Cinta Tak Salah

CINTA TAK SALAH PART 15 (Putri Zaza)

Part sebelumnya CINTA TAK SALAH PART 14 (Putri Zaza)

Ihsan tak dapat mengembalikan kepercayaan Ziva kepadanya sudah terlalu banyak omongannya yang tak dapat ia tepati.

“Lagi dekat dengan siapa sekarang?” Pertanyaan yang nyaris sering diutarakan. Perempuan bermata belok ini, ia pula sudah menghapus perasaannya untuk Ihsan. Mulai dari sinilah Ziva tak peduli dengan perempuan yang sedang didekati sang mantan kekasih.

Gelar sarjana sudah di tangan, orang tua Ziva dan Ihsan untuk pertama kalinya bertemu di acara wisuda. Orang tua Ihsan mengira anaknya masih berpacaran dengan Ziva menganggap kekasih anaknya terlalu sombong karena tak mendekat atau ngobrol dengan keluarga. Sedang orang tua Ziva yang tahu mereka sudah tak lagi memiliki hubungan menahan anak perempuannya untuk terlalu dekat dengan mantan calon mertua.

Hal ini sempat menjadi perselisihan antara Ihsan dan Ziva, kedua orang tua mereka sama-sama tak saling ingin menjadi besan.

Mungkin ini suatu pertanda?

“Mama, kurang suka dengan ibunya Ihsan, judes banget. Untung kalian sudah putus. Enggak rela, sih, anak Mama dijudesin gitu.” Kekhawatiran ibunya Ziva memanglah wajar. Setiap ibu tidak akan rela anaknya diperlakukan tidak baik oleh orang lain.

Di rumah yang lain setelah acara wisuda.

“Ziva, sombong, ya. Mama enggak setuju kalau kamu nikah sama dia!”

“Mungkin Ziva butuh waktu untuk pendekatan, Ma,” ujar Ihsan membela belahan hatinya.

Ziva yang terkenal manut, akhirnya mengutarakan segalanya kekhawatiran ibunya  kepada Ihsan namun laki-laki yang berlesung pipi ini selalu meyakinkan bahwa persepsi yang dimiliki kedua orang tuanya bisa diubah. Ihsan berusaha meyakinkan bahwa perempuan pilihannya adalah yang terbaik sedang Ziva hanya meluruskan kemungkinan lebih yang menenangkan.

“Mungkin aslinya baik, Ma. Cuma memang raut wajahnya aja yang judes.”

***

Walau mereka sudah tak memiliki status namun keduanya masih terlihat jalan berdua. Mereka sempatkan untuk pergi setiap akhir pekan karena mereka tak bekerja di tempat yang sama. Walau perasaan mereka sudah tak di frekuensi yang sama namun Ihsan tetap yakin bahwa Zivalah sosok istri yang ia dambakan.

Ihsan dengan berani dan penuh pertimbangan mengutarakan niatannya untuk melamar. Sayang disayang.

“Zi, kenapa nangis?” Air mata yang tak mampu ditahan meleleh seketika.

Bersambung …

Cibitung, 2 Agustus 2020

Nulisbareng/putrizaza

0Shares

One comment

Tinggalkan Balasan