Mbak Ade dan anaknya

Bila Maktri Larang Bukan Berarti Tak SAYANG oleh Are Tauhid

Bila Maktri Larang Bukan Berarti Tak Sayang
(Kapan Corona akan berakhir)

By Ade Tauhid

Maktri melongok jam dinding, sudah pukul setengah lima sore, tapi kak Ais belum juga pulang. Padahal tadi janjinya mau pulang jam empat sore.

Tidak mungkin karena macet di jalan, sudah zona merah begini jalanan pasti sepi. Paling juga kak Ais lupa waktu, keasyikan ngobrol sama teman, begitu pikir maktri.

Maktri tadi memang mengizinkan kak Ais ke rumah Dinda temennya karena janjinya cuma mau main sebentar. Tapi ternyata lama.

Ah, daripada pinisirin mending Maktri wasap aja deh, kak Aisnya.

“Assalamualaikum, Sayang. Sudah di mana? Kok, belum nyampe?” Tulis Maktri.

Langsung direspon sama kak Ais.
“Sabar, Mi, sebentar lagi.”

“Tapi jangan lama-lama loh, Kak. Harusnya khan, kita di rumah aja, menjaga jarak sama orang lain. Enggak enak loh, Nak, sementara orang lain patuh sama himbauan, eh, kita sendiri enggak.”

“Iya!”
Setengah jam kemudian, kak Ais tiba di rumah dengan motornya.

“Bosen, Mi, di rumah. Enggak ada kegiatan,” kata kak Ais sambil menghentakkan badannya ke sofa.

“Assalamualaikum dulu, kek!” kata maktri.

“Salamlekum!” kata kak Ais ogah-ogahan.

“Kenapa, sih? Bantuin mikir aja, masak apa sore ini buat buka,” kata maktri sambil menoleh ke kak Ais yang caemnya kayak makri.

“Iih, Mamiiii …,” teriak kak Ais sebel.

“Opo tho, Nduk?”

“Kak Ais lagi kesel, Mami.” Kak Ais cemberut.
“Kak Ais ini udah lama enggak ke mana mana, enggak kerja. Malah makin lama makin males jadinya, mana badan makin melar.
Kerjanya cuma tidur, nonton, bantuin cuci piring, cuci baju, jemur baju, masak. Bosen, stres lama-lama Kakak, Mi, kalau begini terus! Kapan sih, Mi, kita kayak dulu, bebas, enggak takut mau ke mana mana, Kakak bisa kerja lagi, kapan sih, Miii … Kapan korona akan berakhir?”

Maktri menghela napas dalam sedalam lautan (wih!). Hhh!
Diusapnya punggung kak Ais yang sedang tersedu.
Ah, maktri jadi ikut sedih.
Iya, kapan covid 19 berlalu, kapan korona pergi? Siapa yang tahu? Kak Ais adalah salah satu orang dari sekian juta orang di dunia ini yang bete karena Covid tidak mau pergi.
Covid membuat Kak Ais dan semua orang tidak bisa bebas melakukan sesuatu.

“Kak Ais buka toko lagi ya, Mam,” kata kak Ais penuh harap.

“Oh, no!” kata maktri.

Oia, kak Ais anak maktri yang manis ini bukan pegawai kantoran, tapi punya bisnis nutrisi dan kebugaran, dan sebuah sanggar senam yang dikelola bersama seorang temannya.

Sejak Covid merebak, akhir Maret kemarin maktri menyuruh kak Ais menutup usahanya sementara.

“Ya, terus maksud Mami gimana, sih? Enggak cuma toko kak Ais aja loh, nanti yang buka. Banyak toko di sekitar itu juga buka-buka aja, kok, banyak yang jualan banyak yang dagang. Masalahnya di mana?
Iya, kak Ais tau ini lagi social distancing, tapi kan gimana kitanya jaga diri di luar aja mi. Yang penting kita pakai masker dan rajin cuci tangan, jangan kontak fisik, jaga jarak 1 meter dan di ruangan enggak boleh lebih 10 orang. Kak Ais boring lama-lama stres kak Ais, Mi …,” kata kak Ais makin tersedu.

“Tolonglah ngerti jadi orang tua. Jangan punya prinsip sendiri, open minded. Liat sekitar, liat lingkungan kita juga beda. Jangan sama-samain dengan yang Mami lihat di tivi. Daerah kita masih aman kok, Mi, ” lanjutnya lagi.

Maktri mengusap punggung kak Ais putri kesayangannya.

“Mami tau kak Ais bosen. Tapi bukan hanya kak Ais saja di dunia ini yang bosen karena situasi ini, Nak.
Pegawai, pedagang, pelajar, orang tua, anak anak, tua, muda semua juga sudah bosan. Sudah lama enggak interaksi langsung, sudah lama enggak jumpa teman, kangen.
Tapi Mami melarang Kakak bukan karena Mami enggak open minded dengan keadaan sekitar kita. Mami tau kok, masih banyak orang-orang di luaran sana yang enggak taat aturan. Lalu kalau kita ikut-ikutan bandel seperti mereka, kapan kita bisa memutus mata rantai Covid ini?”

“Tapi bosen, Mi ….”

“Mami tau, tapi kita hanya bosan sebentar tapi untuk kebebasan jangka panjang, percaya deh, sama Mami.
Kak Ais coba ambil hikmah dari virus ini. Orang-orang yang tadinya enggak dekat keluarga, enggak deket sama Tuhan-sekarang Allah dekatkan mereka dalam satu rumah.
Mereka yang tadinya jarang berdoa, karena virus ini mereka jadi sering menyebut nama Allah dan minta tolong supaya mereka dibebaskan lagi seperti sebelum ini.

