Detik-detik Kepergianmu oleh Ade Tauhid

Detik-detik kepergianmu
By Ade Tauhid

Pukul 07.30 pagi, aku mengantar anakku pergi ke rumah temannya.

Saat kutinggalkan, Bapak masih tidur. Kebetulan ada kakak yang menemani di rumah, jadi kupikir tak apalah aku pergi sebentar.

Tak ada firasat apapun. Ketika aku pulang dan hanya melongokkan kepalaku sedikit mengintip keberadaan Bapak. Bapak masih pulas dengan selang infus yang menggantung di tangannya.

“Bapak baik baik saja, kok,” kata kakakku yang menemani Bapak sedari tadi.
Alhamdulilllah.

Memang sudah dua hari ini kondisi Bapak agak ngedrop dan tidak mau makan, karena khawatir kemarin dokter datang dan menginfus Bapak dengan cairan makanan dan vitamin.

Usia Bapak memang sudah sepuh, sudah mencapai seratus tahun. Iya, seratus tahun! MasyaAllah, banyak yang tak percaya karena di usianya yang sepuh begitu, Bapak masih terlihat gagah dan sehat.

Hal biasa kalau Bapak sesekali drop dan mulai malas makan, biasanya hanya dua hari diinfus, Bapak akan kembali sehat.

Seperti hari ini, pagi di hari kedua Bapak diinfus. Bapak baik-baik saja, kata kakakku tadi.

Pukul 08.45
Aku berkutat di dapur, beberesan dan masak untuk kami semua. Hanya sesekali kulongokan leher melihat Bapak ketika kulewati kamarnya.

Kulihat kakakku sedang asyik mengaji di samping Bapak.

“Bapak kenapa?” tanyaku.

“Tidak ada. Aku hanya ingin mengaji biar hati Kakak tenang,” jawab kakakku.

“Aku ikut. Aku ambil wudu dulu, ya,” kataku sambil melepaskan gagang sapu yang kupegang.

Tak ada firasat. Aku hanya ingin ikut mengaji.

Oia, kedua kakakku ini kebetulan baru datang dari luar kota, ini lagi – lagi bukan karena firasat. Tapi kebetulan hari ini cuti bersama dan libur panjang, makanya Kakak datang.

Lalu kami mengaji bersama.
Sekali lagi inipun mungkin bukan firasat , ketika kakak-kakakku yang lain yang sekota juga datang.
Ini hari libur, mereka hanya bertandang seperti biasa.

Melihat kami mengaji mengelilingi Bapak, merekapun ikut mengaji.
Kulihat wajah pucat Bapak tampak tersenyum. Bapak sangat bahagia melihat kami berkumpul.

Wajahnya kelihatan tenang mendengarkan lantunan surat Yasin yang kami bacakan.
Entah kenapa, sebelum aku selesai mengaji, tiba-tiba aku bangkit dari dudukku.

“Bapak,” kataku pelan. Sepertinya Bapak ingin bicara tapi tak ada suara.

“Lailahaillallah ….”
Kupeluk Bapak, kali ini, seperti firasat ada yang menyuruhku untuk kubimbing Bapak menyebut kalimat Allah saat itu.

“Lailahaillallah.”

Sementara kakak-kakakku yang lain masih mengaji.

Entah. Kali ini mungkin benar sudah firasat, dengan berurai air mata kubimbing Bapak menyebut, “Lailahaillallah.”

Sampai tak kusadari, kakakku pun tak ada yang menyadari kalau Bapak sudah pergi dengan wajah bersih dan dalam keadaan tersenyum.

Pukul 09.55
“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji’un. Selamat jalan, Bapak. Semoga dosa terampuni, semoga semua amal ibadah diterima, semoga Bapak berbahagia berjumpa Ibu di surga.

Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Aa’fu ‘anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkhalahu, Waghsilhu Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihii Minal khathaa Ya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas.

Aamiin.” ❤️
Bandar Lampung, Senin, 02 November 2020

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

2 comments

  1. Innalillahi wa innailahi rojiun, semoga beliau hunul khotimah…. Berjumpa dengan istri tercinta di surga, Masyaallah senyum beliau pasti indah sekali melihat anak-anaknya mengaji.

Tinggalkan Balasan