bubur sumsum

Call me, Sandy! Oleh Siti Rachmawati M.

Call me, Sandy!

Oleh: Siti Rachmawati M.

Mentari menyengat dengan sinarnya yang sangat garang. Angin panas dan kering menerpa wajah  keriput Mbah Jum. Baru beberapa hari menjalankan puasa Ramadan. Tubuhnya yang renta semakin ringkih. Langkahnya gontai. Wanita berumur itu pulang dari pasar. Di punggung, dia gendong bahan-bahan untuk membuat aneka bubur.

Saat melihat sebuah bangku di taman. Dia sempatkan untuk beristirahat. Ujung kain gendongan, dikibas-kibaskan ringan sekadar untuk mengusir peluh. Mentari sudah semakin condong ke barat. ‘Ah, aku harus buru-buru pulang. Kalau tidak, aku bisa kesorean nanti,’ gumamnya sendiri.

Terseok-seok langkah kakinya menapak aspal yang panas. Gapura gang yang menjulang tinggi sudah terlihat di depan mata. Dia percepat ayunan kakinya.

“Yem … Yem …. Kamu di mana, Ndhuk?” serunya begitu masuk rumah.

“Di sini, Mbah. Lagi nyapu halaman belakang!” setengah berteriak, Sandiyem, cucu satu-satunya menyahut.

“Ayo, sini. Bantuin Simbah di dapur!” kata Mbah Yem sembari tangannya menurunkan belanjaan.

“Iya, Mbah. Sebentar. Aku mau cuci tangan dulu.”

Tak lama kemudian, Mbah Jum dan Sandiyem sudah asyik di dapur. Mereka akan membuat aneka bubur, terdiri dari bubur mutiara, bubur ketan hitam, bubur sumsum, bubur cethil, dan bubur kacang hijau.

Tangan Sandiyem sudah terlatih sejak kecil. Sehingga dia tidak perlu banyak tanya lagi. Dia sudah terbiasa membuat bubur. Semua sudah diajarkan Mbah Jum bahkan dia sudah mewariskan ilmu tentang bubur yang lezat kepada cucunya sebagai pewaris tunggal.

Kehidupan keras yang Sandiyem alami sepeninggal kedua orang tuanya. Membuat dia menjadi gadis yang mandiri dan tegar. Dia ringan tangan, suka membantu pekerjaan tetangga yang membutuhkan bantuan. Tak sedikit para tetangga yang menggunakan tenaganya kemudian memberi upah. Untuk keperluan membeli buku atau kebutuhan sekolah yang lain. Sekarang pun hatinya riang membantu Simbah, perempuan tua yang sudah membesarkannya.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Mbah,” serunya puas. Tampak binar bahagia berpendar dari kedua bola matanya yang bening.

“Ya, sudah. Kamu buruan mandi. Terus salat Asar ya?”

“Ya, Mbah.”

“Simbah mau bersih-bersih dapur dan perkakas di sumur.”

Sandiyem segera melesat di balik pintu yang sudah lepas engselnya. Setelah mandi, salat. Dia berpamitan kepada Mbah Yem.

“Mbah, aku berangkat dulu, ya? Doakan jualannya laris.”

“Iya, Ndhuk. Aamiin Ya Rabbal’alamiin. Hati-hati di jalan,” kata Mbah Yem sembari mengusap lembut puncak kepala cucunya.

++++++

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/namaku-joe-oleh-siti-rachmawati-m/

Gadis kecil itu sudah menggelar dagangan di emper toko bahan bangunan yang sudah tutup. Dikarenakan kondisi saat ini yang sedang terjadi wabah virus corona. Maka toko memberlakukan pulang lebih awal kepada para karyawan.

Tiba-tiba, “Hey, girl! Why did the shop was closed?” Seorang bule laki-laki menghampiri.

I don’t know, Mister!” jawab Sandiyem sekenanya. Tangannya sibuk membungkus bubur untuk pembeli.

Girl, do you know what is the reason?” tanya bule itu lagi.

I don’t know, Mis-ter ...!” Akhirnya kepala Sandiyem mendongak.

You, yes you!” kata bule itu sembari telunjuknya menunjuk Sandiyem. “What’s your name?

“San-di-yem!” jawab Sandiyem ketus.

Yes, you, Yem!” Bule itu manggut-manggut.

What?” Sandiyem mulai naik darah.

“Yem, what are you selling?” Dia penasaran dengan apa yang dijual Sandiyem.

Namun Sandiyem tidak menggubris, dia tengah sibuk melayani pembeli lain yang baru datang.

“Yem … Yem! Are you deaf?” teriak bule itu kencang.

Sandiyem serta merta berdiri, berkacak pinggang. “You, Mister! You’re impolite man!”

What did you say?” Mata bule itu mulai memerah menahan marah.

You … are, im-po-lite man!” tegas Sandiyem menjawab. “One the most important thing is don’t say Yam … Yem again!” Dia hentakkan kakinya yang kecil ke tanah.

Seketika bule itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sandiyem. “So, what should I call you? Sandiyem is your name. Am I wrong call you, Yem?” Wajahnya penuh keheranan.

Call me, SAN-DY. Do you know what is the meaning?

Yes, of course. I know it well. San … dy … is full with the sand.” Bule itu tersenyum.

Yes, you’re right, Mister!” jempol Sandiyem terangkat.

Okey, I wanna buy this … this … and this!” Tangannya menunjuk semua bubur dagangan Sandiyem, “all of them I buy. Wrap them well!

Are you sure, Mister?” Mata Sandiyem terbelalak kaget bercampur senang.

Yes. Cause you’re a smart girl. I proud of you!” Si bule mengacungkan dua jempol.

Tangan Sandiyem membungkus semua bubur dagangannya dengan cepat. Hatinya berbunga-bunga. Karena dia bisa pulang lebih awal.

This is the money.” Bule itu menyodorkan dua lembar kertas berwarna merah.

But I don’t have the change, Mister.

It doesn’t matter. Don’t worry about it. It’s yours.

Thank you very much, Mister!” jawab Sandiyem sembari membungkukkan badan.

Okey, see you tomorow.

Sandiyem bergegas pulang ke rumah. Dia ingin segera berjumpa dengan Simbah untuk memberitah kabar gembira. ‘Alhamdulillah atas semua rezeki yang Kau berikan hari ini, Ya Allah,’ Dia melantunkan sekelumit doa kepada Sang Pemberi Rezeki.

Selesai

Grobogan, 2 Mei 2020

Jumlah kata : 750 kata

Nulisbareng/Siti Rachmawati M.

0Shares

Tinggalkan Balasan