Hantu

(Bukan) Penunggu Baru Rumahku! oleh Athena Hulya

(Bukan) Penunggu Baru Rumahku!

“Dek, semalam kamu pulang jam berapa?” tanya kakakku saatku sedang menyiapkan sarapan di dapur untuk keluarga.

“Jam setengah satu, kemarin kerjaanku bayak banget karena mau audit minggu depan. Eh, katanya kamu mau nungguin aku sampai pulang, Mbak. Eh malah tidur. Semalam aku jadi manjat pagar buat masuk ke dalam. Untung jalanan sepi jadi enggak ada yang lihat, kalo ada yang lihat, kan, bahaya nanti disangka maling aku.”

“Maaf, kamu tahu enggak, Dek? Semalam, sekitar jam setengah sembilanan pas aku ambil minum di kulkas, aku melihat ada sosok keluar dari kamar mandi. Dia mengesot, wajahnya rusak kayak habis kecelakaan gitu. Kita lihat-lihatan, aku bengong lihatinnya. Baru sadar karena sapu terjatuh, dia hilang dan aku langsung lari ke kamar dan nutupi badan pakai selimut. Seram, Dek, sumpah! Aku baru pertama kali lihat dia, tuh. Biasanya kan, cuma sosok bapak hitam yang ada di depan pintu saja. Makanya semalam aku enggak jadi nungguin kamu pulang, Dek. Sekarang aku jadi enggak enak badan juga habis lihat penampakan itu semalam.”

“Heee? Lebay ah, bilang saja kamu mau nakut-nakutin, kan, karena aku sering pulang malam?”

“Ya Allah, benaran. Enggak percaya? Biar saja nanti kamu lihat sendiri biar percaya!”

Setelah kumengingat-ingat, memang benar semalam saat kupulang sapu yang biasanya tergantung di pojokan kamar mandi samping kulkas terjatuh. Oh, mungkin saja apa yang diceritakan kakakku itu benar, ucapku dalam hati.

***

Seminggu setelah percakapan itu, aku dan kakakku hanya berdua saja di rumah. Mama dan bapak sedang pulang kampung. Karena waktu itu masih hari Kamis, kakakku baru di rumah selepas Isya. Aku yang seharian di rumah karena demam. Entah kenapa dari selepas Magrib rasanya aku ingin sekali terus-terusan menengok ke arah kamar mandi yang letaknya tak jauh dari kamarku. Jika pintu kamar terbuka otomatis arah pandangan menuju ke kamar mandi, saat mengambil makan di dapurpun juga begitu. Ingin menoleh ke arah kamar mandi.

Selepas salat Isya, aku duduk di tempat tidur sambil memegang ponsel berniat untuk menanyakan ke kakakku kapan ia pulang karena ia berjanji kalau akan pulang selepas Isya. Saat sedang mengetik pesan, hawa rumahku mendadak tidak enak. Kupikir sosok bapak hitam si penunggu rumahku yang dari sejak kami pindah belasan tahun lalu akan muncul.

“Pak, kamu jangan muncul, ya! Aku sedang sakit, nih. Kalo mau, jagain aku saja, di dekatku. Tapi jangan muncul yaaa, okee?!” ucapku keras, berharap sosok bapak hitam itu mendengarnya.

Pikiranku salah, ternyata yang muncul bukanlah si bapak hitam melainkan sosok lain yang keluar dari kamar mandi. Ia laki-laki, mengesot dengan wajah hancur bersimbah darah sampai ke bajunya, seperti korban kecelakaan. Sosok yang kakakku ceritakan seminggu lalu.

Aku sangat terkejut melihatnya, refleks aku beristigfar dan melempar gelas berisi air yang ada meja belajar di sampingku. Lemparanku hampir mengenai sosok itu, ia langsung menghilang. Wajahku pucat, badanku lemas dan jantung rasanya mau copot. Karena sangat amat takut, sosok itu adalah sosok paling menyeramkan dari sosok-sosok yang seringkali kulihat.

Kleeekk, gagang pagar terbuka. Tak lama terdengar suara salam.

“Assalamualaikum,” yang ternyata itu adalah suara kakakku. Aku tidak menyahut karena masih syok dengan kejadian yang baru saja kualami.

“Loh, kenapa, Dek? Kok, ada gelas pecah?”

“Aku kepeleset.” Aku berbohong karena tidak mau kakakku tahu apa yang barusan aku alami. Karena kalau sampai kuceritakan pasti ia akan menertawakanku karena seminggu lalu aku tidak mempercayainya.

“Kamu enggak kenapa-napa, kan? Ini biar aku saja yang beresin, ya! Kamu tidur saja.”

Aku tak bisa menjawab ucapan dari kakakku lagi, masih merasa takut. Kakakku pikir aku diam saja karena kesakitan habis terpeleset. Padahal tidak.

Sejak melihat sosok itu, ada perasaan takut saat aku masuk ke kamar mandi. Sosok itupun yang paling melekat dalam ingatanku. Tidak hanya aku dan kakakku, ibuku juga pernah beberapa kali melihatnya. Namun, ibuku hanya melihat sosok itu dari belakang. Tepatnya saat ibuku keluar dari kamar mandi atau akan masuk ke kamar mandi, sosok itu sedang mengesot menembus tembok dapur.

Ibuku berpendapat kalau sosok itu bertempat tinggal di rumah kosong yang letaknya dua rumah dari rumahku. Karena tetangga samping rumahku juga pernah melihatnya. Aku tidak peduli di mana ia berada, yang jelas kuharap itu adalah kejadian pertama dan terakhir yang kualami. Tidak terbayang jika aku melihat sosok menyeramkan itu lagi, mungkin saja aku bisa pingsan.

nulisbareng/AthenaHulya

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/cerita-hantu-di-kampus-oleh-athena-hulya/

0Shares

Tinggalkan Balasan