Pasangan

CINTA TAK SALAH PART 1 oleh PUTRI Zaza

CINTA TAK SALAH PART 1 (Putri Zaza)

“Ma, ini warnanya nyambung, enggak?” ujar Ziva sambil menunjukan setelan pakaian dan jilbab yang ia gunakan saat ini.
“Coba Mama lihat?” sambil memutar badan Ziva untuk melihat detail motif.
“Cocok, kok,” lanjut mamanya sambil tersenyum.

Ziva kembali ke kamar untuk melanjutkan persiapannya besok.
“Baju udah, tas udah bawa buku satu aja deh kan belum dapat jadwalnya, tempat pensil udah masuk oke siap deh, tidur, ah biar besok enggak telat masuk kelas, mungkin kalau hari pertama masih perkenalan doang kali kayak waktu sekolah,” ucap Ziva dengan dirinya sendiri setelah semua persiapan selesai. Ia bersih-bersih dan bersiap untuk tidur.


“Kiri, Bang.” Ziva segera turun dan membayar ongkos. Dipandangnya gerbang universitas yang tak lain adalah tempat ia melanjutkan pendidikan.
Langkahnya terhenti karena ada yang menepuk pundaknya.

“Ziva udah tau kelasnya di mana?” tanya Maza teman satu kelompok saat ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus).
“Belum emang liat di mana?”
“Ikutin Desi aja, yuk, kayaknya dia punya kenalan kating (kakak tingkat),” tarik Maza ke arah gerombolan maba (mahasiswa baru) yang sedang berbincang-bincang dengan kating.


“Kalian kalau mau lihat jadwal ada di mading, ya,” ucap kating yang seperti laki-laki tapi suaranya perempuan ini menunjuk mading yang ramai dikerumunin oleh mahasiswa.
Ziva pun berjalan ke arah mading namun tangannya ditahan Maza dan dipaksa untuk mengikuti gerombolan mereka untuk naik ke lantai atas.


“Liat di sini aja Zi, sepi,” ucap Maza sambil mencari namanya. Ziva pun ikut naruh telunjuknya dan mencari namanya.
Beberapa maba masih sibuk bertanya letak kelas mereka.


“Kak, kelas B1.2 di mana, Kak?” tanya Ziva yang bingung karena ada kelasnya di awali A,B dan C.
“Oh, itu di gedung belah, ini kan gedung A, nah sampingnya B sampingnya lagi C. Kamu jurusan apa?”
“Sistem Informasi, Kak.”
“Mending kamu segera ke sana itu kelasnya ada di lantai 1, kayaknya kelas kamu udah ada dosennya,” ujar kating tersebut sambil melihat jam di tangannya.
“Waduh, iya makasih, Kak.” Ziva pun langsung bergegas untuk ke gedung sebelah dan mencari kelasnya. Betul saja dosen tersebut sudah mulai menjelaskan sesuatu.


Tok…tok…tok…
“Silakan masuk.” Ziva pun membuka pintu dan celingak celinguk melihat kelas sudah terisi penuh.
“Masuk dan silakan cari kursi yang kosong.” dosen tersebut mempersilakan Ziva yang nampak bingung.
“Baik, Pak.”
‘Gara-gara ngikutin Maza jadi telat, duh malunya untung masih ada kursi kosong,’ gerutu Ziva dalam hati sambil mengeluarkan buku dan tempat pensil.


‘Ziva di mana? Kalau kelas udah selesai langsung ke kantin gedung B, ya,’ pesan singkat dari Maza. Ziva pun bergegas menuju kantin dari kejauhan Ziva melihat Maza bersama satu temen perempuan dan lima laki-lakinya sedang berbincang-bincang.


“Hai, Za,” sapa Ziva dan dibalas dengan lambaian yang mengajak Ziva untuk duduk di sampingnya.
“Ini temen kelasmu?”
“Iya, di kelas perempuannya cuma berempat.” Ziva pun menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Hai, Guys, yuk!” Tiba-tiba Desi mengajak semua anak di kantin dan semuapun mengikutinya dan mau tidak mau Ziva pun ikut serta membuntut karena Maza menariknya.


Mereka berjalan dan masuk kesebuah ruangan kedap suara dengan beberapa alat musik yang ditata rapi dan bau pengap rokok.
‘Ini studio musik, kan?’ tanya Ziva dalam hati.
Setelah semua masuk dan semua sudah siap mendengarkan promosi tentang ukm musik ini. Semua mendengar dengan seksama tak lama kemudian semua disodori formulir pendaftaran anggota baru.


Ziva melihat ke sekelilingnya, semua mengisi kertas tersebut akhirnya Zivapun menorehkan tinta ke kertas tersebut.


“Zi, kita sekelas,” ucap Tia pada Ziva men-scan dan berusaha mengingat perempuan di depannya ini.
“Oh, kamu yang kemarin juga daftar ukm musik ya?”
“Iya, lupa ya? Aku Tia ayok kelas kita di gedung A.”


Karena tidak memungkinkan mengajar sekelas dengan jumlah murid seratus orang lebih akhirnya pihak kampus menjadikan dua kelas untuk jurusan yang diambil Ziva.


Ketika sampai di kelas, rupanya masih sepi hanya ada beberapa mahasiswa yang sudah menempati kursi. Tia memilih kursi di barisan nomor dua, ya secara otomatis Zivapun mengikutinya.


“Kok, jam segini belum pada datang, ya?” ujar Ziva sambil mengecek handphone-nya.
“Mungkin enggak pada tahu kalau kelasnya dibagi dua.” Zivapun manggut-manggut.


Tak lama mahasiswa datang bergerombol sebelum beberapa menit dosen datang, Ziva mengecek bagian kursi belakang mengedarkan pandangannya menghitung satu per satu mahasiswa yang akan sekelas dengannya selama semester satu ini.

‘Memang tak sepenuh minggu lalu ini cuma ada sekitar 20-an orang aja, baguslah kalau seperti ini bisa fokus keperkuliahan,’ ujar Ziva dalam batin.


“Selamat pagi,” sapa dosen yang barusa saja memasuki ruang kelas dan memberikan daftar hadir kepada mahasiswa di barisan terdepan.
“Komti (komandan tingkat) tolong bagikan,” sambil menunjukan tumpukan kertas berisi materi perkuliahan seketika hening dan semua mahasiswa menengok kanan dan kirinya.


“Maaf Pak, kelasnya belum ada pemilihan komti karena baru hari ini dibagi” Puput menjelaskan dan memecah kesunyian.
“Baiklah kalau gitu kita adakan pemilihan komti.”

Semua mahasiswa dipanggil satu persatu untuk menulis dan memilih teman yang layak untuk menjadi pemimpin.


“Ziva Saraswati.” Kini giliran Ziva untuk memilih karena tak ada yang dikenal akhirnya Ziva memilih nama dengan pemilih paling banyak berhubung Ziva mahasiswa terakhir dosen meminta Ziva untuk tetap berada di depan membelakangi papan tulis.


“Silakan Ihsan maju ke depan karena Anda yang paling banyak dipilih oleh teman-teman”.


Ihsan pun maju dengan dibarengi sorakan berisik mahasiswa yang lain. Sejak tadi, Ziva bertanya-tanya Ihsan itu yang mana, kok banyak yang pilih dan akhirnya laki-laki yang membuat tanda tanya di benaknya pun menghampirinya dan berdiri tepat di sampingnya.


Bersambung…

Cibitung, 26 April 2020
Nulisbareng/putrizaza

0Shares

3 comments

Tinggalkan Balasan