CERMIN oleh Nopiranti

Setiap kali melihat bayangan diri di cermin, saya selalu teringat pada satu lagu nasyid lawas berjudul “Cermin”. Lagu ini dibawakan oleh sebuah grup nasyid perempuan, yaitu Bestari. Pertama kali saya mendengar lagu ini waktu SMA, sekitar tahun 1999 (ketahuan deh umurnya sudah banyak, hehe…).  

            Inilah satu-satunya nasyid yang lirik dan iramanya masih saya hafal dengan baik meskipun sudah puluhan tahun  berlalu. Liriknya sederhana namun mengandung makna yang dalam. Iramanya ceria, enak didengar dan mudah diikuti.

            Ada banyak pelajaran yang saya dapat dari lagu ini. Sebelum saya jelaskan lebih detail apa saja pelajaran baik itu, berikut saya tuliskan lirik lagunya supaya kita bisa sama-sama menyerap energi positif dari lagu ini.

Ketika diriku bercermin di kaca aku jadi malu
Melihat bayangan yang berjilbab putih itulah diriku
Namun nyatanya hati dan tingkah lakuku
Belum sesuai dengan pakaianku

Sering ngomongin orang
Belanja tak karuan
Pilih-pilih teman
Kadang iri-irian

Sering juga dandan berlebihan
(“Cermin” oleh Bestari)

“Cermin” oleh Bestari (cover)

Dari judul lagunya saja saya sudah dapat banyak pelajaran. Cermin. Sebuah benda yang fungsinya memantulkan bayangan benda yang mampir di hadapannya. Jika benda yang ada di depannya indah, maka indah pula bayangan yang akan nampak. Sebaliknya, jika buruk tampilan benda yang mampir di depannya, maka buruk pula bayangan yang akan terpantul dari cermin itu.

            Dari cermin saya belajar menghargai dan memelihara bayangan diri. Jika ingin bayangan kita terlihat indah, maka perindahlah dulu diri kita. Jangan lantas menyalahkan cermin saat kita melihat bayangan diri tidak seindah yang kita harapkan. Jangan sampai buruk muka cermin dibelah. Kita yang buruk rupa atau buruk tingkah laku tapi menimpakan kesalahan pada pihak lain.

            Cermin juga mengingatkan saya untuk selalu menjadi bayangan yang baik untuk orang-orang yang ada di sekitar saya. Karena sejatinya saya adalah pantulan mereka dan merekapun pantulan diri saya. Seseorang itu akan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Jika baik akhlak kita maka itu pertanda baik pula orang-orang yang mengelilingi kita. Sebaliknya jika buruk tingkah laku kita, periksa lagi saja kondisi sekeliling kita, baik atau kurang baik. Walaupun terkadang ada saja kondisi di luar kewajaran. Ada orang yang kebaikannya bersinar di tengah lingkungan yang buruk. Sebaliknya ada juga orang sulit berubah menjadi baik sekalipun dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Intinya, perbaikilah diri sendiri dulu. Semoga nanti kebaikan kita akan memantulkan kebaikan pula bagi sekeliling kita.

            Beranjak pada lirik. Banyak pesan moral yang coba disampaikan dalam lirik lagu ini. Jilbab sejatinya bukan hanya selembar kain penutup kepala saja. Tapi jilbab adalah identitas yang membedakan seorang muslimah dengan non muslimah. Jilbab melindungi kehormatan, kebersihan, dan kesehatan perempuan. Dengan jilbab, tidak sembarang orang bisa melihat tubuh kita seenaknya. Dengan jilbab kita terlindung dari debu dan panas terik yang mengotori dan merusak kulit.

            Jilbab juga bisa menjadi rem yang membantu menahan seorang muslimah dari bertingkah laku kurang baik. Saat emosi memuncak dan amarah sukar dikendalikan, atau saat hendak berkata buruk atau bertindak kasar, menunduklah. Pegang erat dan tatap lekat-lekat jilbab kita. Segeralah beristigfar. Kendalikan dan tenangkan diri. Jilbab kita adalah cerminan rasa malu dan harga diri kita.

            Seorang muslimah yang memutuskan berjilbab, memang tidak lantas harus seratus persen berubah jadi super baik dan super suci dari kesalahan. Tapi setidaknya, jilbab dapat  membantu kita memperbaiki diri supaya lebih baik dari hari ke hari. Salah satunya supaya terhindar dari kebiasaan buruk yang digambarkan dalam nasyid “Cermin” di atas.

            Saya pribadi merasa sangat tersentil dengan fakta yang diungkap dalam lirik nasyid ini. Pertama, sering ngomongin orang. Terkadang maksud saya hanya sekedar curhat, mencari solusi saat sedang ada masalah dengan seseorang. Lantas saya mengungkapkan fakta yang terdengar dan terlihat tentang orang itu pada orang lain. Tanpa sadar akhirnya obrolan melebar, meluas, menganak sungai sampai pembicaraan jauh dari maksud asalnya. Saya keasyikan membicarakan orang lain. Padahal itu sama saja saya sedang meracuni diri, ghibah, memakan bangkai saudara sendiri. Nauzubillah. Ampuni segala kekhilafan hamba selama ini, ya Rabb.

            Kedua, belanja tak karuan. Seringnya saya lapar mata. Saat melihat barang bagus apalagi harganya murah, langsung saja merasa kalau saya sangat membutuhkan barang tersebut. Saat sudah dibeli, sampai ke rumah baru sadar jika sebetulnya saya tidak terlalu memerlukan barang itu. Menyesallah yang ada. Barang yang sudah dibeli kan jarang-jarang bisa ditukar lagi. Walaupun terkadang ada pembelaan dari diri sendiri kalau barang tersebut kan bisa untuk stok atau untuk koleksi. Tapi, alangkah jauh lebih baik jika saya belajar hemat dan cermat saat belanja. Membeli hanya barang yang sangat saya perlukan saja yang jika barang tersebut tidak ada barang  akan mengganggu aktifitas saya. Semua perlu pembiasaan. Insyaallah bisa.

            Ketiga, pilih-pilih teman. Duh, jadi malu. Sering saya menghindar untuk berdekatan dengan seseorang hanya karena saya tidak suka pada sikap, kondisi fisik, atau kondisi sosialnya. Saya hanya mau bergaul dengan orang yang menurut saya sesuai dengan selera saya saja. Tanpa memikirkan bagaimana seandainya jika saya yang diperlakukan demikian oleh orang lain. Pastinya sakit hati banget ya. Tidak suka pada seseorang sah-sah saja. Tapi tidak harus melunturkan akhlak baik kita saat berhadapan dengan orang tersebut. Karena belum tentu juga kita ini baik dalam pandangan  orang lain. Bergaullah dengan siapa saja. Ambillah pelajaran baik dari semua orang yang kita jadikan teman. Berusahalah untuk selalu melukis keindahan dan hanya meninggalkan kenangan baik pada siapa saja yang berhubungn dengan kita.

            Keempat, kadang iri-irian. Iri pada kebaikan, amal salih, atau prestasi baik orang lain lalu kita terpacu untuk melakukan hal serupa, tentu saja sangat baik. Namun jika iri itu membuat hati kita kotor, pikiran kita penuh prasangka buruk, atau lisan kita jadi sering mengeluh dan mengumpat orang lain, ini tentu kondisi yang harus kita hindari. Setiap orang sudah ada jatah rezekinya masing-masing. Jika sesuatu sudah Allah takdirkan menjadi milik kita, pasti akan selalu ada jalannya kita berjumpa dengan rezeki kita. Namun, jika hal tersebut bukan jatah kita, mau sampai jugkir balik bagaimanapun tetap tak akan menjadi milik kita. Belajarlah untuk selalu berbahagia dan ikut bersyukur atas rezeki orang lain. Semoga  kebaikan kita mengundang dan mendatangkan rezeki yang berkah dari Allah.

            Kelima, sering juga dandan berlebihan. Naluri perempuan sekali ya selalu ingin tampil cantik dan menarik. Tidak salah dan tidak ada yang melarang juga. Allah itu indah dan menyukai keindahan. Namun ada batas yang harus diperhatikan saat kita ingin tampil cantik dan menarik. Khusus untuk perempuan terutama harus tetap menutup aurat, tidak menyerupai tampilan laki-laki atau  tampilan wanita non muslimah, dan tidak berlebihan baik dari bau, warna, atau modelnya. Jadikanlah keindahan akhlak sebagai sebaik-baik perhiasan diri. Pelihara kecantikan hati dan pikiran, nanti akan terpancar juga pada kecantikan wajah.

            Seiring bertambahnya usia, bertambahnya ilmu, dan meningkatnya keimanan, semoga kita bisa menjadi muslimah yang digambarkan dalam lirik akhir nasyid “Cermin” yaitu menjadi seorang muslimah yang bersih hatinya, lurus akhlaknya, bersinar kharismanya, dan senantiasa berada dalam naungan cinta dan rida Allah. Aamin ya mujibassaailin.   

Selasa, 6 Oktober 2020

NulisBareng/Nopiranti

0Shares

Tinggalkan Balasan