Jadi, maksud Mami. Patuhi himbauan pemerintah, jangan lihat orang yang melanggar. Dari kita dulu.
Bosen memang, sih. Tapi cuma beberapa bulan aja, mungkin mudah²an hanya sampai bulan Juni kita terbebas dari virus seperti harapan pemerintah dan harapan kita semua.

Semua orang bosen, Nak. Tidak hanya kak Ais seorang. Tapi turuti saja dulu himbauan dan peraturan pemerintah. Cukuplah uang yang kita punya, sambil berdoa.

Banyak lho orang yang tidak seberuntung kak Ais tapi mereka punya rasa syukur yang besar pada Allah.
Mereka tak punya kerja, kepepet tidak punya uang, tapi mereka tidak bete.

Tapi mereka berkreasi dengan berdagang secara online. Apa tidak bisa usaha kak Ais dialihkan dengan cara online? Bisa khan, Kak? Biar bisa menghapus kebosanan gitu?” tanya Maktri.

“Bisa sih, Mi, tapi khan, afdolnya kita saling bertemu dan berinteraksi sama teman. Kerjaan kak Ais khan, menuntut demikian, Mi,” kata kak Ais.

“Iya belum bolehlah, Kak, sabar,” kata Maktri.

Maktri ketat pada anak-anak begini bukan karena Maktri panikan, bukan! Tapi maktri enggak mau dicap keluarga yang bandel, keluarga yang tidak taat aturan. Apa salahnya di rumah saja dahulu?

Maktri berpikir kalau ada sepuluh juta keluarga seperti keluarga maktri yang sadar akan bahayanya Covid 19, mungkin sudah membantu memutus mata rantai covid.

Tapi aturan tetaplah aturan, aturan itu dibuat untuk dilanggar. Haha!
Perbandingan orang yang patuh dan orang yang melanggar, lebih banyak orang yang melanggar. Kok, bisa bilang begitu, Mak?

Ini dibuktikan makin bertambahnya orang yang terpapar Covid di negara kita.
Padahal dulu, meskipun negara kita adalah negara transit. Tapi negara kita paling lama tidak terpapar Covid.

Karena masih banyak orang yang melanggar dari yang taat.
Ada kesempatan keluar lagi, petantang petenteng lagi. Dilarang mudik disepelekan, PSBB tak diindahkan. Akhirnya banyak daerah mulai kena zona kuning, lalu zona merah. Korban jiwa mencapai ribuan!
Coba deh, kita dulu pada nurut semua dengan himbauan pemerintah. Ikuti protokolnya, nah, sekarang kalau sudah begini, gimana coba?

Memang kata orang tua dulu, rambut boleh saja sama hitam tapi pikiran di kepala berbeda-beda.

Tapi itu khan, pepatah kuno. Mana bisa pepatahnya disamakan dengan jaman sekarang. Soalnya sekarang khan, banyak orang rambutnya sudah tidak hitam lagi, tapi ada yang coklat, putih, blonde, kuning .., bagaimana mau sama, coba? Makin mencolok aja bedanya tuh orang-orang .. hehe.

Maktri tau mungkin kak Ais tidak mempan dengan nasihat Maktri kali ini. Buktinya kak Ais masih saja menangis.
Tapi Maktri bukannya seorang ibu yang betul-betul tidak perduli dengan anaknya. Maktri justru perduli. Maktri justru sayang sama kak Ais makanya Maktri juga keukeuh bilang untuk tidak buka toko dulu. Jangan sekarang.

Taat saja dulu, deh, dari kita dulu.
Sebodoh sama yang tidak taat. Sama yang hanya mementingkan diri sendiri seperti buka toko, jualan makanan, di pinggir jalan, di pasar.

Di sebagian kota-kota besar bagi pelanggar PSBB ada yang diberi sangsi. Bila keluar tak memakai masker, mereka diciduk-ada disuruh push up, disuruh bersihin jalanan, dicabut KTP-nya. Khan, malu-maluin? Enggak Maktri bangetlah itu.

“Sayang, kalau kita ikut melanggar seperti orang² kebanyakan. Bisa jadi kita tinggal nunggu waktu untuk bener² terisolasi dan terkena zona merah. Dicidukin kayak orang orang di kota besar sana?” kata Maktri sambil tangannya bergerak seperti orang yang sedang menciduk air pakai gayung.
Kak Ais yang tadi sedih jadi geli.

“Saran Mami. Berdoalah. Mumpung bulan Ramadhan, di dalamnya ada satu malam yaitu malam Lailatul Qadar.
Siapa tau, doa-doa kita dikabulkan, siapa tau kita dapat petunjuk dan dipermudah semua urusan. Siap tau dengan doa kita Corona cepat berlalu. Dunia kita sehat lagi, kita bebas melakukan apapun lagi. Aamiin,” kata maktri sambil mengusap air mata kak Ais.

Kak Ais tersenyum meski dipaksakan. Kak Ais memang sudah besar, kak Ais sudah beranjak dewasa. Tapi terkadang seorang anak butuh nasihat, butuh kita ajak bicara dari hati. Agar mereka mengerti dan tidak ikut-ikutan “kemakan omongan teman”, yang membuat dia membangkang dan membahayakan dirinya sendiri.

Biarlah kak Ais menangis sekarang, Maktri yakin tangisan itu hanya sebentar. Karena begitu Corona pergi, kak Ais dan seluruh orang di dunia ini akan tersenyum bahagia penuh kemenangan.

Kak Ais beranjak dari duduknya dan mencium pipi Maktri.
“Makasih, Mi …,” katanya mungkin hatinya sudah sedikit tenang. Semoga.

Bandar Lampung, Rabu, 20 Mei 2020
Nulis bareng/Ade tauhid

0Shares

Tinggalkan Balasan