Friday the 13 Th oleh Ade Tauhid

Friday the 13 th
By Ade Tauhid

Minggu depan Paksu dinas keluar kota selama tiga hari. Tentu saja Maktri ogah ditinggal sendiri. Maktri mau ikut.

“Eggak boleh lo, Mi, masak bawa istri, ini khan tugas kantor. Enggak enak sama temen Papi dong,” kata Paksu melarang.

“Pokoknya Mami mau ikut,” kata Maktri maksa.

“Jauh lo, Mi, tempatnya agak terpencil. Nginepnya juga bukan di hotel tapi di losmen. Hotel kecil gitu,” kata Paksu kasih pengertian.

“Pokoknya ikut,” kata Maktri. “Tega ya Mami ditinggal ndili di rumah? Kalo Mami diculik gimana?” tanya Maktri.

‘Idih siapa juga yang mau nyulik Mami? Mami khan makannya banyak,’ kata Paksu dalam hati. Takut kedengeran Maktri, bisa ngambeg Maktrinya. Ha-ha-ha.

“Yowes kalo maksa tapi jangan nakal, jangan rewel dan jangan minta pulang,” kata Paksu.

Soalnya Paksu tau Maktri khan orangnya rewel, tukang maksa, bawel. Maktripun tersenyum teramat manis pada Paksu.

Hari H pun tiba.
Paksu sudah siap, Maktripun sudah siap.

“Yuk Mi nanti kita ketinggalan bus,” kata Paksu.

“Hah, bus?”

“Iya, bus.”

“Kok, bukan pesawat Pi?”

“Khan keluar kota Mi, luarnya kota bukan di dalem. Berarti kampung. Mana ada pesawat ke kampung. Dari sini kita naik bus, lalu diteruskan dengan naik angkot, trus jalan kaki lima kilo baru deh nyampe ke tujuan,” kata Paksu nakut nakutin.

“Ih!’

“Jadi ikut, enggak?”

“Ikut khan ada Papi. Mami pasti aman,” kata Maktri sambil kedip kedip.

“Tapi enggak boleh rewel ya!”

Maktri tersenyum manis semanis jus alpokat. Maktripun menggandeng Papi jalan menuju bus kota.

Sekitar enam jam di bus, Maktri dan Paksu melanjutkan perjalanan dengan menumpang angkot.
Jalanan jelek membuat Maktri mual dan ingin muntah. Tapi untung bisa ditahan, sampai di tujuan.

Betul kata Paksu, mereka nginap di sebuah losmen bukan hotel.

Maktri bergidik. Maktri mencium aroma aroma yang enggak enak di sini. Hati Maktri jadi dag-dig-dug.

“Masih sepi ya Pi, temen Papi belum ada yang dateng?” tanya Maktri.

“Belum Mi, mungkin dalam perjalanan semua. Seminarnya khan entar malem abis Magrib. Siang ini waktunya registrasi. Biasalah orang-orang telat sedikit,” kata Paksu menjelaskan.

Maktri mengangguk-angguk. Maktri memandang sekeliling losmen. Hanya dua-tiga orang yang tampak duduk-duduk berjauhan.

Sambil menunggu Paksu yang sedang registrasi Maktri menyenderkan badannya ke dinding.

Uff! Dingin sekali dindingnya. Maktri meraba dinding tapi baru diraba sedikit dinding mengelupas. Ih!

Maktri memandang sekeliling losmen, sepertinya dinding-dinding losmen ini terbuat dari bahan yang berbeda, sudah tambal sulam. Di ujung pojok malah banyak dinding yang mengelupas sehingga bongkahan batanya tampak jelas. Bagian atasnya juga kayu plafonnya ada yang jebol sebagian.

“Aduh serem banget sih losmen ini?” batin Maktri.

Jadi atut Maktri, merinding-padahal masih siang lo. Mustinya khan kalau mau bergidik, merinding-merinding gitu berasanya saat malam, bukan siang begini. Dasar aja Maktri mau nakut-nakutin pemirsa yah?

“Ayuk Mi, kita kamarnya di lantai dua no 13,” kata Paksu sambil menggeret kopernya. Maktri mendekat, langsung menggandeng erat tangan Paksu.

“Mami kenapa sih?” tanya Paksu.

“Atut.”

“Santai, Mi.”

Sesampainya di kamar 13, ternyata kamar itu besar sekali, ada tempat tidur, sofa, tivi, kamar mandi dan ruang dapur sekaligus.

Tapi cet kamarnya sudah banyak yang mengelupas dan berjamur. Hampir sama keadaannya dengan dinding di luar tadi.

Maktri jadi semakin takut. Gede amat kamarnya.

“Enggak bisa tuker yang kecil aja apa Pi kamarnya?” tanya Maktri.

“Enggak ada Mi, ini satu satunya kamar yang tersisa. Yang lain sudah penuh,” kata Paksu.

Maktri masuk dan membuka gorden jendela, terlihat ada pohon sawo yang sangat besar di sana. Di sebelahnya sepertinya ada kamar, tapi tampak suram dan gelap. Padahal ini masih siang.
Mungkin karena sinar mataharinya tertutup pohon sawo itu, batin Maktri menghibur diri.

“Papi mandi dulu ya Mi,” kata Paksu.

“Jangan lama lama ya Pi,” kata Maktri.

“Mami nonton tivi aja ya. Jangan takut,” kata Paksu sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Sepertinya Paksu tau deh kalau Maktri itu takut. Soalnya bukan cuma Maktri saja yang merasakan aroma tidak layak di losmen ini.

Sebenernya Paksu juga. Tapi Paksu enggak mau ngomong sama Maktri takutnya Maktri semakin takut.

Bisa langsung minta pulang Maktrinya, padahal seminar aja belum dimulai.

Maktri menyetel tivi, Maktri kaget karena channelnya pas film horor.

Ada cewek berjubah putih rambutnya panjang terurai dan memegang pisau. Darah mengalir dipisah itu, sepertinya dia habis membunuh.

Tatapannya kosong menatap Maktri. Ih serem amat! Langsung Maktri mematikan tivinya.

“Kok dimatikan tivinya Mi?” tanya Paksu yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Maktri. Abis mandi diye.

“Ngagetin aja!” kata Maktri gusar.

“Film horor ya. Ha-ha-ha, penakut!”tawa Paksu. “Sana mandi, Mi!”

“Papi nanti malam jam berapa acara seminarnya?” tanya Maktri.

“Jam setengah delapan sampai jam sebelas, napa gitu?”

“Coba lihat jadwalnya Pi,” pinta Maktri.

Paksu menyodorkan dua lembar kertas putih ke arah Maktri.

“Ini malem Jumat ya, Pi?” tanya Maktri. “Tanggal 13?”

“Iya, sekarang tanggal 13 malem Jumat,” kata Paksu mengiyakan.

“Oh tadi yang Mami tonton film Friday the 13th ya? Pantes ketakutan.”

“Bukan. Itu bukan film friday the 13th kok, tapi film Jepang. Serem!” kata Maktri.

“Cuma film itu, Mi,” kata Paksu menenangkan Maktri.

“Serem tau, Pi, itu hantu cewek ngeliatin Mami aja makanya Mami matiin tivinya,” kata Maktri.

“Cuma film Itu, Mi, enggak usah takut, percaya deh!”

Bahaya nih kalau Maktri ketakutan, bisa bisa Paksu dilarang seminar lagi. Atau nangis minta ikut.

Maktri Khan gitu rewel orangnya,makanya tadi Paksu selalu bilang jangan takut.

“Papi malem ini enggak usah pergi ke acara Papi ya,” kata Maktri. Tuh Khan bener. Bahaya nih.

“Iya enggak bisa dong, Mi,” kata Paksu.

“Kalau enggak, Mami ikut,” kata Maktri mau nangis.

Please deh, Mi,” kata Paksu. “Ini acara kantor.”

“Pi ….”

“Mi, please!”

Please!”

“Oke, Mami enggak usah ikut ya. Biar nanti tiap setengah jam Papi nelponin Mami ya. Papi janji,” kata Paksu buat kesepakatan.

Alhamdulillah, Maktri setuju.
Akhirnya Paksu berangkatlah ke acara kantornya. Tempatnya tidak begitu jauh dari kamar Maktri, hanya beda satu lantai.

Di situ ada ruangan terbuka yang biasa dipakai orang-orang kantoran mengadakan acara workshop atau seminar.

Baru saja Paksu pergi Maktri sudah takut. Ingat film tadi, seperti nyata tatapan cewek berjubah putih tadi.
Tatapannya kosong menatap Maktri tajam sebelah tangannya memegang pisau berdarah.

Maktri jadi takut, kalok itu cewek berjubah nongol beneran.

Lalu Maktri naik ke tempat tidur dan menutup wajahnya dengan guling.
Tiba-tiba.

“Seret sret sret ….” Terdengar sayup langkah kaki yang diseret.

Maktri takut, suara apa tuh? Maktri takut tapi kepo😀, Maktri menajamkan pendengarannya.

“Sret sret sret ….” Suara itu terdengar semakin mendekat. Maktri jadi keder, enggak jadi kepo.
Maktri enggak berani gerak, juga enggak berani menoleh. Maktri mulai merasakan kakinya gemetar.

Maktri takut jangan jangan itu suara cewek berdaster putih. Maktri semakin merapatkan wajahnya dengan guling. enggak mau lihat dia.

“Sret sret street ….”
Suara itu semakin dekat aja.

“Tolong Papiii, tolong Papiii. Mami taakuuut!” teriak Maktri tertahan. Padahal perasaan Maktri sudah teriak kenceng. Kok, suara Maktri enggak ada? Jantung Maktri semakin berdegup kencang.

Suara sret sret itu semakin dekat. Waduh! Kalau Maktri enggak bisa teriak, Maktri harus lari. Iya lari.

Maktri mengumpulkan seluruh kekuatannya.
Iya, Maktri harus lari, dalam hitungan ketiga Maktri harus lompat, lempar guling dan lari.
Maktri merasa ada yang menyentuh jempol kakinya.
Satu, dua tiiiigaaa!
Maktri sudah enggak tahan, dengan sekuat tenaga akhirnya Maktri berhasil melompat dari tempat tidur.

“Hiya!!! Maktri lempar gulingnya, lalu lari.

GUBRAK!!! Maktri menabrak cewek berjubah. Berdua mereka terjatuh ke lantai, Maktri enggak mau melewatkan kesempatan, dicekiknya leher si cewek berjubah.

“Oufhh.. ofhhh!” Cewek itu gelagapan.

“Mati enggak lu ! Mati enggak lu!!”kata Maktri gemes.

“Aduh, aduuh …! Mami apa-apaan sih? Mau bikin Papi mati apa?” tanya Paksu sambil mengguncang guncangkan tangan maktri.

“Bangun Mi, bangunnn!”
Maktri kaget, matanya melotot tepat di wajah Paksu. Satu tangan Maktri masih ada di leher Paksu.

“Astaga!”
Paksu menjulurkan lidahnya. “Week!”

“Mami mimpi apa sih?”

Maktri langsung duduk. Hah?? Cuma mimpi kah?

“Mami mimpi apa sih, Papi kok sampai dicekik gitu, mana diteriakin ‘mati lu – mati lu!’ Mami mimpi apa sih?” tanya Paksu penasaran.

“Mimpi Papi selingkuh ya?” kata Paksu sambil kedip-kedip.

Maktri melotot, tapi kali ini sambil tersenyum mesti kecut.

Ha-ha-ha.

Bandar Lampung, Sabtu 12 Des 2020
Ade Tauhid/Nubar Rumedia

0Shares

4 comments

Tinggalkan Balasan