Foto Emmy Herlina

Don’t Say That You’re Nothing!

Don’t Say That You’re Nothing!

“Iyakah, memangnya kita satu grup di mana lagi, Mbak?”
Lagi satu pertanyaan itu kuterima. Aku hanya bisa menghela napas seraya tersenyum sinis.

“Memangnya elu siapa, Em? Berharap semua orang mengenalmu? You’re nothing!
Satu sisi kata batin pun menghujat tanpa terkontrol. Di salah satu grup saja di mana aku bertindak sebagai admin malah pernah disangka anak baru. Ha-ha-ha!

Take it easy, Em! Relax!” Alhamdulillah, masih ada satu sisi kata hati yang berpikir waras. Benar sekali. Sebenarnya hal ini bukanlah suatu hal yang perlu dibesar-besarkan. Aku pun tidak mengenali setiap orang di dalam satu grup, right. Mereka tidak mengenaliku, itu hak mereka. Lagian, mereka yang rugi, kok! Jiaahhh! (Ngomongnya sambil kibas ujung jilbab. (Halah!)

Intinya, it doesn’t mean that you’re nothing. Kali ini aku mencoba berkata sambil bercermin. Ah, ada satu hal yang mungkin kalian belum pahami. Sedari kecil, aku bukanlah seorang yang dianggap. Bahkan saat ibuku mengandung berpuluh tahun lalu, aku tahu, aku bukan anak yang diharapkan ada, tadinya ….

Berlanjut ketika kutumbuh sebagai seorang bungsu dengan usia terpaut sangat jauh dari kakak-kakak. Jadi sebagai anak kecil yang sedang antusias mempelajari dunia, ini yang sering kudapatkan, “sudah pergi sana! Anak kecil tahu apa!”

Semua pertanyaanku hanya mendapatkan hardikan.  Tak heran aku tumbuh sebagai seorang yang canggung, kan! Belum lagi ketika menjalankan kehidupan sekolah yang bagiku tidak menyenangkan. Datang, berdiri di pojokan, hanya diam memerhatikan sekitar, bel berbunyi, masuk kelas, begitu saja yang terjadi dalam keseharianku. Tanpa banyak bicara bahkan dengan teman sebangku sekalipun.

Cukup flashback-nya. Dengan latar belakang seperti ini, wajar kalau aku akhirnya suka menulis. Karena aku sesungguhnya tak pandai berbicara. Berlanjut memasuki satu komunitas demi satu komunitas di bidang literasi. Dengan begitu, kadang kutemui teman yang sama di beberapa komunitas literasi berbeda. Singkat kata, “elu lagi, elu lagi.”

Tidak dianggap ada? Hmm, kadang merasa sedemikian rupa. Anggap saja seperti sebuah istilah slank yang kukenal, “sh*t happens.” Maka ketika aku akhirnya menjadi dianggap bahkan ditawari sebuah predikat dalam satu komunitas, reaksiku jadi begini, “am I deserve it?”

Cover “Kalian Luar Biasa”

Apakah itu? Kamu bisa menyimak cerita lebih lanjut dalam sebuah buku dari event Nubar area Sumatera, judulnya Kalian Luar Biasa! Yang hendak kubahas kali ini adalah event lain dari PJ yang sama. Kenapa? Karena ada sesuatu yang menjadikan event ini tak kalah luar biasa!

Di saat aku hanya bisa terpana menyaksikan teman-teman seperjuangan dalam satu komunitas literasi, ada yang naskahnya dilamar penerbit, ada yang sudah goal mayor, ada juga yang memenangkan kompetisi kepenulisan yang diselenggarakan penerbit tenar berinisial G (penggemar buku pasti tahu, dong). Apalagi beberapa sudah berani membuka kelas sebagai mentor. Bagaimana dengan perkembanganku? Sometimes I feel like nothing. But I realize, self esteem rendah itu tak lain tak bukan disebabkan pikiran diri sendiri.

Bagaimana sejarahnya hingga aku bisa menyukai dunia literasi, bagaimana prosesnya hingga aku bisa berada di posisi sekarang ini, menerbitkan lima buah buku yang di dalamnya hanya ada tulisanku sendiri (saat ini totalnya tujuh, dua lagi sedang dalam proses penerbitan).

Aku memang tak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku bisa merancang masa depanku. Aku memang tak bisa mengubah pandangan orang terhadapku. Tapi aku selalu bisa mengubah apa yang kupikirkan mengenai diri sendiri.

Lagipula, memangnya penting ya, membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain? Di mana kenikmatan sebuah passion kalau terus-terusan berstandar ada kesuksesan orang lain, yang sepatunya bahkan tak sama dengan ukuran kaki kita.

Baik. Kupersembahkan cuplikan dari tulisanku:

“Life happens. Sh*t happens. And it happens a lot. To a lot of people.” (Collen Hoover)
***
Pernahkah kamu mengalami sebuah momen yang enggak banget? Well, I do. Maksudku, aku benar-benar mengalaminya saat ini.

Kucoba tekan lagi tombol power pada gawai dalam genggamanku, untuk yang ke sekian kalinya. “D*mn!” Lagi-lagi tak berpengaruh apa-apa. Ponsel yang belum ada hitungan bulan kumiliki itu masih juga tak mau hidup, juga tak mau mati. Alias “nge-hang”. Kalau saja, ponsel ini bukan merk Xiaomi yang tak bisa dilepas baterainya.

(“When Sh*t Happens” oleh Emmy Herlina)

***

Cover “Berdamai dengan Masalah”

Begitulah cuplikan dari tulisan yang kumasukkan dalam event berjudul Berdamai dengan Masalah. Event yang di-PJ-kan Mbak Dewi Adikara, Penanggung Jawab yang sama yang membuat event Kalian Luar Biasa! Event yang tak kalah luar biasa, karena tak menyangka tulisan ini justru terpilih menjadi naskah terbaik! WOW! Sudahlah ini event yang begitu spesial, dengan tulisan pak Ilham Alfafa, Sang Direktur Nubar di dalamnya. Event yang mengusung angka 21, dengan diriku di urutan naskah ke-21, nomor spesial yang merupakan tanggal ultahku.

Sekali lagi tampaknya aku harus memberikan ucapan selamat pada diri sendiri. Dari sebuah kejadian “sh*t happens” ternyata justru mengantarkanku untuk mendapatkan piala … LAGI. (Piala pertama waktu aku menjadi PJ di area Jabar) Yippie. I am not “nothing”, right. I am “something”, exactly! Fokus pada apa yang menjadi passionmu!

nubarsumatera/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan