Goodbye

CINTA TAK SALAH PART 19 (THE LAST) oleh Putri Zaza

CINTA TAK SALAH PART 19 (THE LAST)

Sebelumnya di CINTA TAK SALAH PART 18 (Putri Zaza)

“Nih, kado buat mantanmu,” ucap Ziva sambil menyodorkan barang yang dibungkus plastik hitam.

“Buku? Enggak salah kamu kasih mantanku buku?”

“Abis bingung mau beliin apa. Pikirku mereka akan membangun sebuah keluarga baru dan harus belajar, dari buku itu banyak ilmu tentang pernikahan.”

Andri mulai mengerti maksud baik sahabatnya.

“Lihat, deh!” ujar Ziva menunjukan sebuah undangan yang dikirim Fia. “Ini undangan pernikahan mantan dan temanku. Jadi, kamu harus temani pergi ke undangan, ya! Kalau aku enggak datang, bakalan lebih rame pesan masuk ke dm Instagram.”

Andri hanya diam dan menimbang, mengambil ponsel dari tangan Ziva dan memperhatikan tulisan demi tulisan di dalam undangan. “Oke! Imbalannya apa?”

Reflek Ziva membuka matanya lebar-lebar dan mendengus kesal.

“Setelah aku temani, traktir aku ramen.” Andri melanjutkan ucapannya.

Ziva pun menganggukkan kepala.

***

Sebelum pernikahan Ihsan diadakan, Andri datang ke pernikahan mantannya lebih dulu, sepulangnya ia bercerita suasana ketika ia datang, seperti biasa ledekan di sana-sini karena teman satu kantornya tahu hubungan keduanya. Pasalnya Andri dan sang mantan teman satu kantor. Ditahan oleh adik sang mantan agar lebih lama berada di pesta, selama berjam-jam melihat perempuan yang ia pacari selama setahun bersanding dengan lelaki lain cukup memaksanya melatih kesabaran.

[Kamu yakin datang ke nikahannya Ihsan?]

[Yakin, besok berangkat dari kantorku, ya, aku bakalan izin keluar karena tempat resepsinya tak jauh dari kantor]

Esoknya Ziva berangkat kerja dengan membawa baju ganti untuk pergi undangan. Tak ada banyak persiapan, make up seadanya karena memang pekerjaan Ziva mengharuskan ia menggunakan make up.

[Besok aku ada dinas ke luar kota, jadi enggak bisa datang, Zi]

Pesan dari Nana membuatnya mulai cemas. Pasalnya ia harus menghadapi semua temannya sendirian tanpa sahabatnya di sampingnya. ‘Tenang, Zi, semua akan teratasi,’ batinnya menyemangati.

***

“Selamat ya, Tante,” ucap Ziva menyalami ibu dari Ihsan.

“Iya, semoga cepet nyusul ya, ini pacarnya?” Dengan menunjuk Andri yang berdiri tepat di belakang Ziva. Andri hanya tersenyum tak menjawab.

“Neng, sini! Ada Ka Ziva,” teriak sang ibu memanggil kedua adik Ihsan. Ucapan cepat menyusul pun terdengar lagi Ziva yang nampak bingung ingin menjawab apa, akhirnya memohon doa semoga disegerakan.

Ketika sudah duduk di kursi tamu.

“Itu ibunya Ihsan?”

Ziva hanya mengangguk dan Andri pun tertawa yang membuat Ziva semakin dongkol.

Waktu semakin sore dan Ziva harus kembali ke kantor. Seusai bersalaman dengan pengantin dan berfoto Andri mengantarkan kembali ke kantor.

Setibanya ia langsung mengunggah foto yang diambil ketika datang ke pernikahan Ihsan dengan hati puas. Ziva tahu resikonya akan ada pesan masuk berbela sungkawa seperti halnya seorang yang tertimpa musibah, tapi ia abaikan dan mengaminkan doa-doa baik dari teman-teman.

***

Berjalannya waktu akhirnya Ziva menjatuhkan pilihan setelah banyak drama yang ia tempuh. Dari didekati oleh laki-laki yang lebih muda sampai yang usianya terpaut sepuluh tahun. Ia tak pernah membenci Ihsan. Ia tak pernah menyesal pernah bertahun-tahun bersama dengan lelaki berkaca mata ini, karena dulu ia pernah bahagia dan tertawa bersamanya.

Pengkhianatan yang Ziva alami adalah cara Tuhan mencintai hambanya semua adalah takdir yang harus Ziva dan Ihsan lalui untuk melangkah ke depan. Seolah Tuhan berkata, ‘Aku telah menuliskan jodoh kalian masing-masing. Kini saatnya untuk berpisah dan bertemu dengan nama yang telah Kutuliskan’.

TAMAT.

Cibitung, 22 Agustus 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

Tinggalkan Balasan