Dear Bayanganku, I Love You oleh Nopiranti

Dear Bayanganku, I Love You

(Nopiranti)

Untuk mereka yang terlahir dengan kesempurnaan bentuk fisik, tersenyum dan merasa bahagia saat melihat bayangan sendiri di cermin, mungkin bukan hal yang sulit. Namun, buat saya yang terlahir dengan kelebihan berat badan dan pigmen kulit (baca: endut dan item), menghadapi cermin itu selalu mendatangkan rasa tidak nyaman. Harapan indah di benak langsung terempas saat pandang menatap kenyataan.

Saya jadi sering merasa malu, sedih, kesal, dan kecewa. Akibatnya saya suka marah-marah sendiri di depan cermin.
Buruk muka cermin di belah, itu rasanya kok seperti pepatah yang sengaja dibuat untuk menyindir saya ya?

Minder level akut membuat saya tumbuh menjadi pribadi tertutup. Saya menarik diri dari pergaulan. Kalaupun berteman, hanya dengan orang-orang tertentu. Itupun saya sangat menjaga jarak.

Tersenyum dan tertawa, hal langka untuk ditemukan di wajah kusam saya. Berbicara mengutarakan pendapat, termasuk perkara berat yang sulit saya lakukan. Meskipun kata-kata mengular di benak, namun semuanya sering kali terhenti di ujung lidah yang kelu. Bibir saya lebih banyak terkatup. Sunyi, tanpa sapa dan obrolan.

Bertahun-tahun saya hidup dalam kesuraman ini. Bukan tak ada usaha saya mengurangi berat badan dan membuat kulit wajah berkilau. Dari mulai olahraga, puasa, minum jamu, dan minum obat peluntur lemak.

Sesaat, pernah ukuran lingkar pinggang berkurang. Tapi, sebentar kemudian jarum timbangan melesat lagi semakin ke arah kanan.

Semakin pikiran memerintah untuk stop makan, semakin tangan dan mulut berontak. Akhirnya makan lagi, lagi, dan lagi. Meskipun kemudian saya menyesal. Lalu menangis di kamar mandi sambil memuntahkan lagi makanan itu.

Saya juga rajin membersihkan wajah, menggunakan masker, dan memakai pelembab. Namun, tetap saja wajah bulat saya terlihat kusam dan gelap.

Perjuangan keras juga saya lakukan untuk melatih diri tersenyum dan berani bicara dengan orang lain. Bukan hal yang mudah. Namun, syukur alhamdulillah, saya mendapatkan dukungan terbaik dari Mamah.

“Ranti tuh manis kalau tersenyum,” ucap Mamah memberi pujian.

“Ranti juga terlihat cantik kalau difoto dari arah samping,” lanjut Mamah membuat saya sedikit terhibur.

“Ranti juga terlihat menarik kalau memakai baju warna biru,” tutur Mamah yang kemudian menjadikan saya semakin suka dengan semua barang yang berwarna biru.

Berawal dari dukungan Mamah, saya mulai meyakinkan diri bahwa saya bisa berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik, lebih ramah, dan lebih menarik dipandang.

Setiap kali melihat bayangan di cermin, saya mulai berdamai dengan perasaan. Saya pandang lekat-lekat penampakan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Saya coba berlatih tersenyum. Sedikit demi sedikit saya mulai menyukai tampilan wajah saya dengan hiasan senyum. Hmm, benar juga kata Mamah, saya manis kok. Saya mulai menemukan kepercayaan diri.

Saya lanjut dengan berlatih bicara. Berbagai gaya berbicara dan ekspresi wajah saya praktekkan sendiri di depan cermin. Semakin sering berlatih, sedikit demi sedikit saya bisa juga memeragakannya dalam percakapan asli dengan orang lain.

Ketika satu kata sudah meluncur dari bibir, ternyata kata-kata berikutnya akan dengan mudah mengikuti. Menyenangkan sekali ya saat terlibat percakapan yang hangat, saling bertukar informasi. Bukan sekadar jadi pendengar pasif yang tersiksa ingin bicara tapi lisan tak mampu berucap.

Selain dukungan Mamah yang membuat kepercayaan diri saya tumbuh, saya juga sangat berterima kasih akan jasa seorang guru SD. Suatu hari saat kelas 6, bu guru meminta kami membuat puisi. Setelah susah payah merangkai kata, akhirnya saya mampu menghasilkan puisi pertama saya.

Senang sekali perasaan saya saat itu. Saya ketagihan menulis puisi terus, terus, dan terus. Sejak saat itu saya menjadikan puisi sebagai tempat berbagi perasaan. Ketika kata tak mampu terucap lewat lisan, maka kertas dan pena lah yang menjadi sahabat saya mencurahkan rasa.

Dari kebiasaan menulis inilah saya kemudian menemukan sisi lain diri saya yang membuat saya merasa istimewa. Bahwa meski secara fisik saya tidak semenarik orang lain, tapi melalui karya tulis yang saya buat, saya merasa memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan dan bermafaat untuk orang lain.

Inilah yang kemudian menjadi penguat saya sampai sekarang. Jangan terus larut pada kekurangan atau sesuatu yang tidak kita miliki. Sementara potensi lain yang Allah anugerahkan tidak kita lirik dan kita syukuri dengan baik.

Meski kadang masih mengalami turun naik perasaan, tapi saya selalu berusaha meyakinkan diri bahwa Allah sudah menciptakan diri ini dalam sebaik-baik bentuk dan kisah. Selalu tumbuhkan rasa syukur.

Terima semua kondisi dengan lapang dada, senyum, dan bahagia. Peluk dengan penuh cinta dan katakan selalu pada bayangan di cermin: Aku sayang kamu. Kamu cantik. Kamu istimewa. Kamu baik. Kamu berguna untuk sekelilingmu.

Ucapkan terus berulang-ulang sebanyak mungkin kalimat positif pada diri kita sendiri hingga diri kita merasa tenang dan diliputi rasa syukur. Tersenyum dan bahagia Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah.

Kamis, 24 Desember

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan