Pasangan

CINTA TAK SALAH PART 2 oleh Putri Zaza

CINTA TAK SALAH PART 2

Part sebelumnya https://parapecintaliterasi.com/cinta-tak-salah-part-1-oleh-putri-zaza/

“Saudari Ziva apa yang buat Anda memilih Saudara Ihsan untuk dijadikan pemimpin?” tanya Pak Dani dosen yang sudah mengadakan pemilihan kompi secara dadakan.

“Karena dia rapi, Pak,” jawab Ziva spontan karena kalau bisa diliat dari cara berpakaian Ihsan memang sangat rapi.

“Dia saja bisa mengatur cara berpakaian, pikir saya dia juga bisa mengatur kelas ini, Pak.”

Seketika kelas riuh dengan tepukan tangan semua mahasiswa di kelas.

“Baiklah, silakan duduk.”

Ziva dan Ihsan pun segera duduk.

“Zi, kamu, kok, bisa jawab itu padahal kamu kan, baru aja kenal?” tanya Tia heran.

“Aku jawab asal aja biar cepet selesai.”

Setelah pemilihan kompi dosen pun memulai perkuliahan karena mata kuliah hari ini adalah tentang hardware komputer jadi dosen hanya menjelaskan sedikit materi dan dilanjutkan dengan praktik yang dibimbing oleh para asdos (asisten dosen).

Sejak kedua asdos memasuk ke dalam lab dan memberi arahan. Mata Ziva menangkap sosok yang mampu menggetarkan hatinya.

“Kak, ini kok, enggak hidup ya, lampunya?” tanya Ziva mencuri perhatian.

“Oh, ini kamu ada salah di sini.” Selagi sang asdos menjelaskan, Ziva hanya fokus ke wajah oriental milik sang asdos. Bayu namanya asdos yang ditaksir Ziva. Si laki-laki berwajah oriental. Namun, berlogat Jawa Kendal.

‘Lucunya, ganteng lagi,’ ujar Ziva dalam hati.

“Ya udah, kamu lanjut, ya,” ujar Bayu membuyarkan lamunannya.

“A…, a iya, Kak,” Ziva pun tergagap.

Sebenarnya Ziva bisa menyesaikannya sendiri karena dia lulusan SMK TKJ. Tapi untuk mendapatkan perhatian Bayu ia sengaja melakukan kesalahan agar dapat melihat Bayu dari dekat.

***

Seminggu sudah berlalu setelah pemilihan komti. Ziva yang mulai aktif menjadi anggota musik lebih sering berkumpul bersama teman-temannya di UKM dibandingkan dengan teman sekelasnya.

“Zi, udah selesai? Enggak ada kuliah lagikan?” tanya Maza.

“Enggak, nih.”

“Masuk kelas aku aja, yuk! Enggak akan ketahuan,” lanjut Maza meyakinkan karena menangkap keraguan di raut wajah Ziva.

“Oke!”

Hanya perlu beberapa menit setelah Ziva dan Maza duduk dosen pun masuk dan menjelaskan materi. Jam pun cepat berlalu kelas pun disudahi dengan satu pertanyaan.

“Ada yang bisa gambarkan perbedaan analog dan digital?” Sambil mennyodorkan spidol.

Seketika hening dan muncul suara berbisik tanda diskusi. Tiba-tiba ada seorang mahasiswa maju tanpa disadari oleh mahasiswa yang sibuk diskusi. Namun, karena ini bukan prioritas Ziva jadi ia menyadari.

“Itu namanya siapa?” tanya Ziva ke Maza.

“Itu Faqih, dia emang pinter kayak udah pernah pelajarin semua mata kuliah,” jelas Maza.

“Kenapa, naksir, ya?” tanya Maza karena melihat Ziva tak melepas pandangan dari Faqih. Namun, Ziva hanya tersenyum.

***

“Nama kamu Ziva, kan?” tanya Ihsan sambil mendata dan meminta nomer handphone teman sekelasnya.

“Iya,” ujar Ziva singkat dan langsung mengambil kertas di tangan Ihsan dan menulis nomer handphone-nya.

“Oh ya, Zi, kamu sudah selesai tugas dari bu Rahma?”

“Udah, kenapa?”

“Boleh minta bantuannya? Ada soal yang enggak aku paham.”

Ziva hanya mengangguk dan langsung meninggalkan Ihsan yang masih lanjut meminta data.

“Nanti aku chat kamu, ya?”

Ziva yang sudah di depan pintu hanya mengajungkan jempol.

Bersambung…

3 Mei 2020

Nulisbareng/putrizaza

Jumlah kata: 478

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan