Cerita Terbaik dari Event Bertemakan Pandemi

Judul: Kisah Semasa Corona

Penulis: Ratih Paskie, dkk

Penerbit: CV Rumah Media (sedang proses pengeditan)

Pandemi Corona masih mewabah dunia, termasuk negeri kita Indonesia. Salah satu dampaknya, banyak buku yang diterbitkan berdasarkan satu tema. Event yang diusung oleh Mbak Ratih ini adalah salah satunya. Begitu banyak perubahan yang terjadi selama wabah yang semuanya bisa kita ceritakan, bukan?

Menariknya, ada yang berbeda dari event ini. Sepertinya event menulis antologi dari Nubar pada umumnya, akan dipilih satu naskah terbaik yang berhak mendapatkan piala. Maka pada event ini, tak hanya satu naskah terbaik saja, melainkan ada tiga terbaik yang saya janjikan berhak mendapat e-book cerita dengan tema yang sama.

Bahkan enggak cuma itu. Berhubung banyak naskah yang menarik, maka saya akhirnya memutuskan memilih 5 pemenang.

Jadi, siapakah kelima pemenang pilihan saya?

***


  “Ibu enggak asyik, Ayah, enggak ngerti Olin.” Curhatan anakku ke suami yang tak sengaja aku dengar.  Duh, aku enggak asyik.
“Ibu itu asyik banget, Nak, pakai nampol, Olin aja yang belum tahu, Ayah aja mengagumi ibu,” gombal suamiku.      
Tak terasa tahun ini Olin kelas 3 SMP. Cantik, enerjik dan duh Gusti, banyak teman cowoknya. Pernah terlintas di benakku untuk memasang GPS di ponselnya atau menyadap whatsapp-nya. 
“Nanti Olin makin menjauh karena kita tak menghargai privasinya, Dek.”

(“Aku, Putriku dan Covid” oleh Yunai)

***

“Daerah kita bukannya belum kena PSBB, Mas. Di TV baru Jakarta, kan?”  tanyaku.
Mas Ge menyampirkan handuk di bahunya. Sambil berjalan masih kudengar suaranya menjawab, “PSBB itu Pendapatan Saya Berkurang Banyak.”
Kata-kata Mas Ge membuatku ingin tersenyum. Namun mendadak diam termenung menatapi lembaran di tangan. Ingatanku melayang pada pembicaraanku dengan Ridi kemarin malam. Putra sulungku yang sudah bekerja di bekasi, mengabarkan kalau ia dirumahkan selama pandemi covid dalam batas waktu yang tidak ditentukan, karena pabriknya mengalami PSBB juga. Pabrik Sementara Berhenti Beroperasi.

(“PSBB Oh PSBB” oleh Sabiqis Edogawa)

***

Aku marah, aku hancur, merasa terpuruk hingga tidak ada gairah untuk menulis tesis yang tinggal selangkah lagi ku selesaikan. Rencanaku berantakan di kala pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah sehingga pembelajaran dilakukan secara daring. Penelitianku terhenti, mimpiku untuk wisuda di bulan Juni 2020 pun tertunda.

(“Mimpi yang Tertunda” oleh Euis Tresna Gumilar)

***

‘Namun, mau sampai kapan hidup seperti begini? Kehidupan macam apa yang sedang kami jalani sekeluarga?’ tanyaku dalam gumam di hati sambil menghela napas panjang.
Ketika kalender memasuki bulan Juni, kami sekeluarga sudah berusaha patuh dan taat imbauan Gubernur Jawa Tengah selama hampir tiga bulan. Wow! Sebenarnya ini prestasi luar biasa buat kami. Terutama untukku, karena bisa tetap sabar menerima keadaan tanpa memikirkan jadwal piknik di akhir pekan apalagi sampai merengek pada suami.

(“Pengendalian Diri di Masa Pandemi” oleh Ribka ImaRi)

***

“Segila inikah pandemi ini?”
“Mana yang lebih mengerikan; virusnya atau pemberitaannya?”
Kami pun kepikiran orang-orang yang bernasib sama dengan kami, penyintas kanker dan penyakit generatif lainnya yang mesti lebih ekstra hati-hati dalam bertahan hidup. Masalah baru saat ini adalah terbatasnya akses kami untuk berkunjung ke dokter seperti saat-saat normal dulu. Terbersit di pikiran kami tentang kematian, sebab dari informasi yang kami terima bahwa orang yang memiliki riwayat kanker lebih rentan terpapar Covid-19.

(“Bagaimana Jika Kita Tidak Bisa Bertahan?” oleh Muhammad Hujairin)

***

E-Book “Corona Guru Kita”

Selamat yaa, untuk kelima pemenang. Bisa dibaca cuplikan tulisannya keren-kereeen, kan!

Lalu, siapakah satu terbaik yang berhak mendapatkan piala? Hehe, yang itu nanti, ya. Karena kelima terbaik ini adalah pilihanku, sementara satu terbaik adalah pilihan Pak Ilham. Semangat untuk semuanya! Jangan lupa akan ada event menarik lainnya dengan tema yang sama.

nubarsumatera/EmmyHerlina

0Shares

Tinggalkan Balasan