Hantu

Di Persimpangan Jalan oleh Athena Hulya

Di Persimpangan Jalan

Malam itu, selepas pulang kantor dalam kondisi sangat lelah seperti biasa aku menunggu angkot untuk pulang ke rumah di persimpangan jalan. Saat itu sedang gerimis dan jalanan sepi, hanya ada beberapa kendaaran saja yang lalu lalang dan di seberang tempat ku berdiri ada seorang bapak pedagang asongan yang sedang merapikan dagangannya.

Kurang lebih sekitar 20 menit kumenunggu angkot, tiba-tiba di sampingku berdiri seorang wanita paruh baya. Entah sejak kapan ia berada di sini karena memang sedari tadi aku sibuk dengan ponselku sampai tak sadar keberadaannya. Wanita itu terlihat seperti baru pulang bekerja, berpakaian rapi dan menjinjing tas. Namun ada yang aneh darinya, rambutnya acak-acakan seperti tidak disisir berhar-hari dan wajahnya pucat.


Ia menyapaku, “baru pulang?
“Iyaa”, aku menjawab singkat.
“Pulang ke mana?” tanyanya.
“Pulang ke daerah Bekasi Timur, Mbak,” jawabku.
“Nunggu siapa?” tanyanya lagi.
“Nunggu angkot, Mbak. Mbaknya mau ke m…..”

Belum sempatku menyelesaikan pertanyaan tiba-tiba terdengar BRAAAAAKK, seperti sedang terjadi tabrakan dan setelahnya terdengar suara merintih kesakitan. Kedua suara tersebut sangat kencang seperti terjadi tepat di depanku. Aku kaget dan terdiam, saat kumenoleh ke samping tempat di mana wanita paruh baya itu berdiri bermaksud ingin bertanya apakah ia mendengar suara yang sama atau tidak? Wanita itu tidak ada, aku celingak-celinguk mencarinya.

Seketika tercium aroma melati yang menyengat dan terdengar samar-samar suara suara kuntilanak, hihihihi hihihihi hihihihi. Aku langsung beristighfar dan membaca ayat kursi didalam hati.

Bapak pedagang asongan yang berada di seberang jalan menghampiriku dan bertanya, “Neng, nunggu siapa? Bapak lihat Neng ngomong sendiri, awalnya kirain Neng lagi telepon tapi kok hp-nya dipegang, Neng sendirian juga.”


“Nunggu angkot, Pak. Loh saya tadi ngobrol sama mbak-mbak,” jawabku.

“Ngobrol sama siapa? Wong Neng dari tadi sendirian di sini, makanya saya samperin takut Neng kenapa-napa. Di sini cuma ada Eneng doang!” tegasnya.

Dengan nada meyakinkan aku menegaskan kalau aku tadi mengobrol dengan seorang wanita, ia tepat di sampingku. Tapi sekarang wanitanya tidak ada, tidak tahu ke mana. Bapak itu pun bersikukuh dengan perkataannya bahwa aku sendirian saja di persimpangan ini. Obrolan kami terhenti, angkot yang kutunggu sudah tiba.

Di perjalanan pulang pikiranku masih terbayang kejadian barusan, apakah si mbak yang tadi ngobrol denganku adalah kuntilanak, dan omongan si bapak benar adanya bahwa kuhanya sendirian di sana.

Aku tak percaya, karena sepanjang hidup dan sering melihat hantu, yang kulihat hanya sebatas suara, paling tidak hanya bayangan menembus tembok atau sosok-sosok asli mereka seperti tuyul bertelinga panjang, pocong terbang, kuntilanak sedang asik uncang-uncang di pohon belimbing samping rumah, kuntilanak terbang di lantai atas kampus, Badan tanpa kepala di samping toilet kampus atau bahkan kakek belanda dan anak kecil menembus lift kantor, tidak pernah menemukan yang berwujud manusia dan bisa mengobrol.

Di rumah pun kumasih berpikir jika benar kuntilanak apakah ia ingin memberitahu kalau ia meninggal karena tertabrak? Tapi untuk apa ia memberitahuku? Toh, tak ada guna, aku tak bisa membantunya. Atau hanya sekadar menakutiku yang sama sekali tak takut olehnya. Entahlah. Yang jelas ia sangat menyebalkan, menggangguku dengan berlagak menjadi manusia dan mengagetkan dengan suara tabrakan mobil.

Untung saja aku tak menyebut di mana letak persis rumah ku, kalau tidak bisa gawat. Ia mungkin saja akan mengikutiku dan mungkin ingin menjadi temanku. Hah! aku tak ingin itu terjadi.

24 April 2020
nulisbareng/Athena Hulya

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan