Difabel

Difabel Bukanlah Hambatan oleh Athena Hulya

Difabel Bukanlah Hambatan

Difabel. Difabel itu apa sih? Secara garis besar difabel ialah penyandang cacat atau keterbatasan diri. Biasanya yang orang awam tahu difabel itu identik dengan cacat fisik ya, padahal difabel itu ada beberapa jenis seperti keterbelakangan mental, gangguan sensorik dan gangguan kognitif.

Di dunia ini banyak sekali penyandang difabel. Di Indonesia sendiri, menurut data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2012 terdapat kurang lebih 6 juta penyandang difabel. Masing-masing berada di tingkat sosial yang berbeda dan dengan keterbatasan yang berbeda pula. Ada yang mengalami tuna netra, tuli (biasanya orang tuli lebih suka disebut tuli ketimbang tuna rungu), tuna laras dan tuna daksa.

Difabel atau disabilitas, banyak orang beranggapan kalau orang penyandang difabel itu tidak bisa melakukan apapun, hanya menjadi beban orang lain maupun pemerintah atau negara dan dipandang sebelah mata oleh orang sekitar. Jika kalian adalah salah satu dari orang yang beranggapan seperti itu, maka mulai sekarang jangan berpikir seperti itu lagi, buang jauh-jauh pikiran seperti itu, karena banyak orang difabel yang mandiri dan berprestasi.

Menjadi difabel itu bukanlah hambatan. Seperti yang penulis singgung tadi. Banyak orang difabel yang mandiri dan berprestasi. Mereka mampu mengubah keterbatasan menjadi kelebihan yang membuat mereka berprestasi di segala jenis bidang. Semangat mereka pun tak pernah padam dalam menjalani hidup, beda dengan orang normal yang kadang masih suka mengeluhkan hidupnya.

Seorang difabel berusaha berjuang menjalani hidup, membuktikan bahwa ia dapat melakukan hal seperti orang normal dan dapat berprestasi. Walaupun di tengah perjalanan hidupnya kerap kali di-bully atau dianggap remeh oleh orang lain yang tak jarang membuat mereka lelah atau putus asa.

Dari teman-teman saya penyandang difabel banyak yang berprestasi dan dapat mengharumkan nama bangsa, contohnya teman-teman yang mengikuti perhelatan Asian Para Games yang diadakan Oktober tahun lalu. Salah satunya ada Sapto Yogo Purnomo yang mendulang banyak medali emas dalam bakatnya di cabang Para Atletics. Padahal ia mengidap Cerebral Palsy yang membuat dirinya tidak dapat berjalan seperti orang normal karena gangguan pada kaki kanan dan tangan kanannya.

Masih membahas seputar Asian Para Games, ada si gadis kecil nan cantik, Bulan Karunia Rudianti yang mendadak viral karena suratnya, sampai ia diundang untuk memanah bersama bapak presiden dalam pembukaan acara Asian Para Games 2018 silam. Meski memiliki keterbatasan dalam berjalan atau tuna daksa, gadis cantik itu ternyata berprestasi dengan menjadi juara kelas di sekolahnya dan pandai dalam menggambar.

Ada pula wanita cerdas yang sangat inspiratif, bernama Luthfi Azizatunnisa. Seorang wanita berhijab yang mendapat predikat cumlaude di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta saat menyelesaikan S2. Wanita yang satu ini semangatnya patut ditiru oleh kita semua, apalagi untuk adik-adik suka malas sekolah. Dengan keterbatasan bergerak dan tiap kali kuliah selalu dibantu oleh sang ibu dalam melakukan aktivitasnya di kampus. Ia tak pernah letih dalam menuntut ilmu, sehingga ia pun berhasil mendapat nilai sempurna saat S2. Patut dicontoh, bukan?

Nick Vujicic adalah contoh lain dari seorang difabel yang mendunia, berkeliling dunia dengan menjadi motivator dan menjadi penulis buku, buku pertamanya berjudul Life Without Limits: Inspiration for a Ridiculously Good Life (Hidup Tanpa Batas: Inspirasi Untuk Kehidupan Yang Luar Biasa Baik). Di balik fisiknya yang tidak sempurna, Nick mampu menginspirasi banyak orang. Salah satu kutipan yang sangat inspiratif dari seorang Nick, “Tuhan dapat menggunakan manusia yang hidup tanpa anggota tubuh untuk menunjukan kepada dunia bagaimana hidup tanpa batas.”

Banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik dari kehidupan seorang difabel atau disabilitas. Mulai dari semangat juang, survive dari keterpurukan karena dianggap berbeda, dan prestasi-prestasinya. Itu semua dapat dicontoh oleh semua orang khususnya termasuk kaum disabilitas lain yang masih saja menganggap dirinya lemah, remeh, tidak berguna karena tak bisa melakukan apapun karena “kecacatannya”.

Untuk teman-teman difabel, percayalah! Tuhan tidak menciptakan suatu apapun hanya untuk disia-siakan. Termasuk saat menciptakanmu, Dia sudah merancang hidupmu sedemikian rupa, indah dan bermakna. Apapun dan bagaimanapun kondisimu, tetaplah bersyukur dan jalani dengan penuh semangat. Jangan pernah berkecil hati karena kamu diciptakan berbeda dari orang kebanyakan. Karena, di balik kekurangan terselip banyak kelebihan.

Menjadi difabel bukanlah hambatan untuk berkarya dan berprestasi. Cari dan gali terus kelebihan yang ada di dalam dirimu. Saat sudah tahu kelebihan apa saja yang ada di dirimu, tekuni itu. Teruslah berkarya sampai karya-karyamu dapat menginspirasi banyak orang, sampai orang-orang tak lagi menganggapmu berbeda. Semangat, jiayou, ganbatte kudasai, hwaiting!

13 Juni 2020

Nulisbareng / Athena Hulya

0Shares

Tinggalkan Balasan