Mudik

Dulu Ketika Diberikan Kesempatan Mudik, Mudiklah. Tapi Sekarang JANGAN (oleh Ade TAUHID)

Dulu ketika diberikan kesempatan mudik, mudiklah. Tapi sekarang jangan …
By Ade Tauhid

Ketika 14 hari dihimbau untuk stay at home, maktri dan keluarga dan tetangga semua ramai-ramai patuh untuk berada di rumah masing-masing. Memakai masker jika ada keperluan, sampai sampai maktri yang orangnya panikan bela-belain beli makanan yang agak banyak, agar keluarga tercukupi selama masa SAH.

Tapi setelah 14 hari maktri keluar rumah mau belanja lagi. Masih ramai saja, tuh, pasar tradisional di dekat rumah maktri, bahkan mall yang katanya dihimbau tutup dari tanggal 16 sampai 27 masih buka. Berarti covid19 tidak pengaruh sama kota maktri.

Cuma memang mall agak sepi, sih, waktu maktri dan paksu ke sana, hanya satu pintu yang dibuka.
Pengunjung juga sedikit, semua pakai masker warna-warni, sepertinya enggak ada, tuh, orang pakai masker yang harganya tiga ratus ribuan .. hehe.

Iya, loh, dulu maktri sempet kewalahan cari masker, semua mahal. Maktri beli online, uang maktri dikembalikan.
Akhirnya banyak orang yang pakai masker dari kain, warna-warni dan murah. Sepuluh ribu tiga. Iya, maktri beli.

Malah saking murahnya masker itu sekarang dibagikan gratis! Pernah ada cerita, maktri dan paksu naik motor ke pasar. Maktri pakai masker tapi paksu tidak, eh kita di-stop sama sukarelawan yang bagi-bagi masker. Dia memberikan satu masker buat paksu, sembari ngomal-ngomel enggak karuan.

Maksudnya himbauan, kali, cuma di kuping maktri, tuh, orang itu seperti ngomel-ngomel, mukanya keruh. Maktri sudah colak-colek paksu aja, orang itu kan, body-nya kecil, jauh lebih besar body paksu. Tapi kenapa, kok, paksu cuma manggut-manggut aja diomelin? Sebel maktri. Jiya!!!

Sementara di kota besar seperti Jakarta dan Bandung sudah kena zona merah, tapi tempat maktri tinggal, Alhamdulillah masih aman.

Pelabuhan terbesar Lampung di tempat maktri juga belum ada himbauan PSBB, masih buka, kok. Malah banyak bus-bus antar kota yang keluar masuk bebas -eit tapi bayar ding! Hihi.

Karena memang kebetulan kota tempat maktri tinggal adalah kota transit atau kota singgah. Jadi, kalau ada orang dari kota mana saja, tujuannya ke Palembang, Padang , Jambi dan lain-lain, pasti terlebih dahulu lewat Lampung .

Namanya juga kota singgah, ibarat ada orang bertamu, ngobrol dan dijamu. Trus si tamu pergi, tinggallah kita si tuan rumah beberesan.

Begitulah, karena banyaknya tamu asing yang berseliweran alhasil Lampung kota tercinta maktri jadi terkena zona merah juga, PSBB juga, dan tidak boleh mudik!

What??
Tidak boleh mudik??
Maktri mlotot, menatap layar kaca yang berukuran 50 cm itu yang baru saja menayangkan himbauan TIDAK BOLEH MUDIK tanpa berkedip. Kakinya berselonjor menyilang di atas sofabed yang baru dibeli paksu dua hari kemarin. Ciyee pameerr!

Ini sudah setengah bulan puasa, setengah bulan lagi berati lebaran. Tak tampak orang-orang mudik seperti tahun kemarin.

Ini karena Covid 19 masih bertengger paling atas sebagai virus yang paling menakutkan di dunia. MasyaAllah seremnya.

Makanya guna memutus mata rantai Covid19, Pemerintah membuat kebijakan PSBB yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Itu artinya kita terkarantina, tidak bebas seperti dulu. Tidak boleh ada perjalanan dari kota ke kota, maupun dari kota ke desa ataupun sebaliknya.

