Pergi

CINTA TAK SALAH PART 4 oleh Putri Zaza

CINTA TAK SALAH PART 4

Part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/cinta-tak-salah-part-3-oleh-putri-zaza/

Drrt…drrt..
Getar handphone Ziva dengan nama Hendra di layarnya.
“Hendra siapa?” tanya Ihsan penasaran.
“Tunggu, ya, aku anggkat dulu,” ujar Ziva meninggalkan Ihsan.

Masih dengan wajah bingung Ihsan menerka-nerka siapa Hendra, kenapa ada emot hati di namanya.

“Dor, ngelamun ajah keburu adem, dah, baksonya.” Tiba-tiba Tia muncul di hadapan Ihsan.

“Sendirian? Biasa sama Ziva.”

“Tuh, lagi angkat telpon.” Sambil mengarahkan telunjuk ke arah Ziva.

Tak lama Ziva masuk ke dalam kedai dan melihat Tia sepertinya sedang asik berbincang dengan Ihsan.

“Hai, Ti. San, aku duluan, ya!” pamit Ziva dan membawa tas. Ziva yang sadar Tia menaruh hati kepada Ihsan memilih pergi memberi kesempatan Tia untuk mendekat.

Tampak ada kekecewaan di wajah Ihsan mengikuti kepergian Ziva. Bukan jawaban yang ia dapat melainkan rasa penasaran. Akibat, nama kontak dengan emot hati.


Esoknya hari tepatnya di hari libur. Ziva harus datang ke kampus untuk rapat. UKM musik akan mengadakan acara promosi kampus yang bertepatan dengan hari HIV/Aids sedunia. Ziva mendapatkan amanat sebagai seksi konsumsi.

(Hari ini kamu rapat UKM musik?) pesan dari Ihsan.
(Iya, kenapa?)
(Sudah selesai?)
(Belum, sebentar lagi)

Terang berganti gelap rapat pun usai dilaksanakan.
“Sekian, rapat untuk hari ini. Saya minta yang menjadi penanggung jawab segera dicatat segala keperluannya dan kirimkan ke bendahara, ya. Selamat malam.” Penutupan dari ketua pelaksana. Semua pun bergegas meninggalkan ruang rapat.

“Zi, Ihsan, tuh,” ujar Tia mengarahkan tangan ke Ihsan yang menunggu di parkiran motor.

‘Loh, ngapain dia.’ Sambil berjalan menghampiri Ihsan.

“Udah, selesaikan? Yuk!”
“Ngapain kamu di sini?”
“Jemput Kamulah,”
“Mau jemput Ziva, ya?” Tiba-tiba Tia sudah ada di samping Ziva. Rupanya, Tia membuntut Ziva dari depan ruang rapat.
“Duluan ya. Bye!” Ziva pun pergi meninggalkan mereka berdua.

Ziva tidak mau terlibat antara perasaan mereka, lebih baik, ia menghindar daripada, dibuat pusing dan ribet. Padahal dia sendiri sedang menghadapi masalah sudah hampir dua minggu Hendra mulai lagi menuntut untuk diberi perhatian.

Hendra menelpon Ziva saat itu untuk membahas tentang perasaan Ziva kepadanya sepetinya, Hendra mulai merasakan perubahan pada kekasihnya. Kesibukan Ziva terhadap organisasi membuatnya jarang mengabari Hendra.

Apalagi tugas-tugas yang diberikan dosen sudah mulai membuat Ziva tak peduli dengan hal di luar perkuliahan.


“Kita, udahan aja, ya.”
“Loh, kenapa?”

“Aku, sepertinya enggak bisa membagi fokus dan memberi perhatian ke kamu. Aku harus fokus terhadap tugas dan organisasi yang aku ikuti.”

“Aku, bisa mengerti, kok.”

“Mengerti! Dengan cara menuntut perhatian?”

Hendra terdiam mendengar Ziva mulai memberi tekanan terhadap suaranya.

“Aku enggak mau selalu merasa bersalah dan aku enggak mau kamu tersiksa karena merasa enggak dapat perhatian.”

“Maaf, belum bisa menjadi Ziva yang Kamu inginkan.” Ziva memegang tangan Hendra. Tampaknya Hendra menyesal tidak dapat mengerti kondisi Ziva. Wajahnya tertunduk lemas mendengar ucapan kekasihnya. Perlahan Ziva melepaskan tangannya dan meninggalkannya.

Bersambung…

Cibitung, 17 Mei 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan