Window View

Depresi oleh Ade Tauhid

Depresi

By Ade Tauhid

“Depresi atau keterpurukan bisa saja terjadi pada siapapun. Untuk bangkit kita butuh seseorang untuk menolong Jangan lupa selalu dekatkan diri pada Allah yang Esa.”

Ceritaku:

Sembilan tahun lalu, saat itu usiaku baru menginjak angka 29 tahun dan suamiku 41 tahun, ketika malam ini suamiku dengan tenangnya berkata,”Sayang, izinkan Papa menikah lagi ya.”

Aku terkejut, kupandang suamimu tak percaya, kutatap bola matanya. Kuharap dia bercanda, karena memang pada saat itu kami sedang duduk duduk ngobrol ringan di tempat tidur.

Tapi walaupun bercanda rasanya sangat sakit, tega sekali dia bicara seperti itu.

Tak ada angin tak ada hujan. Rumah tanggaku adem ayem. Kuketahui suamiku suami penyayang, penuh perhatian padaku dan juga Putriku, Zhazha. Rasanya tak mungkin suamiku baru saja bicara hal sesensitif itu.

“Ish Papa, jangan bicara sembarangan ah,” kataku mencoba menenangkan jantungku yang tiba tiba berdegup keras. Ahh!.

“Mama .., maafkan Papa, Ma,” kata suamiku sambil duduk menghadap ke arahku. Dipeluknya kedua kakiku.
“Papa serius ….”

Duarrr!!! Kata kata itu. Aku seperti mendengar petir di siang hari bolong. Seketika jantungku rasanya benar benar telah berhenti, tubuhku bergetar hebat, aku lemas seperti tak bertulang.

“Astagfirullah!” kataku emosi. Sesaknya dada ini. Tuhan! Kudorong suamiku dengan kasar.
Rasanya ingin kulemparkan benda apapun yang ada di kamar ini ke arah suamiku. Ada apa dengan otaknya? Teganya dia berkata begitu.
Namun, tidak. Nyatanya aku tak sanggup melakukan apapun, kecuali tertunduk dan menangis.

Aku rapuh.
Ternyata aku amat rapuh. Aku tak hentinya menangis dan menangis. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan demi mendengar niat suamiku itu.

Terus terang aku memang hanya ibu rumah tangga biasa, tidak bekerja dan hanya mengandalkan kehidupanku sepenuhnya pada suamiku.

Sedang suamiku adalah seorang pengusaha travel yang lumayan sukses.
Tanpa ikut bekerjapun kehidupanku sudah tercukupi.

Sebagai istrinya selama ini aku memang tidaklah banyak mencampuri urusan bisnis suamiku, sepenuhnya aku percaya suamiku.
Sejak masa pacaran dulu suamiku adalah seorang yang baik dan penyayang. Meski usiaku terpaut nyaris dua belas tahun dengan suamiku, aku yakin suamiku tidak akan pernah menyakitiku apalagi kami sudah memiliki Zhazha, putri kami yang cantik.

Namun ternyata tidak, Zhazha masih berusia empat tahun kala itu. Usia perkawinan kamipun baru berjalan lima tahun. Tiba tiba suamiku sudah ingin poligami.

“Maafkan Papa. Kalau ini menyakiti hati Mama. Papa sangat mencintai Mama.” Suamiku berlutut.
Kembali kudorong kasar suamiku.
Aku mencoba berdiri. Kurasakan kakiku gemetar, tanganku gemetar, serasa semua sendiku gemetar. Aku nyaris jatuh, kalau saja aku tidak cepat menyandarkan tubuhku ke dinding.

“Sejak kapan terjadi perselingkuhan itu?” tanyaku.
Baru beberapa bulan bahkan belum satu tahun, itu jawabannya. Jawaban apapun itu tidak lagi membuat aku percaya padanya.
Dia sudah mendua. Hatinya tidak lagi milikku dan milik Zhazha anakku.

Bila kularangpun, pasti suamiku main belakang itu lebih menyakitkan. Sedang aku tidak sudi berbagi.

Sebagai seorang wanita aku bukan tipe pendendam, tapi aku bukan juga seorang pemaaf. Malah aku seorang yang sangat pengingat.
Mana mungkin hati ini tentram kalau ingat terus dengan kecurangan suami?

Oleh karena itu, meskipun aku amat rapuh, meski katanya dia tidak ingin, tetap saja kuputuskan bercerai dengan suamiku.

Setelah bercerai kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang dulunya seorang yang bahagia kini menderita depresi. Aku sakit!

Semangat hidupku kendur, aku merasakan duniaku seakan runtuh. Aku mengalami hal hal diluar kendaliku, aku nyaris seperti orang tak waras. Aku tahu banyak orang bercerai tapi tidak menderita.

Tapi tidak denganku, aku sangat menderita. Hampir satu tahun setelah perceraianku, aku menjadi seorang penderita migren, kepalaku sering pusing mendadak, tubuhku juga sering lemas tiba tiba. Aku juga sering merasakan jantungku yang tiba tiba berdebar hebat, aku insomnia, sering menangis tiba tiba, beberapa kali hampir jatuh di kamar mandi, merasa diri jelek, buruk rupa, aku tidak percaya diri.
Sungguh aku sudah jatuh pada titik terendah dalam hidupku.

Pernah suatu ketika aku pergi belanja ke mall. Banyak orang tak kukenal di sana, tapi ada seorang wanita cantik yang mengenalku dan menyapaku.
Tahukah? Bukannya aku senang, malah aku berlari menjauhinya. Rasanya ingin aku nyerungsup masuk ke bumi, Aku merasakan seperti orang yang sangat jelek dan tidak pantas bertemu dengan teman, aku tidak percaya diri.

Pernah juga aku baru saja duduk berdua dengan Zhazha di teras rumahku, tiba-tiba badanku menggigil kedinginan, aku merasakan darahku naik ke kepala. Lalu pingsan tak sadarkan diri.

Banyak hal yang terjadi di luar kendaliku. Di luar kesadaranku.
Entah apa, aku tak mengerti
Aku tahu banyak orang yang bercerai tapi tidak seburuk aku.

Ibuku sudah mengupayakan dokter untuk menanganiku, sudah banyak nasihat dan doa yang disampaikan ibu untukku.

Entah bagaimana awal mulanya. Suatu pagi aku memandangiku lama di depan cermin, kulihat pipiku semakin tirus, rambutku panjang tak terawat.
Astagfirullah! Aku beristigfar berkali-kali, bangkit sayang! Kamu tidak bisa begini terus.
Menghabiskan waktumu hanya bersedih, menangis. Berapa banyak waktumu terbuang sia-sia? Kasihan anakmu! Betapa buruknya kamu sebagai ibunya Zhazha!

Kemudian dengan sisa kekuatan yang ada, aku mandi, aku berwudu. Aku salat dan mengaji.
Bukan berati selama hampir setahun depresiku aku tinggalkan semua kegiatan keagamaanku, tidak! Aku tetap salat.

Tapi kali ini salatku dan ngajiku yang kulakukan sangat jauh berbeda. Ada sesuatu yang sangat nyaman kurasakan.
Air mataku yang mengalir di pipi hari itu seolah melegakan semua isi dadaku. Hilang semua kecemasan, hilang semua kekhawatiran. Aku seperti manusia baru.

Kupeluk Zhazha, kasihan selama ini jarang sekali bermain denganku.
Aku tahu ini semua berkat doa ibuku yang tak pernah berhenti. Aku harus bisa bangkit.
Aku harus move on!
Walau kadang depresi itu kambuh, tapi berhasil aku tepis.

Berlahan tapi pasti aku mengumpulkan remahan hatiku yang sempat retak. Kukumpulkan semua rasa percaya diri yang nyaris selama ini tak kumiliki.
Cukup setahun aku begini.
Aku harus bangkit.

Move on yang pertama aku lakukan adalah pergi dari rumahku dan pindah ke Bandung. Dengan pindah memotivasiku untuk tidak lagi mengingat masa lalu, Kutata lagi hidupku bersama Zhazha. Kuminta restu ibuku.

Memang sulit jika ingin bangkit. Depresiku kadang kambuh sendiri. Tapi berhasil aku tepis. Kini sembilan tahun berlalu, setelah di tahun kedua perceraianku aku menemukan jodohku. Seorang duda mualaf berdarah Perancis.
Alhamdulillah.

Bandar Lampung, Sabtu 10 Oktober 2020

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

2 comments

  1. MasyaAllah, sungguh Allah telah mengatur yang terbaik untuk umatnya. Ada sosok muallaf berdarah perancis, MasyaAllah. Semoga selalu sehat dan bahagia ya Maktri sayang….

Tinggalkan Balasan