Catatan perjuangan warung nasi Bu Saidah oleh Ade Tauhid

Catatan perjuangan warung nasi Bu Saidah
By Ade Tauhid

Iwan sudah tiga bulan menamatkan esema nya, karena keterbatasan biaya Iwan tidak lagi meneruskan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi seperti teman temannya.

Iwan sebenarnya sangat sedih namun apa daya ibunya tak lagi sanggup membiayai sekolahnya.

Iwan sudah bosan dengan kondisinya dirinya yang cuma luntang lantung seperti ini.

Sejak bangun tidur sampai tidur lagi tak banyak yang dia lakukan. Iwan malu pada dirinya sendiri juga pada ibunya yang sudah tua.

Karena meskipun ibunya sudah paruh baya, tapi ibunya masih bekerja sebagai buruh cuci di kedai nasi Padang diujung jalan itu.

Terbersit keinginannya untuk berdagang saja, tapi berdagang apa belum terpikirkan. Lagian berdagang khan butuh modal?

Dari mana ia mendapatkan modal, minta pada ibunya tidak mungkin, sedang ayahnya sudah lama meninggal.

Iwan berpikir keras.

“Ibu, apakah Ibu ada ide pekerjaan apa yang cocok untukku?” tanya Iwan pada ibunya. Iwan benar-benar galau hanya ibu yang mengerti.

“Pekerjaan itu bukan masalah cocok atau tidak cocok, Nak, tapi bagaimana kamu mampu dan senang melakukannya,” kata ibunya.

“Iya sih Bu, tapi Iwan bingung apa yang harus Iwan lakukan kalau nganggur terus begini,” kata Iwan lagi.

“Apa Iwan tidak ingin cari kerja?” tanya ibu.

“Ah Bu, mana ada sih orang mau menerima pegawai hanya tamatan esema?” Iwan terkekeh.

“Bagaimana kalau kita berjualan ayam goreng saja?” saran ibu.

“Jualan ayam?” tanya iwan.

“Kenapa? Iwan malu?” tanya ibu.

Iwan menggeleng. “Enggak, Bu.’

“Lantas?” tanya ibu.

“Cara mulainya Bu , bagaimana?” tanya Iwan.

“Kita mulai dari rumah, kita buka warung ayam di rumah saja. Kebetulan Ibu punya sedikit uang untuk modalnya,” kata ibu antusias.

“Bagaimana? Ibu bisa masak ayam goreng spesial lo,” kata ibunya berseloroh sambil tersenyum.

Sebenarnya ibu Iwan dari dulu berkeinginan buka kedai nasi atau warung makan sendiri. Karena selama ini ibu melihat warung pak Dahlan di tempat di mana ibu Iwan bekerja sangat laris manis.

Tapi niat itu belum kesampaian karena waktu itu Iwan masih sekolah. Ibunya masih belum berani mengajak Iwan bekerja. Takut Iwan terganggu sekolahnya, tapi khan sekarang Iwan sudah besar dan sudah tamat esema?

“Bagaimana Iwan? Iwan mau?” tanya ibu lagi.

Iwan menganggukkan kepalanya setuju.

“Nak, ini tentang kerja keras. Ini bukan kerja cocok tidak cocok, tapi ini tentang kemauan. Insyaallah kalau Iwan gigih Iwan akan berhasil,” kata ibu sambil mengusap kepala Iwan, ibu terpaksa jinjit untuk meraih kepala Iwan karena Iwan sudah tinggi sekali.

Tiga hari kemudian warung nasi ayam Iwan dan ibunya resmi dibuka.warung nasinya diberi spanduk besar dengan tulisan “warung Nasi bu Saidah”. Saidah sendiri nama ibu Iwan.

Tadinya warung nasinya mau diberi nama “warung nasi ibu Iwan”
Tapi Iwan tidak setuju, alasannya karena nama ibunya lebih komersil untuk sebuah warung nasi. Seperti bertuah gitu. Semoga saja

Beruntungnya mereka, meski rumah mereka kecil tapi letaknya di pinggir jalan besar.

Meski kecil tapi tanah sebelah menyebelahnya adalah tanah kosong, jadi para pembeli yang kebetulan bawa kendaraan bisa leluasa memarkirkan kendaraannya di sana.

Mula-mula sekali ibu Iwan hanya bermodalkan tiga kilo ayam dan tiga kilo beras. Karena hanya ada beberapa pembeli.

Tapi setelah tiga bulan berjalan warung ayam Iwan dan ibunya menunjukkan kemajuan.

Sehari sudah bisa menjual 10 kilo nasi dan 10 kilo ayam. Sudah memiliki tiga orang karyawan.

Setahun berlalu, usaha ibu dan Iwan semakin bersinar.
Usahanya tadi hanya warung makan kini merambah ke usaha katering dan menerima pesanan untuk pesta dan hajatan besar.

Lahan di sebelah rumahnya juga sudah mereka beli untuk memperbesar usahanya warung nasinya.

Bertahun berlalu, cabang warung Bu Saidah dan Iwan sudah mencapai lima tempat.

Mereka sudah memiliki puluhan karyawan. Iwan dan ibunya pun sudah menunaikan umrah.
Alhamdulillah.

Memang benar kata orang usaha keras tidak akan mengkhianati hasil.

Bandar Lampung, Jumat 11 des 2020
Ade/Nubar Rumedia

0Shares

Tinggalkan Balasan