BILA MAKTRI WINDOWS SHOPPING oleh Ade Tauhid

BILA MAKTRI WINDOWS SHOPPING

By Ade Tauhid

Suatu pagi yang cerah, Maktri mengajak Paksu jalan-jalan ke mall. Sudah lama juga tidak ke Mall, sejak pandemi merebak bisa diitung sama jari deh, Maktri ke mall.

“Ngapain sih Mi, ke mall? Lagi Covid gini,” kata Paksu.

“Halan halan aja lo, Pi, window shopping gitu loh.”

“Beli jendela?” tanya Papi norak.

“Cuci mata ya, my dear, Papi, jelong jelong, ngeceng. Ngarti?” jelas Maktri gemes.

Emang sih kalau lihat di kamus window shopping itu artinya belanja jendela, tapi kalok nanya sama Mbah Google artinya “jelong jelong” alias jalan-jalan. Nah, terserah deh pemirsah. Mau percaya sama kamus apa sama Mbah Google?

“Ooo .. “
“Yuk, ah!”

Alhasil sampailah Paksu dan Maktri ke mall. Setelah jidat Paksu dan Maktri ditembak petugas dengan alat pengukur suhu dan tangan disemprot hand sanitizer. Mereka pun masuk.

Ternyata mall tidak sesepi perkiraan Maktri. Pandemi-pandemi gini masih banyak juga kok pengunjung mall. Meski semua orang taat protokol sih, dengan memakai masker.

Alhamdulillah sepertinya kota tempat Maktri tinggal imbas Covid 19 ini tidak seheboh kota lain. Maktri juga berdoa semoga saja Covid 19 ini cepat berlalu dari bumi kita. Bumi kita kembali sehat lagi. Aamiin.

Setelah capek berkeliling mall, Maktri dan Paksu mampir makan di cafe.
Tapi sebelum berbelok ke cafe, tak sengaja mata maktri melihat ada seorang bocah imut usianya sekitar tiga tahunan sedang duduk di troli sambil makan es krim. Meski agak berjauhan, tapi posisi anak itu menghadap Maktri, jadi Maktri bisa lihat jelas kalau anak itu lucu banget.
Sedangkan si ibu memunggunginya sambil sibuk memilih belanjaan.

Maktri itu orangnya lembut dan penyayang, makanya Maktri amat suka sekali dengan anak kecil, apalagi yang lucu seperti anak yang di troli itu.

Paksu sih, support support aja dengan kesukaan Maktri ini. Selama itu sukanya masih sama anak kecil, no problem! Yang penting bukan anak besar, apalagi sebesar Paksu. Halah! Ha-ha-ha.

Maktri jadi gemas dan pingin godain, dari kejauhan Maktri dadah-dadahin tu bocah sambil sesekali main cilukba juga.

“Ciluk, ba! Ciluk, ba!” Norak ya Maktri.


Anak itupun tertawa tawa senang melihat ke arah Maktri. Wajah mungilnya blepotan coklat .
Lucu deh!

Setiap melihat kearah Maktri anak itu langsung tertawa sambil menggoyang goyangkan kakinya sampai sampai trolinya, bunyi tuwing tuwing.

Maktri semakin gemas, lalu didekatinya anak kecil yang manis itu.

“Halo, Sayang. Minta dong es krimnya,” kata Maktri sambil memegang es krim yang dipegang anak itu.
Tapi alamak! Tidak disangka tiba-tiba anak itu berteriak dan menjerit dengan kerasnya.

“Mamaaaa huhuuu,” teriak anak itu kencang.


Maktri jadi kaget, sebagian orang-orang yang berdiri dekat situ juga kaget. Keras banget teriakannya. Sampai sampai semua pada ngeliatin Maktri.

Lah, lah, tong, tadi khan kita becanda, kok nangis, sih? Maktri jadi enggak enak dan jadi salah tingkah.

“Eh, jangan nangis, dong, ini es krimnya. Enggak jadi diminta deh … cup cup,” kata Maktri.

Bukannya diem si bocah makin mewek kenceng. Si ibu yang tadinya membelakangi mereka langsung balik badan.

“Eh Bu, apa-apan, nih. Jangan diambil dong es krim anak saya. Jadi nangis khan anak saya,” kata si ibu anak itu galak, sambil merampas es krim yang berada di tangan Maktri.

“Oh, enggak, saya cuma ….” Maktri jadi kikuk.

“Beli sendiri dong, Buk!” katanya lagi.

“Enggak, saya cuma … saya ….” Maktri enggak bisa omong, malu diye dilihatin orang sekampung eh se mall.

“Eh, jangan-jangan Ibu ini mau nyulik anak saya ya? Jangan-jangan Ibu ini terlibat sindikat penculikan anak ya?” kata si ibu itu galak bin judes

“Eh, enggak kok enggak ….” Maktri jadi mengkeret dan ngomongnya jadi gelagapan. Bingung diye!
Aduh, gimana, niih?

Tapi, bukan Maktri namanya kalau tertindas begitu tidak melawan. Kadung maluklah!

“Eh Bu, gue jitak lu, sembarangan aja nuduh orang. Emangnya gue ada tampang penculik apa?? Anak lu tadi lagi becanda sama gue. Dasar anak lu aja yang cengeng, tukang nangis. Jelek lagi! Gue cubit juga anak lu ni!” kata Maktri lebih galak. Tapi dalam hati.

Iya, dalam hati sih, karena pada kenyataannya Maktri hanya diam seribu basa, bengong, dan gak bisa omong. Dilihatin orang se-mall membuat Maktri hanya bisa berdiri kaku dan terpaku sambil gigitin kerudung.
Aih!
Rasanya maluk, tengsin, mokal campur aduk jadi satu. Maktri jadi pingin pipis eh nangis ding.
Oh, kasian Maktri.

Ah iya, tadi khan Maktri ke mall sama Paksu. Kok Paksu enggak ada?

“Papi, mana Papi? Mami lagi diginiin, Papi kok enggak nolongin Mami sih?”

Maktri celingukan matanya ke sana-kemari mencari Paksu.

Tiba tiba ….
“Sayang, bangun, Sayang. Jadi enggak ke mallnya?” Paksu menepuk-nepuk pipi Maktri lembut.

Maktri melek melotot.
Hah, masih di rumah nih? Belum di mall?
Jadi tadi Maktri cuma mimpi dong?

“Alhamdulillah. Untung cuma mimpi. Pait pait pait!” kata Maktri bersyukur dalam hati.

“Kenapa, Mi?”
“Enggak ….”
“Jadi ke mall, enggak?”
“Enggak.”
“Kenapa enggak?”
“Enggak.”

Iyalah, mending enggak aja deh, jawabannya, iya enggak? Daripada mimpi jadi kenyataan. Pait pait paiiit. He he he ….

Bandar Lampung, Jumat, 16 Oktober 2020

Nulisbareng/AdeTauhid

0Shares

2 comments

Tinggalkan Balasan