Semua akses darat, laut maupun udara ditutup. Bandara ditutup, stasiun ditutup, bus-bus dilarang beroperasi.
Kalaupun ada yang nekat mudik, mereka akan kena introgasi, disemprot-semprot dulu seperti bunga di taman, haha, kalau sudah, baru boleh lewat.

Ceritanya ada temen maktri mereka sedih karena konon katanya sudah lima tahun tidak mudik, padahal kangen sama orangtua, rindu sama anak dan kampung halaman sudah sampai ubun-ubun, tak terkiralah begitu kira-kira rindunya.
Eh, sekalinya dia pingin mudik, eh, dilarang.
Maktri jadi ikut sedih.

Et, tapi nanti dulu selama empat tahun kemarin kenapa enggak pada niat mudik, sih? tanya maktri.
Bukan tidak niat, tapi tidak sempat karena sibuk, jawab mereka.
Oh, hellooow!

Katanya kangen orang tua, rindu anak dan kampung halaman. Masak iya, enggak usaha gitu untuk mudik kemaren-maren?

Kalau rindu, kalau cinta apapun pasti dilakukan. Usaha, kek. Nabung, kek, dulu jauh-jauh hari, bikin planning, kek, agar bisa mudik.

Semestinya selagi diberi kesempatan sama Tuhan untuk menengok keluarga di kampung, ya disempatkan, dong. Masak sampai empat tahun, enggak bisa pulang.

Giliran ada covid19, giliran dilarang pemerintah mudik pada protes! Menyalahkan Covid19, kok, belum pergi, menyalahkan pemerintah, kok, larang mudik. Jiyaaa!!

Tapi tadi Maktri baru denger berita kalau Dishub membuka lagi semua akses darat, laut maupun udara.

Meski maktri khawatir bakalan ada penumpukan penumpang, dan pasti banyak orang berkerumun sedangkan kita digadang-gadangkan harus memutus mata rantai Covid19?

Tapi dari rasa khawati Maktri jadi terbersit harapan maktri bisa ziarah ke makam ibu maktri di Palembang dong, ya. Apalagi maktri sebelum Ramadan kemarin enggak sempat nyekar. Karena keburu pemberlakuan PSBB.

Alhamdulillah banget kalau begitu.
Hal itu juga berimbas dengan keponakan maktri yang sempat ragu untuk pulang ke Indonesia dari di Australia kemarin.
Keponakan maktri itu ke Indo mau mengurus perpanjangan visa. Itu sangat penting.

Keponakan maktri itu meskipun sudah hampir 15 tahun tinggal di Ausi statusnya masih Resident Permanent. Bukan warga negara. Dia memang memilih tidak mau jadi warga Australia, dia kan masih cinta NKRI hehe.

Sebagai RP dia punya hak yang sama kok dengan warga negara asli Australia, cuma yang membedakannya :

  1. dia harus izin dulu kalau ingin keluar masuk Australia,
  2. harus perpanjang visa lima tahun sekali
  3. tidak punya hak memilih Presiden.

Kalau yang nomor tiga, enggak usah juga enggak apa-apa, deh, kirain enggak ada hak pilih pacar, kasihan, ntar jomlo diye kwkwkw.

Alhamdulillah, sampai maktri tulis cerita ini, keponakan maktri sudah sampai Indonesia dengan selamat.

Tidak ada kendala berarti, keponakan maktri itu hanya membutuhkan waktu satu jam untuk bisa keluar dari Bandara . Hanya harus proses bagasi dan imigrasi, ditambah Rapid test. Selebihnya fine!

Alhamdulillah banget, semoga aja kalau ada kelonggaran begini itu tanda-tanda virus Covid19 akan segera berlalu. Lalu orang-orang bisa mudik lagi. Aamiin.

Welcome, Sayang!

Mak, tebak-tebakan, yuuk.
Kenapa virus Corona dinamakan Covid19?
*Karena virusnya asalnya dari Wuhan China, coba kalau virusnya dari Padang namanya pasti
Da-vid .
*Kalau dari Jawa namanya jadi Mas-vid dong.
Wkwkwkw ….

Bandar Lampung, Jumat, 8 Mei 2020

Nulis Bareng/Ade Tauhid

0Shares

Tinggalkan Balasan