Dongeng Sebelum Tidur oleh Nopiranti

Dongeng Sebelum Tidur

(Nopiranti)

Setiap menjelang tidur malam, Bilqis selalu minta Umi untuk menceritakan sebuah dongeng. Bilqis paling suka jika Umi cerita tentang proses kelahiran Bilqis dulu. Padahal sudah berulang kali Umi cerita, tapi Bilqis tidak pernah bosan mendengarnya. Bilqis hampir hapal setiap bagian yang Umi ceritakan. Namun, entah kenapa Bilqis selalu senang mendengar kisah itu lagi dan lagi.

Umi cerita kalau dulu saat diperiksa, dokter tidak bisa melihat jelas jenis kelamin bayi di perut Umi. Apakah dia laki-laki atau perempuan. Umi tidak khawatir. Kalau Allah memberi lagi anak laki-laki, Umi akan merasa bahagia. Kalau Allah memberi rezeki anak perempuan, Umi juga pasti akan sangat senang. Doa Umi yamg terpenting bayi bisa lahir selamat dan sehat.

Umi cerita kalau Bilqis lahir di bulan Ramadan. Hari kelima puasa waktu itu. Menjelang beberapa hari akan melahirkan, Umi dan dua kakak Bilqis diminta tinggal di rumah Nenek. Sementara rumah Bilqis dijaga oelh Abi. Nenek meminta Umi untuk tinggal sementara di rumahnya karena jarak rumah nenek ke Puskesmas lebih dekat dibandingkan jarak dari rumah Bilqis yang letaknya di kaki gunung.

Sore hari menjelang lahiran, Umi masih menikmati lezatnya makanan berbuka yang dimasak oleh nenek. Termasuk menikmati sambal pedas lengkap dengan lalapan segar. Malam harinya Umi masih bisa tidur nyenyak dan bangun untuk sahur dalam keadaan badan yang segar.

Setelah selesai sahur, Umi bersiap untuk melaksanakan salat Subuh. Selesai salat, Umi merasa perutnya mulas. Umi berpikir mungkin itu mulas akibat kebanyakan makan sambal pedas. Umi bergegas ke kamar mandi. Namun setelah dari kamar mandi pun mulas di perut Umi tidak juga reda. Umi lalu teringat mungkin itu mulas karena akan melahirkan.

Segera saja Umi memberitahu Abi. Lalu Abi menyarankan supaya Umi bersiap-siap saja untuk memeriksakan diri ke Puskesmas. Sekitar pukul 8 pagi Umi dan Abi sudah siap untuk berangkat periksa. Karena Umi khawatir jika hari itu saatnya Umi melahirkan, maka Umi sekalian bersiap membawa tas yang berisi barang-barang lengkap untuk persiapan melahirkan. Barang-barang yang nanti akan diperlukan oleh Umi dan bayi setelah lahir.

Pukul 9 Umi dan Abi sudah sampai di Puskesmas. Setelah mendaftar, Umi lalu menunggu giliran diperiksa. Sambil menunggu Umi merasakan mulas di perutnya semakin terasa menyiksa. Saat tiba nama Umi dipanggil, Umi bilang kalau umi sudah mulas. Bidan yang menerima Umi kaget.

“Ibu, kalau sudah mulas harusnya langsung saja ke ruang bersalin. Ayo, Bu, saya antar ke sana. Kita periksa, ya,” ucap bidan sambil menggandeng tangan Umi menuju ruang bersalin.

Sesaat sesudah diperiksa, bidan mengatakan kalau jalan lahir sudah terbuka. Umi akan segera melahirkan. Bidan menyarankan umi jangan pulang lagi.

“Apa Ibu sudah membawa persiapan untuk melahirkan?” tanya bidan yang dijawab dengan anggukan oleh Umi.

‘Baik. Kalau begitu Ibu silakan menunggu ya. Boleh tiduran di sini atau berjalan-jalan kecil untuk meredakan sakit. Kalau sudah terasa tidak tahan sakitnya, Ibu beritahu kami, ya.” Bidan memberikan penjelasan dengan lemah lembut.

Umi memutuskan untuk berjalan-jalan dulu saja di selasar ruang bersalin. Ditemani Abi yang nampak khawatir melihat Umi yang tak henti meringis menahan sakit. Sambil berjalan-jalan kecil bolak-balik keluar masuk ruangan, Umi tak henti mengulang-ulang membaca surat Al Insyiroh. Bukan hanya hari itu saja Umi membiasakan diri membaca surat itu. Sejak awal kehamilan Umi sudah menjadikan surat Al Insyirah sebagai wirid harian selain bacaan wirid lain yang disunahkan Rasul. Umi meminta pada Allah untuk dimudahkan proses melahirkanya. Umi berharap supaya diringankan rasa sakit yang mendera.

