Goodbye

Bercerita tentang Kehilangan (Tiga Sosok Bapak yang Luar Biasa) oleh Emmy Herlina

Bercerita tentang Kehilangan (Tiga Sosok Bapak yang Luar Biasa)

Saya lagi mellow. Bukan sekadar pengaruh dari gejala lowmood yang datang setiap kali kehadiran “tamu bulanan”, namun juga karena rindu. Iya, saya sedang rindu, rindu sekali pada almarhum ayah saya.

Kehilangan dirinya delapan tahun lalu bagaikan sebuah harga yang harus dibayar untuk kehamilan saya. Karena baru saja  saya hendak bersuka hati dengan hadirnya amanah yang harus saya jaga sebaik-baiknya dalam rahim ini setelah lebih dari dua tahun pernikahan, namun tepat di saat itu juga saya harus kehilangan ayah saya untuk selama-lamanya.

Foto Buku Jangan Mudah Mengeluh
Sumber dokumen pribadi

Maka jadilah, kedua anak saya adalah cucu-cucu yang tak sempat melihat kakeknya. Sebuah kesedihan tak terkira bagi saya pribadi.

Lain cerita, beberapa hari lalu saya mendapatkan sebuah berita duka datang dari kampus. Seorang dosen yang kukenal tegas dan baik hatinya juga pergi untuk selama-lamanya. Betapa terkejutnya kami. Belum lagi dikarenakan adanya wabah, menjadikan kami tak bisa menjalani perkuliahan di kampus seperti biasanya, sehingga kami memang sudah lama tak bertemu dengan dosen dan seluruh teman kami.

Di antara sekian banyak, beliau adalah salah seorang dosen yang sangat saya kagumi. Di usia yang sudah tak bisa dibilang muda, namun kebijaksanaan dan jiwa kepemimpinannya begitu terpancar. Begitu mencerminkan materi perkuliahan yang diusungnya yaitu tentang Kepemimpinan. Kebetulan juga, dalam sebuah tugas kuliah, saya sempat mengambil tema mengenai kepemimpinan yang menurut saya begitu menarik. Dosen sama halnya guru, ibarat orang tua kedua, setelah orang tua kandung, atau bagi yang sudah menikah, bisa disebut juga sebagai orang tua ketiga, setelah orang tua kandung dan orang tua pasangan/mertua. Jasa mereka begitu mulia, berupa ilmu yang bermanfaat bagi seluruh muridnya, yang akan menjadi sebuah amal jariyah yang tak terputuskan.

Selamat jalan, Bapak dr. Zamahsyari Sahli, MKM. Mungkin di suatu kesempatan, Bapak bisa bertemu dengan ayah saya di sana, dua sosok cerdas yang luar biasa.

Selamat Jalan Dosenku
Sumber: Kampus Umitra

Berbicara tentang kehilangan sosok guru, saya jadi teringat juga pengalaman waktu masih sekolah dulu. Saya sempat merasakan kehilangan salah satu guru favorit saya, tepatnya ketika duduk di bangku SMP. Beliau adalah wali kelas yang saya kagumi karena kecerdasan dan kedisiplinannya. Saya masih ingat bagaimana kata-katanya menghibur saya yang turun peringkat saat itu, tanpa penghakiman yang biasanya saya dapatkan. Seorang guru yang bijak, meski telah puluhan tahun berpulang tak lantas kulupakan. Terima kasih Bapak Sunardi. Cerita tentang beliau juga sempat saya abadikan dalam sebuah buku antologi berjudul “Reminisensi Guru”.

Cover "Reminisensi Guru"
Sumber: dokumen pribadi

Pada akhirnya seperti kata Melly Goeslaw, “hidup hanyalah sebuah cerita, cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan.” (Cinta oleh Melly Goeslaw feat Kris Dayanti) Apalagi dengan adanya wabah yang sedang melanda di Indonesia ini, berita kehilangan hadir di mana-mana, membawa kesedihan di tengah suasana haru birunya lebaran.

Bahkan seandainya kehilangan itu terjadi beberapa hari, beberapa bulan, beberapa tahun sebelumnya, tidak serta merta menjadikan pulih seperti semula. Seperti masih ada lubang menganga dalam hati yang tak mampu tertutupi.

Perasaan kehilangan bukanlah tentang hal baru terjadi maupun sudah lama. Karena ketahuilah, tak peduli seberapa jauh jarak waktu yang terbentang, rasa kehilangan itu hadir untuk selamanya. Bagaimanapun Allah lebih sayang pada beliau-beliau. Saya yakin mereka sudah tenang di sana. Di sana pula tempat seluruh manusia akan berpulang.

Sayonara ….

Bandar Lampung, 1 Juni 2020

Baca juga https://parapecintaliterasi.com/ayah-lihatlah-lebaran-tahun-ini-oleh-emmy-herlina/

“Yang Terbaik Bagimu-Ayah” Sebuah Persembahan untuk Ayahku Tercinta

nulisbareng/EmmyHerlina

0Shares

3 comments

Tinggalkan Balasan