranjak pergi, buru-buru aku mengejarnya. Sepasang kaki panjang yang kupunya, bukanlah hal yang sulit untuk menyusul langkah kecil di depanku. “Hai, Dik,” sapaku.

“Eh, kakak ganteng. Kakak di sini juga? Sama siapa?” Dia celingukan mencari seseorang.

“Kakak sendiri saja kok. Kamu dari mana?”

“Nengok Bunda, Kak.”

“Namamu siapa?”

“Afifah, Kak. Panggil saja, Ifah.”

“Kamu mau pulang? Ayo, kakak antar.”

“Ndak usah, Kak. Ifah sudah biasa jalan kaki sendiri.”

“Ayo, kebetulan kita searah,” kataku mengarang cerita.

“Emang Kakak tahu rumah Ifah?” Dahinya mengernyit kebingungan.

“Eh, ke luar pintu makam terus belok kiri kan?” jawabku sok tahu.

“Salah, Kak. Belok kanan bukan belok kiri.” Dia menjelaskan kemudian tersenyum manis.

Kubukakan pintu, dia masuk dengan ragu, “Kakak benar mau ngantar Ifah?”

“Ya, iyalah. Kenapa?”

“Kakak ndak akan menculik Ifah kan?” tanyanya dengan wajah cemas.

“Hahaha … Ifah … Ifah. Kamu tuh lucu dan polos banget ya?”

“Karena Ifah pernah lihat tv ada berita tentang penculikan, Kak.” Dia tersipu malu menyadari ketololannya.

“Sudahlah, yang pasti Ifah sampai rumah dengan selamat. Oke?”

Si Black Sweet pun meluncur, menyibak jalanan yang selalu macet. Apalagi saat jam-jam kerja seperti ini. Saat para pegawai kantor pulang kerja. Atau para pekerja pabrik pas shift sore. Ketika melewati rumah makan Padang, aku berbelok.

“Kakak, kenapa berhenti?”

“Tunggu sebentar ya? Jangan kemana-mana!” kataku. Dia mengangguk.

Tak berapa lama, aku sudah menenteng dua bungkus nasi Padang lengkap dengan lauk pauknya.

“Nih, buat kamu. Dimakan lo ya?”

“Terima kasih, Kak. Tapi kok dua? Yang satu untuk siapa?”

“Nanti kita makan berdua ya? Oke?”

“Tapi, rumah Ifah ….”

“Kenapa? Jelek ya?” tukasku cepat.

Kulihat matanya berkaca-kaca. Kemudian aku buru-buru, “Maaf, Kakak tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Yang mana nih rumahnya?”

“Depan itu ada pertigaan, lurus saja Kak. Maju dikit. Nanti sampai.”

Kami tiba di rumah kecil yang sederhana. Rumah kayu dengan cat yang sudah mulai kusam. Jendela kaca yang pecah. Pintu yang tidak bisa ditutup rapat, karena engselnya lepas. Kuedarkan pandangan. ‘Hem, Ifah ini anak yang rajin. Halamannya saja bersih, bunga-bunga terawat dengan baik. Pohon juga banyak yang berbuah,’ gumamku dalam hati.

“Silakan masuk, Kak. Maaf, tempatnya kotor. Habis, Ifah jualan dari pagi sampai siang. Kadang-kadang kalau pas musim hujan, jualan sering ndak laku. Bahkan mawarnya banyak yang rusak kena air.” Dia nyerocos panjang lebar. Tak tampak kesedihan di matanya. Justru aku yang mendengar ceritanya, mulai terenyuh.

“Kamu di rumah sama siapa, Dik?”

“Sendirian Kak.”

“Ndak ada yang lain?”

Dia menggeleng lemah. “Sejak Ifah masih dalam gendongan Bunda, Ayah pergi kerja di Jakarta. Tapi, sejak itu Ayah tidak pernah pulang. Dua tahun yang lalu, Bunda sakit. Kemudian meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Meninggalkan Ifah sendirian.” Bulir bening bagai perak, mengalir menganak sungai di pipi Ifah. Kulingkarkan lenganku ke tubuh kecil, kurus dan mungil itu. Aku tidak bisa membayangkan betapa berat beban hidupnya.

“Sekarang Ifah ada Kakak. Oke?”

Dia mengangguk.

“Ayo, kita makan ….”

=====

Tiga hari sudah, aku tak melihat Ifah. “Kemana dia ya? Biasanya jam segini dia sudah menjajakan bunga,” gumamku saat berhenti di lampu merah.

“Tok … tok … tok …!” Kaca jendela diketuk seseorang.

“Hai, kamu Dik,” seruku senang. Namun aku melihat ada sesuatu di matanya. “Kamu kenapa, Dik? Kamu sakit ya?”

“Ndak papa kok Kak. Oh ya, ini spesial untuk Kakak hari ini.” Dia sodorkan sekuntum mawar merah segar dari tangannya yang mungil. Sekilas sempat kulihat, ada bercak darah yang sudah mengering di tangan kanannya.

“Tumben jam segini sudah habis dagangannya?”

Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. “Kakak ganteng, hati-hati di jalan ya?”

“Iya. Kamu juga ya?” Dia mengangguk kemudian melambai pergi. “Dadag … Kak!”

Saat kuliah di kelas, pikiranku hanya teringat pada gadis kecil itu. ‘Ada apa dengan Ifah ya? Rasanya kok ada yang aneh. Tidak seperti biasanya,’ kataku dalam hati. “Ah, sudahlah. Semoga dia baik-baik saja.”

Sepulang kuliah, kucari di perempatan di mana biasanya dia jualan. Namun pencarianku nihil. Kutanya ke ibu penjual sayuran, dia menggeleng tidak tahu. Berikutnya aku tanya ke pengamen, katanya mereka tidak kenal dan tidak melihat.

Hampir putus asa rasanya, kemudian kutanya penjual asongan, “Pak, maaf. Bapak lihat gadis kecil penjual mawar ndak?”

Bapak itu menggeleng, “Bapak tidak mungkin bertemu dia lagi. Karena dia sudah meninggal kemarin sore,” katanya dengan raut muka sedih.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Dia kenapa Pak?” tanyaku gugup.

“Kemarin saat mau menyeberang, dia terserempet motor. Kemudian jatuh dan tubuh mungilnya terlindas truck.” Bapak itu menangis terisak. “Kasihan, dia anak baik.”

Aku jatuh terduduk. “Ja-jadi … tadi pagi yang memberiku mawar spesial itu. Si-si-siapaaa???”

Selesai

Grobogan, 25 April 2020

Jumlah kata : 1.177 kata

nulisbareng/Siti Rachmawati M.

0Shares

Tinggalkan Balasan