Umi masih ingat saat melahirkan dua kakaknya Bilqis dulu. Sakitnya sungguh tidak tertahan. Umi tidak ingin merasakannya lagi kali ini. Makanya Umi terus berdoa memohon pada Allah untuk diringankan dari rasa sakit.

Menjelang pukul 11 siang, Umi merasa badannya lemas. Umi baru ingat kalau Umi kan masih puasa. Sementara untuk menghadapi proses melahirkan Umi pasti membutuhkan banyak tenaga. Karena tadinya tidak begitu yakin akan melahirkan hari itu, Umi dan Abi tidak siap-siap membawa makanan dan minuman. Abi pun bersegera mencari warung terdekat. Namun karena saat itu Ramadan, warung jarang yang buka di bawah jam 1 siang.

Setelah lumayan lama Abi mencari warung yang buka, akhirnya bisa juga Abi mendapatkan sebotol air mineral dan sebungkus roti di warung yang jaraknya lumayan jauh dari puskesmas. Setelah minum dan makan sepotong roti, Umi merasa badannya lebih segar dan kuat.

Saat itu Abi teringat jika Umi pasti membutuhkan teman untuk menolong Umi di ruang bersalin. Karena nenek tidak mungkin dimibta datang dan menemani Uni, Abi lalu teringat pada teman yang tempat kerjanya dekat Puskesmas. Namanya Bu Imas. Saat ditelepon alhamdulillah Bu Imas bersedia menemani Umi. Tak lami beliau datang dan menemani Umi. Dibantunya Umi menyiapkan sarung dan perlengkapan bayi. Bu Imas juga dengan sabar membantu memijat pinggang Umi yang sakit.

Pukul 12 kurang 15 menit, Umi sudah tidak bisa menahan mulas. Umi memutuskan untuk naik ke tempat bersalin. Saat bidan memeriksa, bidan tersenyum dan mengatakan jika jalan lahir sudah sempurna. Umi akan segera melahirkan.

Saat Umi mengangkat sedikit panggul untuk memperbaiki posisi tidur, kok Umi merasa ada yang keluar ya dari jalan lahir. Disusul suara tangis bayi dan ucapan bidan yang menyatakan jika bayinya perempuan.

Masyaallah. Betapa Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Umi meminta dimudahkan dan diringankan rasa sakit saat melahirkan dan Allah kabulkan doa Umi. Allah juga memberi kejutan dengan memberi seorang bayi perempuan mungil nan cantik yang akan menjadi teman dua kakak laki-lakinya di rumah. Maha besar Allah dengan segala karunia-Nya.

Setelah dipotong tali pusar, bidan lalu menelungkupkan bayi cantik itu di atas dada Umi. Dengan kepala yang masih diliputi sedikit darah, bayi kecil itu gesit mencari sumber ASI dan mulai menikmati makanan terbaiknya. Sambil lembut memeluk dan mengusap-usap badan mungilnya, bayi itu Umi panggil dengan nama Bilqis Aurora Ramadani. Seorang putri yang memiliki akhlak baik dan cantik bercahaya yang lahir di bulan Ramadan.

Satelah kenyang menikmati ASI, bayi Bilqis lalu dibersihkan dan dibalut baju hangat. Menjelang Isya setelah Umi juga membersihkan diri dan merasa kuat untuk bangun dan berjalan, bayi Bilqis pulang ke rumah. Disambut dengan suka cita oleh nenek dan kakek, kakak-kakak, bibi dan mamang, saudara yang lain, dan banyak tetangga. Alhamdulillah.

Selesai Umi menceritakan dongeng tentang proses kelahirannya, Bilqis selalu terlihat bahagia. Dia tahu kalau Umi dan Abi sayang padanya. Dia tahu kalau Umi berjuang susah payah untuk melahirkannya. Dia tahu bahwa hanya Allah lah sebaik-sebaik penolong.

Sebelum Bilqis tertidur, dia berdoa dulu lalu memeluk Umi. Sambil mencium lembut pipi Umi dia berbisik mesra, ” Selamat tidur Umi. Selamat mimpi indah. Alavsyu.”

Umi balas pelukan Bilqis dengan pelukan yang lebih erat. Lalu menciumnya penuh sayang dan berkata, “selamat tidur. Selamat mimpi indah. I love you. Aku sayang kamu.”

Bilqis pun tertidur tersenyum. Memejamkan mata dengan tenang. Lalu tertidur pulas dan berjumpa dengan mimpi yang indah.

Kamis, 10 Desember 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan