Pernyataan Cinta

CINTA TAK SALAH PART 3 oleh Putri Zaza

CINTA TAK SALAH PART 3

Sebelumnya di https://parapecintaliterasi.com/cinta-tak-salah-part-2-oleh-putri-zaza/

Layaknya anak muda pada umumnya, di malam minggu Ziva yang sudah selesai kegiatan UKM dijemput sang pacar yaitu Hendra. Mereka berpacaran sejak sekolah SMK sebenarnya. Mereka baru beberapa bulan memutuskan untuk kembali berpacaran setelah lima bulan putus. Mereka putus karena Hendra merasa Ziva tak pernah memberi perhatian tapi Ziva menganggap kalau Hendra terlalu berlebihan padahal kondisi pada saat itu mereka berdua sedang menghadapi ujian sekolah jadi, wajar saja jika Ziva sedang fokus belajar.


Ziva yang cuek mengiyakan permintaan putus dari Hendra lucunya sehari sesudahnya Hendra memohon untuk kembali berpacaran. Sedangkan Ziva sudah berkomitmen tidak akan mudah untuk kembali menjalin hubungan dengan sang mantan. Namun, setelah Hendra berjuang dan memohon akhirnya luluhlah hati Ziva.

“Aku udah di depan kampusmu, ni,” ucap Hendra melalui handphone.
“Iya, aku ke sana!” Sambil bergegas merapikan barang bawaan. “Duluan, ya,” pamit Ziva kepada semua anggota UKM musik yang masih di ruang studio.
“Ziva!” Ziva pun terhenti karena ada yang memanggilnya dari belakang.
“Zi, mau pulang? Bareng aja, yuk!” Rupanya si Ihsan.
“Iya, tapi udah dijemput, kok. Duluan, ya,” ujar Ziva sambil melambaikan tangan.


“Kamu mau beli apa?” tanya Hendra di perjalanan karena tahu sang pacar belum makan malam.
“Mau es krim.”
“Belum makan, masa mau makan es krim”
“Ya udah, bakso, abis itu beli es krim, ya.”
“Oke, Tuan Putri!” ucap Hendra mengacungkan jempol.

Hendra pun mengarahkan motornya ke tempat makan bakso langganan mereka lebih tepatnya tempat makan favoritnya Ziva.
“Kamu belum pulang ke rumah?”
“Belum, kalau ke rumah dulu waktunya enggak ada, nih, makanya masih pakai seragam.”


Sejak lulus sekolah, Hendra memutuskan untuk kerja dan mengumpulkan uang untuk kuliah. Hendra adalah anak pertama sedangkan ibunya single parent. Ia bertekad untuk mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga setelah ia selesaikan sekolahnya.


Drrrt … drrrt ….
(Hai, Ziva, ini aku Ihsan, ganggu enggak, ya? Soalnya mau tanya tugasnya bu Rahma) ternyata pesan dari Ihsan.
“Siapa?” tanya Hendra penasaran melihat Ziva sibuk dengan handphonenya.
“Ini temen kampusku mau tanya tugas.”
(Nanti kuhubungi lagi, ya) jawab Ziva.


Sesampainya di rumah, Ziva langsung menelepon Ihsan untuk membantunya langkah demi langkah, ia dikte sampai tugas Ihsan terselesaikan.
“Zi, tadi pulang sama siapa?” tanya Ihsan.
“Sama teman,” ujar Ziva. Bukan tak ingin mengakui kalau dia sudah punya pasangan, tapi Ziva memang tak terlalu suka urusan pribadi diumbar.
“Udah kelar, ya? aku tutup teleponnya, mau tidur.”
“Oke, selamat tidur, mimpi indah, ya.”


Setelah telepon terputus, Ziva pun menghubungi Hendra dan membicarakan banyak hal. Tak lain jika ada asdos yang ganteng dan anak jurusan lain yang pinter banget.
Ziva selalu bercerita jika ia naksir seseorang karena dia tidak mau pacarnya menduga yang tidak-tidak atau berprasangka buruk terhadapnya karena Hendra sudah terbiasa dia hanya mendengar dan menanggapi sesekali jika pacarnya sedang mengagumi laki-laki lain.


Sebulan pun berlalu dengan cepat Ziva dan Ihsan rupanya makin dekat. Ihsan lebih sering menghubungi dan memberi perhatian sedang Ziva sepertinya tak menyadari bahwa dia merespon keberadaan Ihsan.
Setiap selesai perkuliahan mereka menyempatkan untuk mempir ke kedai dekat kampus dan berbincang dan bercanda terkadang menyelesaikan tugas kuliah beberapa teman menyadari bahwa sepertinya Ihsan sedang mendekati Ziva.


“Zi, kamu lagi deket, ya, sama Ihsan?” tanya Tia penasaran karena banyak gosip beredar bahwa mereka berdua berpacaran.
“Biasa aja, Ti, sama kayak aku dan kamu. Kenapa emangnya Tia suka Ihsan?”
“Haha, bukan gitu, si Ihsan itu pernah nembak aku tapi aku tolak.”
“Oh, gitu,” jawab Ziva singkat.
“Apa Ihsan juga nyatain perasaan ke kamu?” tanya Tia penasaran.

Ziva hanya menggelengkan kepala karena dia dengan asyik menyeruput es jeruk di depannya.
“Lagian aku udah punya pacar, Ti,” jelasnya agar Tia berhenti menanyakan tentang Ihsan. “Udah, ya, Ti, aku ke studio dulu udah waktunya latihan gitar, bye!”
‘Tia kenapa, sih, cemburu kali, ya? Tapi, kalau suka kenapa nolak perasaannya Ihsan, aneh!’ batin Ziva selama di perjalanan menuju studio yang tak begitu jauh dari kantin kampus B.


“Zi, makan, yuk!” ajak Ihsan ketika melihat Ziva keluar dari kelas.
“Yuk!”
Seperti sudah menjadi kebiasaan mereka selalu memisahkan diri dari teman-teman kelas dan makan di kedai tempat biasa mereka makan.
Sesampainya di sana, Ihsan sudah memesan menu kesukaan Zivaa yaitu bakso dan es jeruk.


“Zi, mau jadi pacarku?” ucap Ihsan tiba-tiba.
Ziva terdiam dan menelan makanan yang barus saja masuk ke dalam mulutnya seketika matanya menatap mata Ihsan.

Bersambung .…

Cibitung, 10 Mei 2020
Nulisbareng/putrizaza

Jumlah kata: 7026

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan