Hantu

Cerita Hantu Di Kampus oleh Athena Hulya

Cerita Hantu Di Kampus

Cerita hororku kali ini tentang kampus tempatku menimba ilmu selama kurang lebih empat tahun lamanya. Hantu-hantu di kampusku memang tak terkenal seperti hantu-hantu di kampus lain yang ceritanya seringkali wara-wiri di jejaring sosial.Tapi untuk orang-orang yang sensitif terhadap hantu, kampusku itu terkenal cukup angker.

Sedikit gambaran, kampusku terletak di pinggir jalan dekat pusat kota, terdapat dua gedung, gedung A dan B namun kedua gedung tersebut letaknya agak berjauhan dan masing-masing gedung terdiri dari 4 lantai. Kali ini, aku akan menceritakan hantu-hantu yang terlihat sering muncul di gedung A. Sebenarnya di masing-masing gedung terdapat cerita mistis, karena saat kuliah dulu aku lebih aktif di gedung A maka yang kutahu hanyalah hantu di gedung tersebut saja. Untuk hantu-hantu di gedung B tidak pernah melihatnya secara langsung, hanya sebatas selentingan cerita dari kawan.

Saat kuliahku aktif di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa, banyak kegiatan yang harus dilakukan menuntut untuk terkadang pulang malam. Suatu hari selepas Isya, aku dan sebagian teman seorganisasi mengadakan penggalangan dana untuk sebuah acara kampus, secara berkelompok kami mendatangi kelas-kelas yang malam hari itu masuk. Aku dan seorang teman bernama Hani diminta untuk meminta sumbangan di kelas-kelas lantai empat.

Karena mahasiswa-mahasiswi yang ada jadwal di lantai empat belum lengkap dan pelajaran belum ada yang dimualai, aku dan Hani turun lagi untuk melaksanakan salat Isya. Kami  berwudu di toilet, toilet itu letaknya dibagian belakang kampus bersebelahan dengan kantin, di samping toilet tersebut gudang dan di sampingnya terdapat pohon mangga yang lumayan lebat. Selesai wudu dan hendak memakai hijab, biasa memakai hijab di depan gudang karena di sana terdapat cermin, sedang toilet tidak diberikan cermin. Tiba-tiba kami berdua mencium wangi melati yang agak menusuk hidung.

“Kak, kamu pakai parfum, ya? Nyengat banget wanginya, ih!” ucap Hani sambil menutup hidungnya.

“Enggak, kok, parfumku ketinggalan di Sekret. Lagipula parfumku wangi cuddle, Ni, bukan melati,” jawabku.

“Mungkin ada anak yang pakai parfum itu di toilet kali, ya?” tanya Hani.

“Mungkin. Eh, Ni, pohon mang…..” Niat hati ingin bertanya, kok, pohon mangga di samping ini belum berbuah, sembari mendongakan kepala. Aku malah melihat sesosok kuntilanak sedang bergelayutan di pohon mangga. Ia memunggungi kami, sehingga tidak tampak wajahnya. Yang terlihat hanya seperti kain putih lusuh dengan rambut panjang yang gimbal.

            Dalam hati, oh, jadi karena ada dia makanya wangi melati. “Ni, cepat, yuk, salat, nanti mahasiswa yang ada di kelas-kelas lantai empat takut keburu pulang,” ucapku sambil bergegas pergi, Hani pun mengikuti.

            Singkat cerita, setelah semua selesai dan berjalan pulang karena telah dijemput oleh mama. Rasa hati ingin menengok ke lantai empat. Saat menengok aku lagi-lagi melihat kuntilanak terbang dari pojokan dan menembus salah satu ruang kelas. Eh, ngeliat lagi, ucapku dalam hati.

            Sesampainya di rumah, mama nyeletuk, “kampusmu seram, ya, Dek?”

            “Emang Mama lihat apa?” Karena kutahu, setiap mama berkata seperti itu pasti telah ada yang dilihat olehnya.

            “Sebenarnya dari kemarin, sih, Mama lihatnya, tadi juga lihat,” ucap mama.

            “Lihat apa?” tanyaku menyecar.

            “Malam kemarin pas Mama jemput Adek, itu kan habis hujan, ya! Mama lihat di parkiran depan BEM ada tiga anak kecil lagi main tapi kepala dan lehernya enggak ada. Dan di waktu yang bersamaan di lantai dua ada sosok hitam tinggi, badan besar dan matanya merah. Pas Mama istighfar mereka langsung enggak ada. Tadi juga pas kamu lagi jalan nyamperin Mama, di lantai atas ada kain terbang nembus kelas. Kayaknya itu kuntilanak, deh,” jawab mama.

            “Ah, lebay!”  ucapku, namun dalam hati berkata kalau mama juga melihat apa yang kulihat tadi. Memang, aku tidak pernah mengatakan kepada siapapun kalau aku terkadang dapat melihat hantu, termasuk kepada keluargaku. Selama ini yang mama tahu hanya dirinya dan seorang kakakku sajalah yang dapat melihat-melihat hantu.

            Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, saat hendak makan siang di kantin kampus, aku mendengar percakapan antara Babeh satpam dan seorang kakak senior yang duduk persis di sampingku. Mereka membicarakan hantu-hantu di kampus. Sependengaranku, kalau di gedung A terkenal dengan kuntilanak di pohon mangga samping toilet wanita dan juga sosok hitam seperti genderuwo yang selalu muncul di lantai dua kampus, terkadang pula terlihat sosok anak-anak kecil tanpa kepala di parkiran. Persis seperti yang mamaku ceritakan tempo hari.

Babeh satpam juga bercerita asal muasal kampus kami, ia bercerita bahwa kampus kami sbelumnya adalah rawa-rawa yang juga terdapat pemakaman kecil. Kemudian tanah itu diratakan dan dijadikan bangunan kampus, beliaupun menambahkan kalau hantu-hantu di gedung A tidak seseram gedung B, menurutnya gedung B adalah sarang dari hantu-hantu yang ada di sekitaran kampus.

Bekasi, 15 Mei 2020

Nulisbareng/Athena Hulya

0Shares

4 comments

Tinggalkan Balasan