Frekuensi

FREKUENSI? oleh Putri Zaza

FREKUENSI?

“Kata orang hubungan itu harus satu frekuensi, bener enggak?”
“Iya, terus kenapa?”
“Kalau udah enggak satu frekuensi tandanya apa?”
“Ya…, udah enggak cocok, enggak sejalan. Kamu, kok tiba-tiba ngomongnya kayak gitu?”
“Ngerasa, enggak? Kita kayak gitu sekarang?”
“Haa, emang iya? Perasaan kamu ajah, kali.”
“Iya, seperti sekarang, aku tak merasa lagi kita istimewa.”
“Mmm… terus mau kamu, kita…”
“Bisa iya, bisa enggak. Yang jelas aku tak mau terlalu lama menyakiti lebih dalam lagi.”

Percakapan di atas terdapat di lagu ‘Dan’ milik Sheila On Seven yang di cover oleh Luthfi Aulia dan Brisia Jodie di Youtube. Percakapan tersebut sama persis dengan kondisiku saat ini.

Aku dan Ihsan sudah berpacaran selama enam tahun. Namun, aku tak lagi merasakan gerataran atau keistimewaan dihubungkan kami yang ada hanya rasa bosan yang kian meningkat.

Saking  bosannya sampai ada di titik copy paste terhadap pesan yang kukirim untuk membalas pesan formalitas darinya.

‘Sudah makan? Sudah salat? Lagi ngapain? ‘ dan beberapa pertanyaan membosankan lainnya. Sudah setoksik itu hubungan kami, hingga akhirnya berakhir.

“Aku mau ke rumah.”
“Ya, ke rumah ajah. Kayak baru pertama kali.”
“Aku mau ketemu orang tua kamu.”
“Mau ngapain?”
“Mau bilang kalau aku mau nikahin kamu.”
“Hah! Jangan bercandalah.”
“Aku serius.”
“Jangan! Aku belum bisa, aku belum yakin.” Akupun meninggalkan Ihsan. Di kedai biasa kami berdiskusi.
“Ziva, kenapa?” Rupanya Ihsan mengikutiku dan menahanku.

“Aku masih belum bisa menerima dan memaafkan apa yang kamu perbuat tiga tahun lalu.” Ihsanpun terdiam dan membiarkanku pergi.

Ajakan menikah adalah kata yang ingin sekali kudengar. Walau, sudah tiga tahun berlalu, rasa sakit yang kurasa masih membekas, belum siap jika suatu saat ia ulangi kesalahan itu saat status kami sudah menikah.

Aku yakin, Kondisi saat ini kami sama-sama mulai bosan. Namun, terjebak dengan rasa nyaman. Kurasa berpisah adalah keputusan yang tepat, walau, terasa sulit.

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan bersamanya terlalu banyak tempat yang pernah kita kunjungi hingga terlalu banyak kenangan yang menjejak.

Percayalah, Sayang, berpisah itu mudah.
Tak ada kamu di hidupku aku mampu.
Namun, menghapuskan semua kenangan kita.
Adalah hal yang paling menyulitkan untukku.

Lagu ‘Berpisah Itu Mudah’ dari Rizky Febian dan Mika Tambayong yang paling ngena setelah berpisah dengan Ihsan. Nyaris tiap hari mataku bengkak akibat menangis semalaman di minggu pertama kami putus. Ini bukan air mata penyesalan karena meninggalkannya tapi, air mata penyesalan kenapa tak sejak tiga tahun lalu kuakhir dengan cara yang lebih baik.

Tak mudah, tapi harus, hubungan kami sudah tak sehat, sudah tak lagi baik. Kami hanya memaksa untuk tetep pada satu frekuensi dan kami terus saling menyakiti. Walaupun, banyak orang yang menyayangkan. Tapi, kami tak ingin terus saling melukai.

Andai dulu kupaksakan terus bersamamu
belum tentu kisah kita berdua berakhir bahagia
kisah yang mendewasakan kita berdua meski lewat luka
satu hal yang kini aku mengerti
meski berat bibir ini mengucap
akan selalu ada kata selamat
dalam setiap kata selamat tinggal

Lagu ”Selamat Tinggal’ dari Virgoun dan Audy yang dapat menguatkanku bahwa suatu hari nanti, kami akan hidup lebih bahagia tanpa menyakiti. Tersenyum dengan menggenggam tangan yang lain.

Nb: cerpen ini adalah penggalan kisah dari cerbung ‘Cinta Tak Salah’. Semua konflik permasalahan akan diceritakan di cerbung. Baca dari part 1 di https://parapecintaliterasi.com/cinta-tak-salah-part-1-oleh-putri-zaza/

Cibitung, 23 Mei 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan